Pepih Nugraha
Pepih Nugraha profesional

Gemar catur dan mengoleksi papan/bidak catur. Bergabung dengan Harian Kompas sejak 1990, hari-hari diisi membaca, menulis, dan bersosialisasi. Selain sharing menulis offline maupun online di funpage Facebook "Nulis bareng Pepih" dan situs pribadi http://pepnews.com, mempraktikkan dan mengobarkan citizen journalism dan hybrid journalism. Bermimpi lahirkan para jurnalis/penulis kreatif yang andal sebagai sebuah obsesi. Upaya dan langkah untuk mewujudkan obsesi itu dengan mengajar dan memberi pelatihan menulis/jurnalistik di dalam dan luar negeri, serta menjadi juri berbagai lomba menulis.

Selanjutnya

Tutup

Tekno Artikel Utama

Jangan Kalah, Sepeda Saja Internetan!

31 Oktober 2017   13:35 Diperbarui: 31 Oktober 2017   17:59 3179 29 17
Jangan Kalah, Sepeda Saja Internetan!
Foto: Pepih Nugraha

Tampilannya mewakili pria metropolis Eropa, tetapi Benjamin Howes bekerja sebagai Direktur Senior untuk urusan media Internasional di bawah departemen komunikasi perusahaan Huawei di Shenzhen, Tiongkok. Pembawaannya kalem saat menjelaskan produk-produk "software", "hardware", maupun berbagai aplikasi yang dihasilkan perusahaan ICT terbesar di negeri yang dulu berjuluk "Tirai Bambu" itu.

Sepatu dan tas genggamnya dari merek yang sama dengan warna senada, demikian pula sepatu kulit licin yang permukaannya bisa dipakai buat bercermin itu. Howes menjelaskan dalam bahasa Inggris yang sempurna kepada tiga jurnalis Indonesia yang berpakaian kasual ala kadarnya, termasuk saya di dalamnya.

Dia tidak menurunkan tensi profesionalitasnya selaku orang komunikasi yang menguasai media saat harus berhadapan dengan tiga jurnalis "asing" yang berpenampilan ala kadarnya. Maksud saya "casing" luarnya yang apa adanya, yang cukup pakai kaus oblong, kemeja lengan pendek, atau polo shirt sebagaimana yang saya kenakan saat itu. Latar belakangnya memang jurnalis. Jadi semacam "jeruk makan jeruk"-lah saat dia menjelaskan.

Howes juga humoris. Tatkala salah seorang rekan saya memandang sebuah televisi HD berukuran 90 inch bermerek "LG" di sebuah replika ruang keluarga yang menggunakan aplikasi pintar IoT (Internet of Things) yang dikreasi Huawei, Howes pun menghentikan langkahnya. "Ada yang menarik?" tanyanya dengan mata tertuju ke arah rekan jurnalis itu.

"Kenapa Huawei menggunakan televisi merek lain? Tidak bisakah Huawei membuat televisi sendiri?" tanya rekan jurnalis kritis. Di luar dugaan, Howes menjawabnya ringan. "Kuncinya kerjasama dengan pihak ketiga," katanya serius. "Tidak harus semua barang kami bikin sendiri. Yang kami bikin adalah aplikasi pintar yang ditanamkan kepada produk lain dengan pemanfaatan yang maksimal."

Saya tersenyum mendengar jawaban Howes yang terasa "kocak". Kocak karena dia menjelaskannya dengan santai, penuh senyum tetapi tetap serius, bahkan menjelaskannya saat beringsut, berjalan ke arah produk lain.

Ah, ya saya lupa mengungkapkan bahwa saya dan dua jurnalis lain plus Yunny Christine dari Huawei Indonesia, tengah berada di ruang pameran produk-produk terbaru dan tercanggih di kantor pusat Huawei di Shenzhen, Tiongkok. Howes bertugas menjelaskan semua detail, termasuk saat dia berhenti di stan di mana dipajang tiga sepeda genjot (manual), bukan sepeda listrik (seli) apalagi sepeda motor.

Ketiga sepeda itu berwarna jingga kemerah-merahan dengan desain sederhana (simple). Ini bukan sembarang sepeda. Ini adalah sepeda dengan polesan IoT.

