Mohon tunggu...
Pendeta Sederhana
Pendeta Sederhana Mohon Tunggu...

Sederhana itu adalah sikap hati. Hati adalah kita yang sesungguhnya.

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Harga Pangan di Bulan Puasa, Suatu Ironi

30 Mei 2016   20:37 Diperbarui: 30 Mei 2016   20:53 90 1 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Harga Pangan di Bulan Puasa, Suatu Ironi
Aktivitas Pasar : liputan6.com

Seakan sifatnya sudah wajib dan tidak bisa dihindari, setiap memasuki bulan puasa, harga komoditas pangan hampir selalu melonjak. Harga akan semakin melambung tinggi ketika mendekati Lebaran. Apa yang salah?

Teori ekonomi menyebut, jika demand bergerak naik melebihi supply maka harga akan merangkak naik. Lalu, benarkah demand meningkat saat bulan puasa? Atau, stok pangan berkurang atau  tidak mencukupi sehingga membuat harga naik?

Logikanya, puasa itu menahan nafsu, dan yang paling utama adalah nafsu makan, yang berkaitan dengan harga pangan. Jika demikian, tentulah demand otomatis berkurang, karena setidaknya konsumsi berkurang dimana makan siang yang merupakan porsi makan terbesar setidaknya mengurangi konsumsi pangan secara signifikan.

Faktanya, harga pangan selalu naik menjelang bulan puasa hingga lebaran, dimana salahnya? Apakah pedagang dan distributor secara sengaja menaikkan harga-pangan? Ini merupakan PR kita bersama, bagaimana supaya supaya satu ketika setiap menjelang bulan puasa, harga pangan justru turun.

Memang ada sebagian masyarakat kita, selama bulan puasa justru konsumsinya bertambah. Hal ini bisa terlihat saat berbuka dimana jenis makanan yang terhidang di meja bisa melebihi jenis makanan yang biasa dikonsumsi saat makan siang. Restoran dan rumah makan juga sangat ramai di saat bulan puasa menjelang jam berbuka, dengan semakin populernya buka bersama, baik dari komunitas kantor, lingkungan, pertemanan, dan banyak lagi.

Perilaku konsumen saat puasa dan Lebaran juga ikut berpengaruh pada lonjakan harga. Terlihat sepertinya ada "kepanikan" yang mempengaruhi perilaku konsumen. Budaya konsumtif juga lebih terlihat menjelang Lebaran, dan tidak terbatas hanya soal pangan. Bahkan seringkali terlihat bahwa menjelang lebaran, ada "pemaksaan" konsumsi kebutuhan sekunder dan tertier oleh masyarakat yang bisa saja konsumsi tersebut sebenarnya tidak diperlukan atau bisa disebut bukan merupakan suatu kebutuhan. Dan seakan sudah menjadi "budaya" kebiasaan ini selalu terjadi menjelang lebaran.

Inilah yang kemudian "dimanfaatkan" oleh para pedagang dan distributor, sehingga peluang untuk menaikan porsi keuntungan selalu dilakukan saat bulan puasa dan lebaran. Pedagang dan distributor sangat jeli membaca perilaku konsumen, sehingga walaupun harga dinaikkan, konsumen akan tetap membeli. 

Memang seringkali kita tidak habis pikir, kenapa justru di bulan puasa harga pangan naik? Ini merupakan suatu ironi disaat kita menahan diri untuk tidak konsumtif justru harga pangan melonjak dan itu selalu terjadi dari tahun ke tahun. Bahkan pemerintah selalu pusing dibuatnya dan sampai saat ini belum menemukan metode yang pas untuk meredam gejolak harga pangan setiap menjelang bulan puasa.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyinggung siapapun, namun perlu kita merenung sejenak, apakah sebenarnya makna puasa  bagi kita? Bagaimana semestinya perilaku konsumsi kita saat berpuasa supaya tidak menimbulkan gejolak harga pangan.

Memang, semua berpulang ke diri kita masing-masing, namun saya berandai-andai sekiranya  aktivitas berpuasa itu linier dengan turunnya konsumsi dan otomatis berpengaruh terhadap turunnya harga pangan disaat mayoritas masyarakat kita berpuasa.

Belum lagi di beberapa daerah, selama bulan puasa rumah makan diminta "tutup" yang sudah pasti penutupan ini akan berpengaruh terhadap berkurangnya aktivitas belanja bahan pangan di pasar, namun harga pangan justru tidak turun. Ironi di bulan puasa.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x