Mohon tunggu...
Petrus Kanisius
Petrus Kanisius Mohon Tunggu... Belajar Menulis

Belajar menulis, suka membaca dan jalan-jalan ke hutan

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Ada Asap Pasti Ada Api, Selalu Berulang dan Tak Kunjung Usai

27 Agustus 2019   12:43 Diperbarui: 27 Agustus 2019   13:06 0 2 1 Mohon Tunggu...
Ada Asap Pasti Ada Api, Selalu Berulang dan Tak Kunjung Usai
Asap dari Karhutla yang terjadi di Matan Hilir Selatan, Ketapang Kalbar. Foto diambil beberapa hari lalu. Foto dok : Rizal/Yayasan Palung

Ada Asap Pasti Ada Api, "Kita dan Masalah Asap yang Selalu Berulang dan Tak Kunjung Usai"

Kita dan masalah asap yang selalu berulang menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan saat ini. Akan tetapi, kita dan persoalan asap pun  menjadi bagian dari obyek dan tak kunjung usai. Ada asap pasti ada yang membakar.

Beberapa hari lalu hingga kemarin, helikopter hilir mudik mengitari langit yang sedikit mendung. Tujuan mereka tak lain untuk memadamkan beberapa titik api yang ada di beberapa titik karhutla yang ada di Ketapang.

Sebelumnya, tititk api terpantau di beberapa wilayah. seperti di Matan Hilir Selatan, Sungai Melayu Rayak, Kendawangan dan Tumbang Titi terpantau 44 titik api, berdasarkan data BMKG, dua hari lalu. Titik api ini jauh berkurang dibandingkan beberapa hari lalu, tepatnya seminggu lalu yang menyebutkan titik api di Ketapang sebanyak 60 titik api. Berkurangnya jumlah titik api dikarenakan oleh terjadinya hujan beberapa hari ini.

Kita selalu menghisap asap setiap musim kemarau tiba, ini karena sering kali terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Kita dan asap seolah sesuatu yang tak terpisahkan bahkan cenderung berulang dan tak kunjung usai sebagai tanda nyata bahwa kita sebagai penerima dampak langsung dan tak langsung.

"Kalimantan terbakar. Kami terbangun setiap pagi oleh helikopter membawa air, hujan abu, dan ada asap di udara menyebabkan banyak staf saya harus pulang karena sakit karena asap", ujar Victoria Gehrke selaku Direktur Yayasan Palung.

Ia pun prihatin dengan terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah Ketapang dan Kayong Utara. Lebih khusus di wilayah hutan desa, beberapa titik api membakar lahan dan mengeringkan lahan pertanian masyarakat dan mengeringnya lahan gambut semakin memperparah terjadinya kebakaran hutan dan lahan.  Semoga kabut asap segera berakhir dan berharap hujan segera turun, ujar Victoria lagi.

Terjadinya kebakaran hutan dan lahan menjadi tanda-tanda nyata bahwa kita dan persoalan asap seolah berpadu menjadi satu namun memberi dampak yang tidak baik bagi lingkungan sekitar atau diri kita (dampak buruk dari setiap terjadinya kebakaran hutan dan lahan). Dampak dari terjadinya kebakaran itulah yang sering kali berpengaruh kepada kita. Dari (di/ter)bakarnya hutan itulah timbul asap.

Sakit penyakit yang diderita semisalnya ispa dan batuk flu itu sudah pasti. Selain itu, juga asap mengganggu aktivitas sehari-hari dan aktivitas lainnya, tak terkecuali penerbangan dan aktivitas anak sekolah yang acap kali diliburkan ketika musim kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi.

Tak hanya asap dan sakit penyakit yang dimbulkan dari adanya kebakaran hutan dan lahan. ragam tumbuhan dan satwa bisa saja menjadi korban dari ganasnya api (karhutla). Seperti misalnya beberapa hari lalu, petugas pemadam kebakaran menemukan seekor trenggiling  (Manis javanica) yang terpanggang di lahan yang terbakar di Matan Hilir Selatan, Ketapang.

Trenggiling yang ditemukan mati di lokasi karhutla. Foto dok. Brigadir Suhanadi
Trenggiling yang ditemukan mati di lokasi karhutla. Foto dok. Brigadir Suhanadi
Kita dan asap dua hal yang tidak bisa disangkal sekaligus menakutkan. Hutan hujan yang kaya akan keanekaragaman hayati menjadi sulit untuk dipertahankan sekaligus menjadi dasar kuat bagaimana mempertahannnya sebagai keberlanjutan nafas semua makhluk hidup. Dua hal yang saling bertentangan tetapi terjadi. Ini fenomena, pada satu sisi, hutan perlu diselamatkan, tetapi disisi lain hutan selalu menjadi korban karena (di/ter)bakar secara berulang dan tak kunjung usai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2