Mohon tunggu...
Petrus Kanisius
Petrus Kanisius Mohon Tunggu... Belajar Menulis

Belajar menulis, suka membaca dan jalan-jalan ke hutan

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

Mengapa Satwa, Hutan dan Manusia Sama-sama Penting dalam Keharmonisan Kehidupan?

13 Mei 2016   17:15 Diperbarui: 14 Mei 2016   11:19 0 2 1 Mohon Tunggu...
Mengapa Satwa, Hutan dan Manusia Sama-sama Penting dalam Keharmonisan Kehidupan?
ILUSTRASI - Pengunjung memberi makan unta di Taman Margasatwa Ragunan. Kompas/Dhoni Setiawan

Semua makhluk hidup menjadi satu kesatuan yang sejatinya tidak terpisahkan antara satu dengan yang lainnya (harmonis), namun saat ini apakah masih demikian adanya?.

Beragam jenis satwa yang mendiami hutan seperti orangutan, bekantan, kelasi, burung enggang, kelasi dan kelempiau merupakan jenis satwa endemik yang kerap kali hidup berdampingan satu sama lainnya. Misalnya, orangutan yang mendiami wilayah Kalimantan kecuali Kalimantan Selatan sejak dahulu dikenal sebagai penyebar biji-bijian. 

Demikian juga halnya orangutan yang ada di Sumatera. Seperti bekantan, kelasi, burung enggang, kelasi dan kelempiau serta jenis satwa lainnya seperti Gajah dan harimau di Sumatera, Cendrawasih dan Papua serta banyak lagi ragam satwa yang berada di wilayah lainnya di Indonesia begitu penting bagi kehidupan, lebih dari itu keberlanjutan tatanan kehidupan semua nafas segala bernyawa di planet ini.

Bayangkan saja, bila tidak ada satwa yang menyebar biji-bijian buah hutan dari sisa mereka makan (kotoran satwa) yang selanjutnya tumbuh menjadi tajuk-tajuk pepohonan. Mampukah kita menanam berjuta-juta hektar hutan?. Memang manusia bisa menanam, tetapi apakah mampu atau sanggup rutin setiap saat?. Mungkin jawabannya kita tidak mampu rutin setiap saat seperti satwa dalam hal konservasi hutan.

Nah, bagaimana jika hutan itu tidak ada (tinggal tersisa sedikit) atau dalam artiaan lain diambang terkikis habis? Tidak sedikit fakta yang membukakan mata. Lihat betapa banjir, banjir bandang bersama tanah longsor kerap kali menghampiri. Bumi menghangat melebihi batas normal, manusia pun gerah sepanjang waktu saat ini.

Dari hal yang terjadi tersebut pula, sudah barang tentu, satwa dan manusia menjadi satu kesatuan yang sangat penting (tidak terpisahkan) satu dengan yang lainnya. Bagaimana bila satwa, hutan dan manusia salah satunya rusak atau sakit bahkan hilang?.

Anak orangutan yang dipelihara oleh masyarakat di Kec. Manis Mata, Ketapang pada januari 2016. Foto dok. Yayasan Palung
Anak orangutan yang dipelihara oleh masyarakat di Kec. Manis Mata, Ketapang pada januari 2016. Foto dok. Yayasan Palung
Keterancaman dari satwa, manusia dan hutan sudah semakin nyata terjadi. Semakin berkurangnya ruang, jelajah dan habitat tempat mereka berdiam sama hal dengan manusia. Satwa kian terancam dengan ulah pemburu yang tidak segan memburu dan menghabisi nyawa satwa endemik yang mengatasnamakan kepentingan perut. 

Gajah tidak berdosa diambil gadingnya, paruh enggang dan sisik trenggiling juga demikian adanya. Nasib harimau juga begitu tragis diburu untuk diambil kulitnya. Orangutan, bekantan, beruang madu, ayam hutan, kelempiau dan kelasi juga sudah semakin terjepit dihabitat hidupnya. 

Adanya perdagangan gelap menjadi salah satu sebab akibat dari semua ini. Kini, keberadaan satwa sudah semakin langka, langka karena satwa tidak banyak lagi yang tersisa (diambang kepunahan).

Demikian juga lahan nan luas berupa hutan kian tergadai. Mega keanekaragaman tumbuh-tumbuhan semakin hilang tidak berbekas. Petani sudah semakin sulit mencari lahan di pegunungan, tempat mereka bercocok tanam. Musim sudah semakin sulit diprediksi, petani sulit mencapai target walau di sawah. Bila kemarau tiba, kering kerontang mendera. Bila musim hujan, padi dan tanaman sayur mayur terendam. 

Ini terjadi dan terus melanda ketika para petani menggantungkan hidup mereka dari hasil panen mereka. Hal yang sama pula terjadi pada para nelayan, cuaca tidak menentu berimbas pada daya tangkap dan hasil mereka. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2