Posma Siahaan
Posma Siahaan internist

Bapaknya Matius Siahaan, Markus Siahaan dan Lukas Siahaan. Novel onlineku ada di https://posmasiahaan.blogspot.com/

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

"Dengan Perawat Marah-marah, Sama Dokter Dia Senyum..."

13 September 2018   19:14 Diperbarui: 14 September 2018   05:25 734 19 20
"Dengan Perawat Marah-marah, Sama Dokter Dia Senyum..."
Siap-siap kerja (dok.pri.)

"Tuh,kan. Kalau sudah ketemu dokter saja, pasien itu jadi lembut, memelas, senyum sesekali. Padahal sewaktu di depan waktu menunggu lama, perawat diomelin." Keluhan perawat poliklink yang saat itu mendampingi di poliklinik.

Padahal, demi membuat suasana menyenangkan dan sejuk, perawat poliklinik diharuskan mempersiapkan diri lebih rapih dan cantik dari tempat dinas lainnya, karena merupakan "pintu gerbang" utama rumah sakit selain bagian gawat darurat. Harus cantik, sedikit berdandan dan harum.

"Iya, memang pasien ke perawat ketusnya langsung, kalau ke dokter mereka lebih lembut karena mengharapkan pertolongan, tetapi kalau ada kesalahan diagnosis maupun tindakan dapat sampai ke tuntutan malpraktek,lho." Jelas saya sedikit menghibur. 

Kesan para perawat memang pasien sering berbeda sekali sikapnya kepada perawat dan dokter saat di poliklinik, padahal sebenarnya tidak semua pasien, yang merasa "orang penting" sama saja, dokter-pun dibentak-bentak dan diancam kalau tidak cocok obatnya.

Saya sih kalau bertemu pasien seperti ini berusaha menjelaskan penyakitnya dan efek obatnya secermat mungkin, tetapi kalau masih "ditakut-takuti" kalau obatnya tidak cocok saya akan "ditindaklanjuti", maka saya memilih pasien itu batal saja dengan saya, pilih dokter lain saja.

Bolehkah? Boleh, kalau dokter merasa terancam, tidak dalam kondisi psikologis nyaman terhadap seorang pasien maka berhak tidak mengambil kasus tersebut.

Hubungan "transaksional" antara dokter dan pasien memang tidak seperti hubungan kerja jasa yang seimbang antara pedagang-pembeli atau penyanyi dan penontonnya. Ada unsur "sangat menyerahkan diri" si pasien pada dokter yang diharapkan menyelamatkan fisik atau jiwa si pasien. Sementara dokter tidak menjaminkan hasil tetapi hanya "upaya maksimal" yang sulit diukur.

Mungkin ini yang membuat pasien dan keluarganya lebih ramah kepada dokter daripada kepada perawat padahal kalau di perawatan inap, pasien tergantung 24 jam dengan perawat, sementara dengan dokter hanya bertemu beberapa menit atau jam dan kalau gawat baru dihampiri kembali.

Mungkin jas dokter juga ada pengaruhnya. Kalau saya pakai pakai jas putih itu memang terasa pasien lebih segan, termasuk keluarga dan teman saya, tetapi kalau saya pakai kaus oblong, maka mereka lebih santai.

Apakah perawat di rumah sakit sebaiknya memakai jas juga? Mungkin dapat dicoba, karena belum ada penelitiannya.

Dari FB Kompal
Dari FB Kompal