Mohon tunggu...
Pinnn
Pinnn Mohon Tunggu... mahasiswa

Fine

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Kondisi Manajemen Perbankan pada Masa Covid-19

11 Mei 2021   21:46 Diperbarui: 11 Mei 2021   21:57 33 0 0 Mohon Tunggu...

Pandemi COVID-19 merupakan sebuah krisis kesehatan global. Perusahaan perusahaan perlu menanggapi krisis ini secara tepat. Setiap tataran pada struktur perusahaan memiliki perannya masing-masing dalam menanggapi dan memastikan bahwa praktik terbaik diambil dalam menghadapi pandemi ini.Virus corona atau covid-19 telah menyebar luas secara global hampir ke seluruh negara sejak desember 2019 dan sudah menyebabkan berbagai kasus orang terkonfirmasi virus dan kematian yang terus bertambah di seluruh dunia. 

Dekade ini industri perbankan Indonesia dihadapkan dengan risiko yang semakin kompleks akibat kegiatan usaha bank yang beragam mengalami perkembangan pesat sehingga mewajibkan bank untuk meningkatkan kebutuhan akan penerapan manajemen risiko untuk meminimalisasi risiko yang terkait dengan kegiatan usaha perbankan

Kondisi ini membuat perbankan menghadapi tiga risiko besar yakni kredit macet, risiko pasar, dan risiko likuiditas
Covid-19 mengakibatkan gangguan di sisi permintaan dan supply. Maraknya jumlah PHK, turunnya pendapatan membuat konsumsi jadi menurun. Begitu juga di sisi pasokan, penghentian aktivitas bisnis, gangguan pada supply chain dan kerugian karena penurunan penjualan membuat perusahaan mau tak mau melakukan efisiensi

Menyikapi hal ini, perbankan perlu terus berbenah, berusaha untuk tidak panik. Saat ini adalah masa yang penuh tantangan, dan ketahanan perbankan dalam menghadapi perubahan sedang diuji. Apabila berhasil melewati tantangan ini, bukan tak mungkin kita dapat menyelesaikan tantangan lainnya dengan baik.

 Salah satu komponen penting yang harus dilakukan adalah manajemen risiko secara berkelanjutan, termasuk risiko kredit yang saat ini menjadi hal yang perlu mendapat perhatian khusus. Risiko yang dikelola dengan baik dapat membantu perbankan untuk lebih 'tahan banting' dan menjaga performanya ,Dalam menghadapi dampak dari covid-19 yang membuat perekonomian nasional menghadapi pertumbuhan negatif cenderung lebih kuat mendorong menuju jurang resesi. Sehingga   sejumlah perbankan terpaksa dan telah mengambil kebijakang (write off) Tindakan penghapusan buku ini seiring dengan kenaikan NPL yang naik signifikan. Dilakukan oleh perbankan biasanya untuk menjaga rasio NPL. Bila kredit bermasalah dihapus di neraca keuangan, secara otomatis NPL akan turun dan mempengaruhi berkurangnya pendapatan yang menggerus laba dengan konsekuensi menurunnya modal bank. Sebagaimana yang dihadapi BCA yang mencatatkan NPL sebesar 2,1% per Juni 2020, naik signifikan dibandingkan dengan Juni 2019 yang masih sebesar 1,4%. Sebagaimana informasi keputusan penghapusan buku juga dilakukan oleh PT Bank CIMB NIaga, diperkirakan ada kecenderungan semua buku 4 mengalami kondisi yang sama apalagi buku 3,2,1 untuk memperbaiki posisi NPL nya cenderung akan menempuh kebijakan yang sama melakukan penghapusan buku mengingat sektor UMKM yang banyak menjadi obyek pembiayaan buku 1,2 dan 3 dan paling terdampak covid-19. 

dilakukan untuk kredit yang sudah masuk katagori macet dalam jangka waktu lama.Dalam situasi wabah covid-19 belum tertuntaskan sebagai bank tetap harus mengambil sikap waspada professional dengan memegang teguh prinsip kehati hatian dengan memperkuat dan mengatisipasi risk profile dengan baik, 

Guna menghadapi dampak pelemahan sektor jasa keuangan akibat pandemi virus covid-19, OJK mendapat wewenang baru yang dapat memaksa bank untuk melakukan merger.

SUMBER: infobanknews

VIDEO PILIHAN