Mohon tunggu...
Dodi Mawardi
Dodi Mawardi Mohon Tunggu... Penulis - Penulis, Writerpreneur, Pendidik, Pembicara

Penulis kreatif sudah menghasilkan puluhan buku, antara lain Belajar Goblok dari Bob Sadino dan Belajar Uji Nyali dari Benny Moerdani. Selain aktif menulis, juga sebagai dosen, pendidik, dan pembicara bidang penulisan, serta komunikasi.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Refleksi 27 Tahun SMA Taruna Nusantara

14 Juli 2017   16:32 Diperbarui: 14 Juli 2017   20:43 1866
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Siapa yang akan mengisi Indonesia pada tahun 2045? Lalu pada tahun 2055? Jika dihitung mundur, mereka yang akan tampil pada tahun-tahun itu adalah manusia Indonesia kelahiran tahun 1990 -- 2010. Di mana mereka sekarang berada? Sebagian sudah selesai kuliah, sebagian masih kuliah, SMA, SMP, SD dan mungkin sebagian lagi baru masuk sekolah dasar.

Apakah mereka semua itu dipersiapkan untuk menyongsong berbagai tantangan pada 2045-2055?

Tampaknya, cara berpikir seperti itu sudah dimiliki oleh Jenderal L.B. Moerdani pada awal 1980-an. Dia memikirkan masa depan Indonesia mulai pada 2025 dan seterusnya. Dia memikirkan siapa yang akan mengisi masa depan Indonesia tersebut. Dia memikirkan bagaimana menyiapkan SDM untuk mengisi masa tersebut. Dia memikirkan apa saja yang harus disiapkan dan dibekalkan kepada SDM-SDM calon penerus bangsa itu. Lebih jauh, dia memikirkan siapa yang akan memimpin generasi tersebut?

Pada 1985, ide itu dilontarkan secara terbuka di berbagai forum. Pertama di forum-forum terbatas kalangan ABRI (TNI-Polri). Kedua, di beragam forum pendidikan. Sampai akhirnya, pak Benny menemukan salah satu jodoh pemikirannya, yaitu Taman Siswa -- besutan Ki Hajar Dewantoro, embahnya embrio dunia pendidikan Indonesia.

Singkat cerita, setelah melalui penggodokan matang selama bertahun-tahun, akhirnya pada 14 Juli 1990, SMA Taruna Nusantara resmi berdiri. Tepat, 27 tahun silam. Kenapa level SMA? Hasil kajian tim pak Benny menyimpulkan, bahwa level SMA adalah tahapan paling krusial setelah pendidikan dasar (PG -- TK -- SD -- SMP) sebelum manusia berkiprah dalam berbagai bidang. Pada tingkat SMA-lah manusia Indonesia menentukan pilihan mau kemana setelahnya. Pak Benny berharap, lulusan SMA tersebut tidak salah pilih jalan kehidupan. Pak Benny bermimpi, selama anak-anak muda itu digembleng selama 3 tahun, mereka mendapatkan bekal memadai untuk menjalani kehidupan panjang selanjutnya.

Dalam hitungan pak Benny, siswa SMA tersebut akan mulai berkiprah dan bisa diharapkan karyanya, setelah 30 tahun lulus. Bukan sembarang hitung. Setelah 30 tahun lulus SMA, seorang manusia akan berada pada kisaran usia 50 tahun. Awal mula usia emas dan matang pada era ini. Di bidang militer/polisi, seorang perwira baru bisa meraih level bintang (jenderal) setelah mengabdi paling singkat 28 tahun!  Level yang dianggap punya kekuatan untuk berkarya lebih baik. Pada bidang akademik, seorang dosen bisa meraih predikat profesor, sekitar 8 tahun setelah meraih gelar doktor.

Saat ini, SMA TN berusia 27 tahun, atau lulusan tertuanya yaitu angkatan pertama sudah berkiprah dan berkarya selama  24 tahun. Masih ada waktu 6 tahun, untuk menunggu bukti prediksi pak Benny terhadap lulusan SMA Taruna Nusantara. Lulusan yang kiprahnya bisa mulai diandalkan menjadi pemimpin negeri ini. Kapan itu? Tahun 2023-2024, waktu terjadinya suksesi kepemimpinan Indonesia. Semoga prediksi dan visi pak Benny terwujud. Amin.

Konsep SMA TN

Sebuah sekolah akan menghasilkan lulusan berkualitas jika dibekali oleh konsep yang tepat. Lalu konsep tersebut dijalankan oleh SDM yang juga tepat. Pak Benny adalah ahli strategi, visioner, dan menjadi salah satu bapak intelijen Indonesia. Kepiawaiannya dalam bidang militer dan kenegaraan diakui banyak kalangan baik teman maupun musuh.  Namun, kehebatan beliau di berbagai bidang itu tidak membuatnya sombong dalam mengkonsep sebuah lembaga pendidikan. Benny tetap merangkul banyak ahli dan profesor saat itu, yang memang piawai di bidang pendidikan, termasuk dari kalangan taman siswa.

SMA TN menerapkan pola asah asih dan asuh dalam mengelola siswanya yang berasrama. Hal yang berbeda dibanding sekolah berasrama lain yang berada di bawah lembaga militer/kepolisian. Anak SMA berbeda dengan anak lulusan SMA. Anak SMA masih sangat muda, berusia sekitar 14-15 tahun, yang masih membutuhkan sentuhan maksimal dari orangtuanya. Oleh sebab itu, selama berasrama di SMA TN, mereka diperlakukan dengan pola asah asih asuh tersebut. Siapa yang jago menerapkan pola tersebut? Taman Siswa. Sistem among Taman Siswa sudah berurat berakar. Kombinasi TNI dengan Taman Siswa akan menjadi ideal. Ibarat burung, sayap mereka akan leluasa mengepak ke seantero dunia.

SMA TN membekali siswa-siswinya dengan 3 aspek pendidikan yaitu:

  • Kepribadian (karakter)
  • Kesamaptaan jasmani (fisik)
  • Akademik

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun