Bima Pandawa
Bima Pandawa

Mencoba menangkap situasi politik Indonesia dalam kata

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara

Pembodohan Massal untuk Jabatan 5 Tahun DKI 1

18 April 2017   21:24 Diperbarui: 19 April 2017   03:16 842 9 2

Tulisan ini dibuat atas keprihatinan yang mendalam. Sebagai orang yang berada di dalam lingkaran elit politik saya merasa harus menuliskan ini, karena kerakusan elit telah memakan korban. Para elit hanya punya satu tujuan: Melenggangkan kekuasaan untuk kenyamanan pribadi. Itu saja objektif nya, walau harus perang sipil, dasar negara berganti, selama tujuannya tercapai mereka tidak peduli. Semua cara dihalalkan. Jual agama, jual Tuhan, menjual penderitaan rakyat - yang seharusnya disucikan- juga dilakukan. 

Korbannya adalah rakyat kecil yang begitu mudah dipropaganda. Bagi kelompok raskin asal bisa makan hari ini disuruh berkampanye untuk siapa saja tidak masalah. Hari ini kaos merah besok kaos kuning, lusa pelangi, sah saja selama perut tidak keroncongan. 

Mereka juga mudah dicuci otak dengan isu surga dan neraka. Sebab bagi mereka dimarjinalkan adalah makanan sehari-hari. Perut selalu kelaparan, harga diri diinjak-injak, sepanjang hayat hidup susah. Satu-satunya penghiburan bagi mereka untuk bertahan hidup adalah bahwa sesudah kehidupan fana ini mereka akan diganjar hidup enak di surga. Jadi dalam alam pikir mereka, hidup di dunia sudah bagai neraka, masa nanti mati masuk neraka, lebih susah lagi hidup. Kepolosan ini dimanfaatkan oleh Timses Anies-Sandi, Timses yang sama dalam usaha memenangkan Prabowo pada Pilpres 2014.

Tim sukses Anies-Sandi tidak peduli dengan kenyataan kebijakan Ahok-Djarot selama ini telah membawa kesejahteraan bagi banyak orang. Ini bukan sekedar asumsi, tapi fakta. Dari berbagai survey, sebanyak 70% warga Jakarta sangat puas dengan kinerja Ahok. Karena itu Timses lawan Ahok dengan cerdik mengolah isu, surga dan neraka tadi. Secara garis besar, ada dua kelompok pendukung Anies-Sandi. Mereka yang sudah tidak berkuasa karena dilibas kebijakan anti KKN Ahok, dan mereka yang ingin masuk surga. Kelompok pertama adalah mereka yang sudah biasa hidup enak dengan cara-cara curang, mau nabrak orang sampai mati karena mabuk, hukumannya ringan. Menembak pelayan karena mabuk, hanya dipenjara basa-basi, begitu juga dengan membunuh hakim.  Kelompok kedua, yang sudah disebut di atas, mereka yang di bawah garis kemiskinan, kesehariannya makan derita, masa meninggal menderita juga. 

Dua kelompok ini diolah Timses Anies-Sandi dengan sempurna. Sentimen terhadap Tionghoa Indonesia yang dimulai oleh Orde Baru dipakai kembali, namun tidak secara terbuka, karena sudah ada pasal-pasal KUHP ancaman pidana bagi penyebar kebencian SARA, mereka Jadi dibuat isu memilih Anies-Sandi sesama muslim bahwa ini penegakan aqidah, ini penegakan hukum Tuhan. Hukum Tuhan tidak bisa dilawan, kalau dilawan masuk neraka. Makanya sudah keturunan Tionghoa non muslim pula, lengkap sudah 'dosa' primodial Ahok. 

Dilputi nafsu keserakahan, Timses Anies-Sandi meramu formula PEMBODOHAN MASYARAKAT agar mereka bisa terus hidup seenaknya. Masyarakat dibodohi dengan sistematis, ayat kitab suci yang asli pun bisa dimodifikasi. Padahal Sebenarnya dengan mudah kita bisa melihat inkonsistensi para Timses dengan doktrin-doktrin sesat atau interpretasi Al-Qur'an yang mereka buat sendiri. Misalnya mereka menyebarkan bahwa haram hukumnya untuk bersekutu dengan non-muslim. Buktinya Prabowo sendiri dilahirkan oleh perempuan Kristen, kakak beradiknya Kristen dan Katolik, keluar masuk ibadat gereja merupakan hal biasa saja baginya. Anies-Sandi juga masuk gereja minta didoakan umat. Kemudian tim pengacara mereka ACTA, salah satu ketuanya anggota Gerindra, Hisar Tambunan, jelas-jelas Kristen. Jadi mereka membawa Ahok ke pengadilan, dengan dalil seorang Kristen yang tidak mengerti Qur'an membahas tentang salah satu ayat, tapi meminta pembelaan kepada pengacara Kristen. PKS sebagai salah satu otak kekejian black campaign; larangan menyolatkan jenazah orang yang memilih Ahok, ternyata di daerah lain mencalonkan pasangan kepala daerah non-muslim (sumber). 

