Subhan Riyadi
Subhan Riyadi Aparatur Sipil Negara

Stop! Rasialisme anti minoritas apa pun harus tak terjadi lagi di Indonesia. Sungguh suatu aib yang memalukan. Dalam lebih setengah abad dan ber-Pancasila, bisa terjadi kebiadaban ini kalau bukan karena hipokrisi pada kekuasaan (Pramoedya Ananta Toer).

Selanjutnya

Tutup

Atletik Pilihan

Keterbatasan Fisik 3 Sahabat Ini Buahkan Medali

14 Oktober 2018   08:35 Diperbarui: 14 Oktober 2018   08:50 2362 8 0

Keterbatasan fisik tiga sahabat ini tak menghalangi Putri, Ni Made  dan Endang berbuat sesuatu bagi bangsa dan negara. Perjuangan ketiga tak sia-sia, beruntun mereka menorehkan prestasi berupa medali.

Persahabatkan Putri Aulia (24), Ni Made Ariani Putri (22), dan Endang Sari Sitorus (26), mengingatkan saya akan film Three Musketeers. Film tersebut menceritakan tiga sahabat heroik memberantas kedhzaliman Pemerintahan dijamannya. 

Jargon paling populer three musketers sebelum menumpas kejahatan adalah 'all for one, one far all' jika tidak salah artinya "satu untuk semua, semua untuk satu". Bedanya film ini dengan atlit paralimpik ini, mereka berbadan normal, bersenjatakan anggar dan menunggangi kuda. Sementara tiga sahabat atlik paralimpik ini penyandang disabilitas tanpa batas.

Semangat ini yang membuat ketiga srikandi difabel membuktikan sesuatu hal yang rasanya mustahil menjadi kenyataan, dengan menguasai podium atletik Paralimpiade Asian Para Games 2018 nomor 100 meter klasifikasi T13 putri Rabu (10/10/2018).

Ketiganya menguasai podium atletik dengan mendulang emas, perak dan perunggu. Putri meraih emas, sedangkan, Ariani meraih medali perak, dan Endang meraih perunggu. Ketiga pelari putri dengan keterbatasan penglihatan itu bahkan mematahkan dominasi pelari Asian Para Games milik China, Zhu Lin yang diciptakan pasa Incheon tahun 2014.

Raihan prestasi ini membuat Putri, Ariani, dan Endang tidak berhenti tersenyum sejenak melewati garis finish. Mereka merayakan kemenangan dengan berlari sambil berangkulan sembari membentangkan bendera merah putih, aksi nasionalisme ini membuat penonton di Stadion Gelora Utama Bung Karno, Senayan, Jakarta, bersorak-sorai turut merayakan capaian positif ini. Ketiganya tidak menyangka bakal naik podium mengharumkan Indonesia Raya di negeri sendiri, karena target mereka semula di nomor itu adalah perak.

Sejak dari garis start, ketiganya berlari kencang dan melupakan semua kekurangannya yang membebaninya. Alhasil, Tuhan berkehendak lain. Dibalik kekurangangan fisiknya, mereka membuktikan kekurangan tersebut membuahkan keberhasilan yang membanggakan bangsa dan negara.

Putri, Endang, dan Ariani semakin meyakini, saling memberi motivasi saat berlatih bersama. Mereka saling menguatkan dan menanamkan kepercayaan diri. Kini mereka sama-sama bertekad untuk mengukir prestasi lebih tinggi pada Paralimpiade Tokyo 2020.

Sukses ketiga atlet puteri tersebut turut membantu kontingen tuan rumah melampaui target 18 medali emas yang ditetapkan. Hingga Rabu, Indonesia telah mengumpulkan 23 emas, 29 perak, dan 34 perunggu, serta berada di posisi keenam. Jumlah ini masih memungkinkan bertambah.

Satu set medali dari tiga atlet ini juga menjadikan atletik penyumbang medali terbanyak sementara kontingen Indonesia dengan 6 emas, 9 perak, dan 7 perunggu. Disusul dengan catur yang pada Rabu menyambet enam dari 12 emas yang diperebutkan.

Sukses tiga sahabat ini sontak menggembirakan seluruh bangsa Indonesia termasuk, orang nomor satu di negeri ini, Presiden Joko Widodo.

Keterbatasan tak membuat tiga sahabat ini patah arang, justru tiga srikandi ini menjawab kekurangan tersebut dengan prestasi, berupa medali.

Lagu Indonesia Raya pun berkumandang mengiringi kibaran bendera merah putih di pangkuan ibu pertiwi.