Pepih Nugraha
Pepih Nugraha profesional

Gemar catur dan mengoleksi papan/bidak catur. Bergabung selama 26 tahun dengan Harian Kompas sejak 1990 hingga 2016. Setelah menyatakan pensiun dini, hari-hari diisi dengan membaca, menulis, mengajar, dan bersosialisasi. Menulis adalah nafas kehidupan, sehingga baru akan berhenti menulis saat tidak ada lagi kehidupan. Bermimpi melahirkan para jurnalis/penulis kreatif yang andal. Saat ini mengelola portal UGC politik https://PepNews.com dan portal UGC bahasa Sunda http://Nyunda.id Mengajar ilmu menulis baik offline di dalam dan luar negeri maupun mengajar online di Arkademi.com.

Selanjutnya

Tutup

Sosial Budaya Artikel Utama

Syifa Annisa, Mahasiswi Penderita Glukoma yang Mengejar Gelar Sarjana

29 Mei 2015   18:48 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:28 625 35 24
Syifa Annisa, Mahasiswi Penderita Glukoma yang Mengejar Gelar Sarjana
1432899963622138414

[caption id="attachment_421252" align="aligncenter" width="506" caption="Syifa Annisa, fotonya saya ambil saat dia mewawancarai saya/by Pepih Nugraha"][/caption]

Pertemuan dengan Syifa terjadi sesaat sebelum berlangsungnya Kompasiana Seminar Nasional mengenai tambang bauksit di Hotel Peninsula Jakarta, Senin 25 Mei 2015. Seperti biasa saya menyapa hadirin yang sebagian besar Kompasianer di meja bundar dengan menyalami mereka satu persatu. Di salah satu meja, seorang perempuan muda yang saya salami, tidak menunjukkan reaksi, juga tidak antusias menyambut uluran tangan saya. "Rada aneh juga," pikir saya. Saya tahu kemudian perempuan muda itu bernama lengkap Syifa Annisa.

Usai acara seminar nasional yang diselanggarakan Kompasiana untuk yang kedua kalinya itu, perempuan yang saya salami tadi menghampiri saya, langsung nembak saya di tempat. Mohon tidak terjebak dengan kata-kata nembak, maksudnya tanpa berputar-putar, ia langsung menodong saya untuk sebuah wawancara penelitian. Katanya sih untuk skripsi S1-nya. Nah, segampang-gampangnya saya dicolek dan didaulat, tetap saja saya harus minta surat izin penelitian dari universitas mana si mahasiswi kuliah.

Tetapi pada saat yang sama, radar ingatan saya menangkap sinyal sesosok manusia bernama Aldi. Dialah salah satu karyawan HRD Kompas.com yang beberapa hari sebelumnya datang ke ruangan saya, meminta kesediaan waktu saya diwawancarai oleh seorang mahasiswi yang akan meneliti Kompasiana untuk skripsi S1-nya. Saya bilang ke Aldi kalau minggu ini waktu saya penuh oleh kegiatan. "Kelihatannya mahasiswi disable gitu, Kang," kata Aldi. Mungkin maksudnya agar saya menaruh simpatik (atau iba) terhadap si mahasiswi ini dan saya menyediakan waktu untuknya segera. Saya agak ketus menjawab (ketahuan 'kan aslinya); "Bukan soal disable atau tidak disable, waktunya memang harus saya cari dulu!"

Oh.... barangkali mahasiswi "disable" ini yang dimaksud Aldi! pikir saya.

Mahasiswi ini langsung nyosor saya (maksudnya tanpa berpanjang kata) dengan mengeluarkan catatannya, juga smartphone BlackBerry lawas warna putihnya (black kok putih, ya?) sebagai alat perekam. "Saya minta waktu Kang Pepih, untuk wawancara penelitian," katanya dengan mata, maaf, yang tidak fokus. Inikah yang dimaksud Aldi disable itu, pikir saya. Saya bilang, "Tetapi taksi sudah menunggu loh." Si mahasiswi tidak keberatan dan wawancara berlangsung sebelum taksi tiba.

