bahrul ulum
bahrul ulum Kompasianer Brebes

" Apa yang ditulis akan abadi, apa yang akan dihafal akan terlepas, ilmu adalah buruan, pengikatnya adalah tulisan, ikatlah dengan kuat buruan mu itu "

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup

Pendidikan Budi Pekerti Harus Tertanam Sejak Dini

26 Januari 2018   07:41 Diperbarui: 26 Januari 2018   08:43 915 0 0
Pendidikan Budi Pekerti Harus Tertanam Sejak Dini
Salaman Penguatan Karakter/Foto sekolahdasar.net

Pengamat sosial mau melihat karakter suatu bangsa, baik itu sikap atau perilaku maka lihatlah pada perilaku saat berkendaraan, dimana ada rambu-rambu lalu lintas yang ditaruh dengan jelas. Seperti marka jalan, tanda jalur sepeda, namun ironisnya pengguna kendaran sepeda motor malah enggan melintas di marka tersebut, belum lagi saat kondisi jalan sedang macet, apapun dilakukan oleh mereka asalkan dirinya cepat dan selamat, pelanggaran hal yang lumrah, kalau nanti ada polisi, ya memilih tilang atau jalur damai. 

Seorang Pendidikan jika ingin melihat karakter keberhasilan anak didiknya, di jaman sekarang,bukan hanya melihat pada prestasinya saja, tapi lihatlah saat adab mereka dalam bergaul, termasuk sopan santun (budi pekertinya), bayangkan saja, puluhan tahun yang lalu, saat masih pendidikan dasar, setiap ketemu guru kelasnya atau guru di sekolah, anak dituntut untuk cium tangan saat ketemu gurunya, baik itu guru kelas maupun guru mata pelajaran dan sivitas akademisnya, ini artinya anak didik ini dilatih karakter sejak dini dengan harapan, mereka tidak lupa akan jasa dan tata cara menghormati ilmu dan gurunya yang telah mengajarkannya. 

Seorang guru agama atau ustad yang mengajarkan baca tulis alqur'an di majlis tak'lim pun mengajarkan sejak dini tata cara menghormati ilmunya para nabi, termasuk tata cara bergaul dan menghormati antara guru, antara teman sebaya, orang tua, lingkungannya. Secara kultur jelas ini modal kuat yang luar biasa bagi mereka yang telah dididik karakternya termasuk tata cara mengamalkannya, terjadi perubahan nantinya, itu karena arus globalisasi yang kuat dan lingkungan yang berbeda yang menjadikan perubahan signifikan dirinya. 

Ada sebuah cerita karakter bagaimana adab seorang kyai kepada gurunya, walaupun gurunya sudah menjadi kyai besar, namun disuatu saat ketemu gurunya yang jualan es, namun adab sopan santun dan tata krama tetap di pegangnya. 

Sumber: https://ijawcenter.com/budi-pekerti/
Sumber: https://ijawcenter.com/budi-pekerti/
~ Adab Mbah Dullah Kepada Gurunya ~

Mbah Dullah (KH Abdullah Salam) Sewaktu akan memberi sambutan tiba2 turun dari panggung, padahal didepan panggung sudah duduk para kiai, pejabat pusat maupun daerah dan ribuan santri maupun tamu undangan, Mbah Dullah turun dan ngeloyor pergi menemui penjual dawet dipinggir jalan. Mbah Dullah dgan ta'dzim menyapa penjual dawet dan mencium tangannya.

Ribuan pasang mata menyaksikan peristiwa itu, mereka bertanya-tanya siapakah penjual dawet ini, sampai mbah Dullah seorang kiai sepuh dan kesohor waliyullah dari Kajen-Margoyoso, Pati, Jawa Tengah ini mencium tangannya. Setelah mencium tangan penjual dawet, mbah Dullah kembali lagi ke panggung dan berpidato dg singkat :

" Tawasul itu penting untuk nggandengkan taline gusti Allah," sembari mensitir ayat .

...

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai berai, dan ingatlah kalian semua akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu semua karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara... (QS. Ali-Imron 103) dan wa alaikum salam.

Kemudian beliau mandab (turun) dan duduk di kursi bawah panggung.

Ketika Mbah Dullah ditanya siapa penjual dawet tersebut, Mbah Dullah mengatakan :

" beliau adalah guru ngajiku sewaktu kecil, beliau yg mengajarkan aku cara membaca fatihah, sehingga sebab beliau aku bisa membaca alquran, bisa beribadah kpd Allah & mendekat kepadanya," .

Mbah Dullah memberi tahu salah satu cara menggadengkan tali Allah (sesuai dawuh syekh abdul qodir al jilani) adalah dg tawasul.

Dan berbahagialah para pengajar al qu'ran di TPQ maupun musholla, mbah kyai Djamal pernah dawuh "semulia-mulianya pengajar, adalah orang yg mengajar baca Al Quran ".

Pertanyaan sekarang, apakah tingkah laku kita seperti yang diceritakan diatas itu ? jika belum masih ada hari untuk berubah, dan perubahan itu pada kultur, bukan struktur, karena jika struktur maka tidaklah melekat hingga lahir batin, struktur sifatnya instan, sangat berbeda dengan kultur maka akan menguat dengan berkesinambungan. 

Saat ada antrian dimanapun, seperti mengambil jatah makan siang, karena antrian cukup panjang, maka saudara pun harus bersabar, bukan main srobot atau mendahului tanpa melihat kalau di depan antrian anda ada orang tua yang usianya lebih tua dari anda, atau saat anda naik kendaraan umum, kemudian muncul penumpang yang tua, atau hamil, maka disitulah adab atau karakter dan sikap anda yang harus menyesuaikan, apakah mau membiarkannya atau memberikan kesempatan kepada orang tua atau ibu hamil tersebut untuk menempati kursi duduk anda. 

Semua perubahan butuh proses yang cukup panjang, dan keberhasilan budi pekerti atau karakter suatu bangsa itu lebih beradab daripada prestasi yang tinggi tapi tidak mempunyai adab. Inspirasi pagi penulis saat melihat fenomena anak punk yang semakin meluas dan adab pengguna kendaraan yang main srobot dan tidak kenal dengan sesama pengguna jalan. Apakah ini gaya hidup sekarang atau memang mereka menyesuaikan jaman yang sudah tidak karuan ini.....