Posma Siahaan
Posma Siahaan internist

Bapaknya Matius Siahaan, Markus Siahaan dan Lukas Siahaan.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Perlunya Sosialisasi Revisi Sumpah Dokter Terbaru di Daerah Konflik

6 Juni 2018   06:00 Diperbarui: 6 Juni 2018   18:44 2039 18 8
Perlunya Sosialisasi Revisi Sumpah Dokter Terbaru di Daerah Konflik
dokumentasi pribadi

Bulan Desember 2017 lalu dalam konferensi World Medical Association di Jenewa, sumpah dokter yang diambil dari sumpah Hipokrates 2500 tahun yang lalu diubah beberapa point. 

Perubahan tersebut telah disesuaikan dengan perkembangan zaman saat ini, karena tidak semua negara menjadikannya sumpah itu sebagai dasar hukum formal. Ada yang hanya berupa kode etik atau malah tidak memakainya sama sekali, tetapi sejak tahun 1948 sudah menjadi kesepakatan semua dokter di dunia untuk menjadi acuan menjalankan profesi dan diucapkan saat dilantik menjadi dokter.

Dokter Sam Hazledine dari Queenstown, New Zealand tahun lalu memulai sebuah petisi yang menginginkan beberapa revisi dari sumpah dokter itu dan akhirnya di sepakati beberapa amandemen, yaitu:

  1. menghargai otonomi dan martabat pasien;
  2. membagikan wawasan kedokteran yang bermanfaat untuk pasien dan kemajuan bidang kesehatan;
  3. menjaga kesehatan, kesejahteraan dan kemampuan pribadi agar dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang maksimal.

Point ketiga menjadi penting, karena selama ini ada kesan tenaga medis harus seperti lilin yang rela meleleh demi menerangi sekitarnya atau rela sakit, tidak berdaya demi menolong sesama yang membutuhkannya. Di pembaharuan sumpah ini disarankan bahwa dokter tetap memperhatikan kesehatannya, baik jasmani dan rohani sembari menolong orang yang membutuhkan.

Ini mungkin dipicu dengan adanya beberapa dokter yang meninggal karena diduga bekerja melebihi kemampuan fisiknya dan kurang istirahat akibat kekurangan tenaga lain yang menggantikan di institusinya.

Selain itu, di daerah konflik seperti daerah perang, kerusuhan atau bencana alam, maka dokter yang bertugas disana pun seharusnya tetap menjaga kesehatan dan keselamatan pribadi sebelum menolong korban atau pasien penyakit biasa. Ini penting, karena kalau si dokter sakit atau meninggal dunia saat menjalankan tugasnya, maka korban lain akan sulit mendapat pertolongan.

Ini tentu berbeda antara dokter sipil dan dokter militer. Di bidang dokter militer, mereka punya protokol tersendiri dan mungkin sudah menguasai cara-cara mempertahankan diri dengan latihan yang cukup semasa pendidikannya, sehingga sumpah dokternya mungkin akan berbeda penerapannya dibandingkan dokter sipil.

Sebagai contoh, misalnya saat perang, banyak tentara pihak si dokter militer terluka dan perlu dia tolong, tetapi disaat bersamaan ada satu tentara musuh menyerbu dalam jarak dekat, kalau si dokter ini menerapkan sumpah dokter yang ada pada amandemen tahun 2017, maka dia akan lari menyelamatkan diri atau dia akan angkat tangan kepada si tentara musuh karena sebagai seorang dokter tidak boleh diserang. 

Tetapi kalau dia merasa dirinya juga tentara, maka dia pasti akan angkat senjata dan melawan si tentara musuh, padahal secara sumpah kedokteran seharusnya dia menghargai setiap kehidupan dan jangan sampai menyakitinya apalagi membunuh.

Biasanya, perawat sebagai mitra dokter juga mengikuti ketentuan yang sama, maka konsep menjaga kesehatan dan keselamatan diri sendiri selain menyelamatkan pasien atau korban harus tetap diperhatikan. Bila di daerah konflik, maka pemberian bantuan sebaiknya disaat sudah aman, kecuali mereka memang perawat militer yang punya prosedur kerja berbeda dari perawat sipil.

Ini saya anggap penting, karena dokter dan perawat mendidiknya sulit, kalau harus banyak yang menjadi korban di tempat konflik akibat prinsip menjadi lilin, suatu saat profesi ini di daerah itu habis, sementara orang luar belum tentu mau menolong di daerah konflik tersebut yang medis dan paramedisnya ditembaki, jadi kepada siapa pasien-pasien atau korban disana mendapat pertolongan?

Sumber : disini

dari FB Kompal
dari FB Kompal