Ada sekitar sepuluh menitan wawancara berlangsung sambil berdiri. Saya tidak lagi bertanya soal surat penelitian karena teringat si Aldi itu. Tetapi ketika taksi sudah menunggu dan saya harus segera kembali ke kantor, saya berjanji untuk melanjutkan wawancara tentang Kompasiana pada kesempatan berikutnya di kantor Kompasiana di Palmerah Barat. Rabu, 27 Mei 2015, si mahasiswi, ya Syifa Annisa itu, datang menemui saya di ruangan.

Sebelum wawancara berlangsung, saya yang malah mewawancarainya lebih dahulu hahaha.... Tanpa sadar, naluri jurnalistik saya bekerja. Dia memperkenalkan namanya dengan menunjukkan kartu plastiknya. SYIFA ANNISA, begitu yang saya baca. Mengaku mahasiswi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) jurusan Sosiologi. Ia menyatakan tertarik meneliti Kompasiana sebagai platform blog sosial berbasis penulis warga dari sisi ruang publik. Wawancara berlangsung lancar dengan pertanyaan yang sudah tertulis. Saya menjelaskan sesuai kapasitas saya.

Seusai wawancara serius untuk skripsi, saya langsung bertanya, "Sebenarnya kalau dibilang disabilitas, kamu ini disabilitas apa sih, 'semuanya normal kecuali mungkin, maaf, matamu?" Syifa Annisa menjawab, "Memang saya bukan penyandang disable, saya hanya menderita mata saja."

"Matamu kenapa?" tanya saya. "Glukoma. Saya menderita glukoma sejak lahir. Umur tiga tahun saya dioperasi dan tidak bisa disembuhkan sepenuhnya. Glukoma itu menyangkut syaraf mata," katanya menjelaskan. Oh....

"Jadi kamu bukan yang termasuk berkebutuhan khusus atau kekurangan?" tanya saya penasaran. Saya mendapat jawaban begini, "Saya merasa nggak berkekurangan kok. Masih banyak orang lain yang lebih berkekurangan dari saya. Jadi, saya bersyukur dengan keadaan saya ini...." Rangkaian kata-kata yang membuat saya kehilangan kata-kata. Jleb!

Syifa mewawancarai saya banyak hal. Saya menjawab semua pertanyaannya dengan detail dan sangat-sangat serius menjelaskan Kompasiana sebagai "ruang publik" bagi banyak personal maupun komunitas. Usai wawancara, saya diminta mengisi lembaran sebagai keterangan bahwa saya benar salah-satu narasumber yang sudah diwawancarainya. Saya mengisinya sampai membubuhkan tandatangan sendiri.

Saat Syifa bersiap-siap pergi, dia sempat mengutarakan bahwa betapa saya sangat gampang (semoga bukan cowok gampangan) diwawancarai di sisi lain para penggiat media mainstream yang dijumpainya sudah diwawancarai, bahkan menolak diwawancarai dengan alasan tidak punya waktu. "'Kan sebenarnya Kang Pepih bisa juga beralasan tidak punya waktu untuk menolak diwawancarai," katanya setelah dia mengutarakan niatnya meminjam buku Kompasiana Etalase Warga Biasa yang saya tulis.

"Kalau saya punya waktu, Insya Allah saya bisa 'dimanfaatkan' kapanpun untuk penelitian, ini cara sederhana saya berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman kepada siapapun, tidak hanya kepada kamu," jawab saya mengakhiri percakapan.

Selebihnya saya tercenung sendiri. Betapa hebat dan kuatnya semangat Syifa Annisa dalam mengejar cita-citanya menjadi sarjana di tengah "keterbatasan" atau "kekurangan" yang dimilikinya, sementara ia sendiri tidak merasa memiliki keterbatasan dan berkekurangan.

Jadi malu sendiri, saya yang secara fisik tidak memiliki keterbatasan dan kekurangan (mungkin kurang ganteng saja akibat lebih banyak handsome-nya), tidak memiliki semangat sekuat dan sehebat Syifa Annisa. Swear...

**