bahrul ulum
bahrul ulum Kompasianer Brebes

" Apa yang ditulis akan abadi, apa yang akan dihafal akan terlepas, ilmu adalah buruan, pengikatnya adalah tulisan, ikatlah dengan kuat buruan mu itu "

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Jangan Sombong Jika Sudah Kaya, Ingat Ada Hak Orang Lain

14 Juni 2018   09:01 Diperbarui: 14 Juni 2018   09:37 561 1 0
Jangan Sombong Jika Sudah Kaya, Ingat Ada Hak Orang Lain
Jangan sombong/ Doc Khalidbasalamah.com

Alhamdulillah, Allah SWT telah memberikan penulis kesehatan dan kesempatan selama ini, sehingga penulis masih menulis di kompasiana, semoga ada manfaatnya. 

Terinspirasi pagi ini setelah menyaksika  kartun video di youtube bagaimana seorang qorun dan nabi Musa AS, dimana saat itu qorun dan keluarganya dalam kondisi miskin, baju aja hanya yang menempel dibadannya, tidak setiap hari makan, belum lagi rumah yang dihuni juga tidak ada alas, hidup dalam kesusahan siapa yang mengharapkannya. 

Lalu datanglah nabi Musa AS, dan berdoa kepada Allah SWT agar nasib keluarga qorun diangkat menjadi keluarga yang berkecukupan dan patuh dengan perintah Allah SWT saat hidupnya cukup. Nabi Musa AS mentransfer ilmunya kepada Qorun yakni mengolah emas menjadi barang yang  bernilai dan bisa dijual kembali bagi yang membutuhkan. 

Seiring waktu Qorun bernasib baik dan mau bekerja keras sehingga doa yang dipanjatkan oleh Nabi Musa AS lalu didasari dengan kemauan keras dari Qorun termasuk mau menerima ilmu pengolahan emas (dulang emas) menjadikan Qorun jadi kaya raya. 

Disinilah muncul sifat berbanding terbalik, awalnya Qorun ini taat ibadah disaat masih hartanya kekurangan, namun disaat hartanya berlimpah, dia lalai dengan sejarahnya, bahasa keren sekarang jas merah (jangan melupakan sejarah). Bahkan hartanya dipamerkan disekitar penduduknya dan memberikan pinjaman uang kepada orang miskin dengan bunga yang mencekik, jika tidak membayarnya maka disitalah rumahnya sebagai jaminan atas hutang piutangnya. 

Semua larangan dalam islam pun dilanggarnya, hidup berfoya-foya, minuman khomer, wanita dan lain-laun, sepertinya dunia ini sebagai ladang surga bagi qorun. 

Beberapa tahun berikutnya Qorun diingatkan oleh Nabi Musa AS, namun apa yang disampaikan oleh Nabi Musa AS dianggap apa yang qorun lakukan ini adalah buah kerja kerasnya, yang akhirnya berlimpah hartanya, kenapa harus memberikan sebagian hartanya, jelas Qorun tidak mau, bahkan protes dengan Nabi Musa AS, lalu nabi Musa kembali mengingatkan kembali kepada Qorun, tetap saja tidak mau menuruti apa yang disampaikan oleh Nabi Musa AS sebagai utusan Allah SWT. 

Karena sombong dan membangkang dari perintah Allah SWT, lalu nabi Musa AS hanya berdoa kepada Allah SWT untuk minta keadilan atas kesombongan dari perbuatan Qorun ini, lalu datanglah bencana bumi yang tidak disangka-sangka, semua harta beserta qorun pun akhirnya tenggelam ke dasar tanah, ini akibat tidak patuh dengan perintah Allah SWT. 

Bagaimana dengan kondisi sekarang ini pada umat Nabi Muhammad SAW, apakah ada manusia yang masih berwatak seperti Qorun, jawabannya masih ada, ketika dalam kondisi berlimpah hartanya, terkadang mereka buta akan jiwa untuk mendermakan hartanya kepada nasib orang miskin, mestinya masyarakat miskin ini bisa terangkat dan teratasi jika para aghniya ini peduli dengan sekitarnya. 

Bencana longsor, bencana banjir yang diberikan kepada daerah atau wilayah tertentu, itu karena faktor manusianya, pertama melakukan perbuatan yang berdosa dan tidak mau tobat, kedua karena ulah manusia sendiri yang melakukan pengolahan sumber daya alam tanpa menanam kembali penghijauan, alih fungsi hutan menjadi sarana awal malapetaka karena fungsi hutan harusnya menjadi penyanggah air agar tidak cepat ke hilir, karena gundul maka air gunung pun cepat ke hilir dan jadilah banjir. 

Bolehkan Manusia itu Sombong ? 

Mari sejenak kita memikirkan, kita yang sudah menjadi seorang manusia sesempurna ini, dengan dibekali perengkat untuk memahami apa-apa yang ada di dunia, masihkah merasa sombong dengan apa yang dimiliki? Yang sejatinya hanyalah titipan dari Allah SWT.

Sangat tidak etis ketika seseorang merasa sombong terlebih di hadapan Allah, karena awalnya semua manusia berawal dari hal yang sama, hanya garis takdir-Nya lah yang membuat seseorang berbeda. Dan lagi, paling mulia di hadapanNya adalah yang bertaqwa.

"Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim. 

Apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya." (Q.S Al-Hajj: 5)

Dalam ayat yang lain, Allah juga berfirman:
"Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik." (Q.S AL-Mu'minun: 4)

Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling baik, dengan diberi kemuliaan akal yang membedakannya dari makhluk Allah yang lain. 

Tentu, jika mempelajari bagaimana proses penciptaan itu tak ada yang menghalangi hati untuk tergetar dan berucap syukur dengan segala kesempurnaan prosesnya.

Bagaimana rahim disiapkan untuk menerima 'tamu' di dalamnya, sperma yang berjuang untuk mencapai dan membuahi telur, lalu sel-sel yang menyiapkan diri, hormon yang mengikuti setiap prosesnya, dan segala macam kejadian yang berlangsung dalam rahim seorang ibu. 

Tak ada yang lepas dari pengawasanNya dan kalkulasi detail yang sangat presisi.
Itulah 'sejarah' kita yang sesungguhnya, yang semoga tidak menjadikan kita terlena dan terlupa jika 'telah menjadi orang' saat ini atau kelak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2