"Hei, Guys! Ini tiga buah sepeda. Cantik, bukan?" Howes menjelaskan. "Tapi ini bukan bikinan Huawei loh ya!" Kami mendengar Howes yang serius tapi santai. Kenapa kami tertawa, sebab percakapan ini seoalah-olah lanjutan dari percakapan sebelumnya di depan televisi LG tadi.

Baiklah.... saya ngalor-ngidul berpanjang kata ini sebenarnya ingin menulis dan menjelaskan tentang keberadaan sepeda di Tiongkok. Kebetulan saja Howes memberi jalan.

Foto: Pepih Nugraha
Foto: Pepih Nugraha
Sepeda..??? Barang sederhana itu?? Ya, sepeda, memangnya kenapa!?

Tiga sepeda jingga yang dipamerkan itu hanyalah "jembatan" saja yang menghubungkan fenomena warga Tiongkok bersepeda yang ingin saya tulis.

Tiga tahun sebelumnya, saya juga berada di kota yang boleh saya sebut "Silicon Valley"-nya Tiongkok, Shenzhen. Kota ini satu-satunya kota dengan atmosfer bisnis ICT yang pekat dengan keberadaan pabrik-pabrik perangkat modern seperti Huawei, ZTE, BYD atau Tencent, jauh melebihi Hongkong yang berjarak ibarat kata hanya sepelemparan batu saja dari Shenzhen. Namun yang membedakannya adalah sepeda!

Tiga tahun lalu, hampir tidak ditemukan sepeda berwarna kuning, jingga atau hijau muda berserakan di jalanan kota Shenzhen, di parkir rapi atau "berceceran" di tempat-tempat tertentu. Tetapi saat saya menginjakkan kaki Oktober 2017 lalu, betapa Shenzhen telah menjadi "lautan sepeda", khususnya sepeda dengan bentuk seragam sebagaimana yang saya jumpai di ruang pamer ICT Huawei.

"Itu sepeda online," kata resepsionis mobile,Cao Lang alias Kris saat menemani kami jalan-jalan. "Orang boleh menggunakan aplikasi penyewaan khusus sepeda dengan membayarnya menggunakan WeChat atau Alipay untuk waktu tertentu."

Selagi gadis Tiongkok yang semampai ini bercerita, saya membayangkan sepeda motor online (Go-Jek) di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, yang masih mendapat perlawanan dari Opang alias ojek pangkalan, apalagi kalau taksi online, di beberapa tempat malah disiksa secara fisik atau dipermalukan di depan umum. Di Tiongkok, sepeda online hadir untuk memudahkan mobilitas penduduk bepergian dengan harga supermurah, tanpa polusi pula.

Di Shenzhen, salah satu perusahaan penyewaan sepeda online menggunakan merek Mobike. Konon di sejumlah tempat di Tiongkok sepeda online ini sudah seperti "virus" yang mewabah, warnanya bisa jingga, kuning, hijau dan bahkan hitam. Keempat warna mewakili perusahaan yang berbeda. Jadi intinya, bukan hanya satu sepeda digital saja yang memperebutkan pangsa pasar ini.

Cara menggunakan alias menyewanya sangat sederhana, yang penting Anda punya aplikasi di ponsel pintar (di ponsel "bodo" tidak akan ada aplikasi ini), mengunduh aplikasi Mobike, sudah punya aplikasi WeChat atau Alipay dari Alibaba untuk pembayaran, tinggal cari sepeda yang "nganggur" di sembarang tempat. Selanjutnya, arahkan mata kamera ponsel ke barcode di sepeda yang mau Anda sewa itu.

Anda akan menemukan empat angka di layar ponsel dan tugas Anda selanjutnya memencet tombol fisik empat angka yang ada di kunci sepeda online itu. Tadaaaa...... kunci yang membelenggu sepeda pun terbuka. Anda tinggal memanjatnya tanpa harus tengok kanan kiri karena malu, di Shenzhen bahkan sudah menjadi style tersendiri.

Aplikasi sepeda digital yang lebih canggih keluaran Huawei sebagaimana yang dipajangkan di showroom ICT bahkan tidak harus mengisi 4 angka itu. Cukup tembak barcode di sepeda itu, maka kunci terbuka.

Sebagai tambahan, sepeda dengan menggunakan aplikasi yang diciptakan Huawei dilengkap tenaga listrik untuk menghidupkan GPRS yang dihasilkan dari panel surya. Di mana panel surya diletakkan? Ternyata menjadi alas keranjang sepeda berbentuk kotak yang berada di depan stang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2