Pical Gadi
Pical Gadi karyawan swasta

People Empowerment Activist | Phlegmatis-Damai| twitter: @picalg | picalg.blogspot.com | planet-fiksi.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Sosial Artikel Utama

Paus Fransiskus Bicara tentang Berita Palsu

15 Mei 2018   21:17 Diperbarui: 16 Mei 2018   17:54 1997 20 8
Paus Fransiskus Bicara tentang Berita Palsu
Foto: leaside.info

Pada tanggal 13 Mei 2018 yang lalu, Gereja Katolik memperingati hari Komunikasi Sosial sedunia yang ke-52. Untuk membagikan pesannya, Paus Fransiskus mengeluarkan Surat Apostolik bertajuk: Kebenaran akan Memerdekakan Kamu: Berita Palsu dan Jurnalisme Perdamaian. 

Walaupun ditujukan untuk umat Katolik, pesan yang disampaikan sangat universal. Oleh Karena itu perkenankan saya mengutip beberapa bagian dari pesan tersebut yang saya anggap penting untuk kita refleksikan bersama.

Bahaya Berita Palsu

Pada bagian awal surat apostoliknya, Paus Fransiskus mendefinisikan filosofi komunikasi yang telah turut membangun peradaban manusia menggunakan kisah penciptaan manusia pertama pada kitab suci. 

Komunikasi pada dasarnya memiliki tujuan yang mulia yaitu sebagai sarana untuk mencari dan membagikan kebenaran serta kebaikan bagi manusia sebagai pribadi maupun sebagai komunitas.

Namun komunikasi juga memiliki sifat bawaan yaitu kemampuannya memelintir kebenaran jika disalahgunakan. Paus Fransiskus menggunakan ilustrasi manusia pertama Adam dan Hawa yang jatuh ke dalam dosa akibat ulah si ularlicik yang pandai memelintir kebenaran. 

Sifat negatif komunikasi ini dibahas secara mendalam pada bagian surat berikutnya yaitu keprihatinan tentang peredaran berita palsu seiring perkembangan teknologi dan digitalisasi dunia komunikasi.

Paus Fransiskus mengecam berita palsu yang digulirkan untuk memuluskan kepentingan-kepentingan tertentu (politik, ekonomi, ideologi dan lain-lain) tanpa peduli dampak yang ditimbulkannya pada masyarakat seperti kebencian dan konflik. Oleh karena itu Paus Fransiskus mengajak setiap orang untuk mengenali dan menangkal peredaran berita palsu.

Selain melalui edukasi, peredaran berita palsu juga dapat ditekan jika setiap orang mawas diri dalam menyikapi dan bereaksi terhadap informasi yang diterimanya. Kadang kita membagikan informasi palsu hanya karena tidak dapat menahan godaan atau pemuasan terhadap kepentingan diri sendiri. Ini sama saja dengan menipu diri sendiri.

Untuk menjelaskan bahaya menipu diri sendiri ini, Paus Fransiskus mengutip tulisan Dostoevsky, seorang Sastrawan Rusia: Orang yang terbiasa memercayai tipuannya sendiri lama kelamaan akan sampai pada suatu titik dimana mereka tidak dapat lagi mengenal kebenaran dalam diri sendiri atau di sekitar mereka. 

Dan dengan demikian mereka kehilangan rasa hormat terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain. Dan ketika mereka tidak lagi memiliki rasa hormat kepada diri sendiri, mereka akan berhenti mencintai.

Dan kita tahu bersama bagaimana berbahayanya orang yang tidak memiliki rasa cinta lagi. Orang seperti ini dapat melakukan kejahatan apapun tanpa merasa berdosa.

Pesan Aktual

Pesan apostolik ini ditulis pada bulan bulan Januari 2018, namun sangat relevan dengan keadaan negara dan bangsa kita, khususnya kondisi beberapa hari terakhir ini. Beberapa hari ini, ketenangan kita kembali terusik oleh aksi-aksi bom bunuh diri yang telah merenggut nyawa puluhan orang. 

Sayangnya, alih-alih berempati, sebagian orang justru menjadikan musibah ini sebagai panggung untuk menebar sensasi. Sebagian orang memelintir musibah ini menjadi komoditi politik demi kepentingan pribadi atau kelompoknya saja.

Dalam hal ini, kita belum mampu benar-benar menjadikan komunikasi sosial sebagai sarana untuk menebarkan kebaikan dan kebenaran. Kalaupun kebenaran belum benar-benar tersingkap, paling tidak kita tidak menjadi bagian dari orang-orang yang memelintir kebenaran untuk kepentingan-kepentingan sesaat saja.

Simaklah pesan Paus Fransiskus berikut, "...penangkal terbaik melawan kebohongan bukan strategi, melainkan masyarakat: masyarakat yang tidak serakah tetapi bersedia mendengarkan, masyarakat yang berikhtiar melakukan dialog tulus agar kebenaran tersingkap, masyarakat yang tertarik oleh kebaikan dan bertanggungjawab atas cara bagaimana memanfaatkan bahasa (media komunikasi)."

Jika dijabarkan ke dalam bahasa yang lebih sederhana dan diaktualisasikan dalam kondisi bangsa kita hari ini, pesan tersebut berarti masing-masing dari kita (sebagai masyarakat) memiliki peran untuk menangkal potensi-potensi konflik, baik vertikal maupun horizontal akibat ulah dan propaganda teroris pada media. Kuncinya setiap orang harus berorientasi pada kebaikan dan melakukan dialog yang tulus melalui media komunikasi.

Jurnalisme Perdamaian

Oleh karena itu, tanggung jawab yang besar berada di pundak para awak media, produsen berita, blogger dan setiap orang yang bergiat dalam bidang jurnalisme. Di dunia yang serba cepat saat ini, kecepatan informasi menjadi sebuah tuntutan. 

Namun mereka yang bergelut dengan informasi mesti menyadari, saat ini informasi memiliki kekuatan membentuk seseorang dan kehidupannya. Jadi untuk memberi nilai pada informasi, dibutuhkan bukan hanya kecepatan, tetapi juga keakuratan dan kebaikan bagi penerimanya.

Akhirnya, Paus Fransiskus pun mengajak semua orang untuk memajukan jurnalisme perdamaian. Jurnalisme perdamaian tidak dimaksudkan untuk mengangkat tema yang "manis-manis" saja. 

Justru jurnalisme perdamaian adalah jurnalisme yang jujur dan menentang kepalsuan atau berita sensasional yang hampa. Jurnalisme perdamaian melayani semua orang, terutama mereka yang tidak mampu bersuara. 

Jurnalisme perdamaian tidak hanya berhenti pada breaking news, melainkan menelisik hal-hal yang mendasari konflik guna memberi "pencerahan" terus menerus kepada masyarakat untuk membangun tatanan kehidupan yang lebih baik.

Mudah-mudahan beberapa refleksi yang disarikan dari pesan apostolik Paus Fransiskus dalam rangka hari Komunikasi Sosial sedunia ini dapat membawa pencerahan bagi kita sekalian. Untuk membaca pesan selengkapnya silahkan membuka tautan berikut: mirifica.net.

 Salam Damai (PG)