Aam Permana S
Aam Permana S Karyawan Swasta

Menulis, jalan-jalan, merekam kejadian dan nonton sama istri. Mengalir, semuanya mengalir saja; patanjala

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

PDIP Memang Wajar Diunggulkan Menang Pemilu

14 September 2018   10:17 Diperbarui: 14 September 2018   10:53 299 0 0
PDIP Memang Wajar Diunggulkan Menang Pemilu
Muarar Sirait/dokpri

Berbagai lembaga survey di Tanah Air sepertinya sepakat untuk menempatkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di posisi teratas partai yang akan digjaya dalam Pemilu 2019. Sementara di posisi kedua dan ketiga, bergantian antara Gerindra dan Partai Golkar.

Terus terang, beberapa tahun lalu, saya kerap bingung mencermati hasil survey yang selalu menempatkan PDIP di posisi teratas. Selain bingung, saya bahkan sempat berfikiran negatif terhadap lembaga survey tersebut. Jangan-jangan pesanan, jangan-jangan permainan. Begitulah  fikiran saya. Wajar. Karena saya ketika itu tidak memiliki alasan kuat untuk membenarkan hasil survey tadi.

Namun belakangan, saya memiliki alasan cukup kuat untuk menyetujui atau membenarkan hasil survey tentang partai berlambang banteng bermoncong putih itu. Maka, fikiran negatif itu pun sirna sudah. Hehehe.

Apa yang menyebabkan saya menyetujui hasil survey mengenai PDIP? Salahsatunya karena sejumlah anggota legislatifnya memiliki kemampuan menangkap peluang untuk  membesarkan partainya, selain membesarkan sosoknya secara pribadi kepada rakyat, serta bukan hanya kepada kader dan simpatisan partainya saja.  Contoh nyata, ada pada politisi Muarar Sirait yang bisa masuk Senayan dari wilayah Sumedang, Majalengka dan Subang (SMS), Jawa Barat.  

Begini penjelasannya.

Ketika mengetahui bahwa wilayah SMS kaya akan seni budaya dan  penggerak seni budayanya membutuhkan ruang untuk aktulisasi jiwa seninya, Ara muncul dengan pendekatan seni budaya. Ia datangi kantung-kantung seni budaya di SMS. Tokohnya ia ajak diskusi dan ngobrol soal seni budaya dan pengembangannya, bukan ngobrol soal politik dan negara.

Saat melakukan hal itu, ia mencoba menunjukkan bahwa walaupun bukan orang Sunda, tapi ia betul-betul tulus ingin memajukan seni budaya Sunda yang berkembang di SMS. Sementara anggota legislatif non PDIP yang sebenarnya punya latar belakang kesundaan dan lahir di wilayah SMS, tidak melakukannya.

Langkah Ara bukan hanya itu. Ia pun rutin mengadakan acara atau menyediakan ruang tempat penggerak seni budaya di SMS berkreasi. Ia misalnya menyelanggarakan festival, pagelaran atau pasanggiri seni budaya yang merakyat.

Di Sumedang, umpamanya, ia rutin menggelar festival reak, sehingga seni rakyat tersebut belakangan semakin berkembang di Sumedang. Festifalnya sendiri, Reak adalah seni helaran has Ujungberung, namun kemudian berkembang di Sumedang.

Hebatnya, ia menyelenggarakan festival reak di beberapa daerah pemilihan di seluruh wilayah Sumedang. Hal itu juga ia lakukan ketika menyelenggarakan festival kuda renggong, dan seni budaya lainnya.

Saya tidak tahu, apakah Ara mensuport penggerak atau grup seni budaya di Sumedang berupa uang pembinaan atau tidak. Boleh jadi ia support karena sebagai anggota dewan pusat, ia memang memegang dana untuk itu.

Namun yang pasti, apa yang dilakukan Ara, secara tidak langsung, menaikkan pamor partainya, PDIP, selain menaikkan pamor diri Ara sendiri. Masyarakat budaya yang selama ini sebenarnya bukan simpatisan PDIP pun, dipastikan paham akan "pesan" Ara melalui kegiatannya, walaupun tidak dikatakannya langsung.

Imbasnya, ketika berbagai lembagai survey melakukan survey partai, PDIP menjadi yang pertama diingat anggota masyarakat yang disurvey. Sementara partai lain, karena politisinya kurang merakyat, jadi pilihan kedua, ketiga atau ke sekian.

Ara sendiri, kelak akan mudah memetik buah perbuatannya yang ia semai selama beberapa tahun di masyarakat, bukan menjelang pemilihan legislatif saja.

Saya yakin, politisi PDIP yang melakukan pendekatan seni budaya tersebut bukan hanya Ara di SMS, tetapi juga yang lainnya, di seluruh Indonesia. Dan itu, menjadi kunci keberhasilan PDIP selama ini.***