bahrul ulum
bahrul ulum Kompasianer Brebes

" Apa yang ditulis akan abadi, apa yang akan dihafal akan terlepas, ilmu adalah buruan, pengikatnya adalah tulisan, ikatlah dengan kuat buruan mu itu "

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Tanam Padi Masih Urusan Wajib bagi Petani

2 Maret 2018   10:01 Diperbarui: 2 Maret 2018   14:40 1150 0 0
Tanam Padi Masih Urusan Wajib bagi Petani
Padi Hampir Panen di Sidapurna/Doc Sarnoto

Menanam padi menjadi prioritas utama bagi petani nusantara ini, swasembada pangan harus tersedia, jika petani tidak mau menanam padi dilahannya, maka akan menjadi ancaman yang cukup serius. 

Setiap hari penduduk bertambah, secara otomatis kebutuhan beras harus tersedia dengan melimpah, beras yang nantinya jadi nasi, memiliki peranan yang sangat penting. Wajar jika Tentara pun diminta untuk monitor ketersediaan stok gabah, beras dan bagaimana konsumsi makanan yang ada di masyarakat, apakah tercukupi atau tidak. 

Laporan mereka disetiap desa kepada atasannya dan nantinya direkap oleh mabes TNI menjadikan kebijakan bagi pemerintah untuk mencukupi kebutuhan umat setiap hari. 

Ancaman yang perlu ditangani adalah adanya alih fungsi lahan, serangan hama pada padi, ketersediaan bibit, ketersediaan air lewat irigasi, termasuk penanganan saat panen raya dan paska panen. 

Lumbung padi desa yang dulu ada, seiring perkembangannya semakin berkurang, cenderung lumbung dibongkar difungsikan untuk sarana lain, desa dulu banyak yang punya lumbung padi untuk stok bagi warganya saat kekurangan gabah atau beras, maka lumbung padi ini bisa menjadi solusi alternatif dalam konsumsi pangan diwilayahnya, namun dengan kondisi yang semakin berkurang bahkan cenderung hilang akan jadi masalah dikemudian hari. 

Walaupun ada beberapa petani yang menanam padi hingga setahun sampai 3 kali, karena tanahnya memang cocok untuk ditanami padi dari berbagai varietas yang diminati dan tersedia tenaga kerja termasuk stok air melimpah, menjadikan lahan yang ada di desa tersebut menjadi basis ketahanan pangan, jangan sampai nanti sawah yang masuk zona hijau berubah alih ke pemukiman warga nenjadi zona merah. 

Desa yang bisa sampai panen 3 kali seperti di kecamayan bumiayu sehingga terkenal dengan beras bumiayu, ada juga di desa Parereja Kecamatan Banjarharjo pun bisa panen setahun tiga kali. Rata-rata didaerah pegunungan tanam padi bisa full karena usia padi rata-rata ada 120hari, wajar jika setahun bisa 3 kali panen. 

Namun berbeda dengan daerah di pesisir pantura, tanam padi hanya sekali saja, maksimal dua kali setahun, sisanya digunakan untuk tanam bawang merah atau lombok dan palawijaya yang lain. 

Kabupaten Subang Jawa Barat,  salah satu pemasok gabah yang cukup terkenal, bahkan disana ada balai benih padi berbagai varietas ditanam, bisa terjadi dalam kurun waktu tertentu akan muncul varietas baru yang bisa lebih cepat panen tapi hasilnya sangat banyak. 

Di Kabupaten Pemalang di Kecamatan Petarukan, juga banyak jenis padi yang ditanam petani, karena kualitas tanah dan juga bibit serta irigasi yang baik sehingga hasil yang didapatkan lebih menguntungkan.

Semoga ke depan Idonesia masih menjadi Negara agraris dengan kekayaan dalam bidang pertanian yang melimpah. Komoditas padi yang nantinya jadi beras dan berubah jadi nasi tidak terkurangi bahkan cenderung bisa ekspor. 

Beras memiliki pangsa pengeluaran pangan kedua terbesar setelah makanan jadi pada tahun 2011, yaitu sebesar 17,28%, sedangkan pangsa pengeluaran pangan untuk komoditas umbi-umbian, pangan asal ternak, ikan, sayuran, dan buah-buahan secara berturut-turut hanya sebesar 0,98%; 5,11%; 8,51%; 7,68%; dan 4,25% (Rusono, 2014).