Pembodohan ini sebenarnya adalah kejahatan terhadap kemanusiaan, karena dilakukan secara sistematis, menyakiti asas-asas kemanusiaan, merampas akses hidup layak. Sekarang masyarakat Jakarta mengakui atau tidak mengakui taraf kesejahteraan hidupnya naik. Contoh sederhana saja, lansia, PNS, pekerja dengan gaji UMP, pelajar, bisa naik Trans Jakarta tanpa biaya. Mengurus KTP, surat-surat pencatatan sipil lain sangat mudah, cepat, dan tanpa pungli. 

Saya sudah berkali-kali mendengar cerita menyentuh...Taruhlah di satu siang yang cerah dan random saya berbincang dengan seorang petugas kebersihan, bernama Bu Santi. Kala itu kami bertemu di depan patung kuda Thamrin.  Ia bilang sudah 13 tahun bekerja sebagai petugas kebersihan, baru di masa Ahok bisa beli sepatu dan seragam sekolah untuk anaknya, itu pun dengan KJP (KARTU JAKARTA PINTAR). Kawan-kawannya yang menyepelekan sekolah, akhirnya mulai ambil paket-paket pendidikan untuk dapat ijazah SD, karena itu syarat menjadi pasukan orange dengan gaji UMP. 

Dengan asyik petugas itu bercerita betapa bersyukurnya pada pemerintahan Ahok. Bahkan ia bisa sewa taksi online bersama kawan untuk ke kondangan. Hanya dengan kebijakan sesederhana menaikan UMP dan syarat ijazah SD, Ahok telah menaikan derajat orang. Dulu mereka disebut tukang sampah, pekerjaan penting yang dianggap nista. Sekarang mereka dikenal sebagai PASUKAN ORANGE. Konotasi positif yang membangkitkan semangat bekerja, mereka juga tidak dianggap rendah lagi, tapi sudah seperti pahlawan kebersihan yang membebaskan masyarakat Jakarta dari banjir dan tumpukan sampah. Itu bicara kebijakan sederhana, belum lagi kebijakannya menutup pusat prostitusi Kalijodo. 

Menjadi miris serta menyedihkan ketika orang-orang seperti ibu Santi ini berkata mereka tidak bisa memilih Ahok kembali karena beda aqidah, walau mereka sangat puas dengan kinerjanya, lebih menyedihkan lagi selain sudah puas dengan Ahok mereka juga tidak yakin Anies-Sandi bisa memberikan pelayanan seperti Ahok. Inilah yang saya sebut sebagai perampasan hak terhadap kehidupan yang layak. Ingatlah hal terpenting dalam sebuah kebijakan bukan sekedar indah di atas kertas tapi bagaimana implementasinya. Anies pandai memoles kata, dari dipecat jadi dicukupkan, namun ia sudah terbukti lemah dalam implementasi, dari masalah sekecil mendistribusikan Kartu Indonesia Pintar sudah gagal, sampai dicopot sebagai Menteri Pendidikan.

Masyarakat terus digiring ke jurang pembodohan yang merugikan mereka sendiri. Masyarakat lupa Ahok tidak bisa memilih ras ataupun agama yang sudah diajarkan orangtuanya. Mereka marah terhadap sesuatu yang di luar kuasa Ahok, kuasa Tuhan. Bagaimana bisa seorang muslim yang menggunakan hak pilihnya untuk Ahok menjadi kafir dan munafik? Guru-guru agama tersohor dan kredibel seperti Quraish Shihab dan Buya Syafii Ma'arif pun difitnah dan dikecam walau mereka tidak membela Ahok, yang mereka lakukan adalah menyampaikan kebenaran ayat Tuhan. Sadis sekali cara-cara Timses Anies hanya untuk kursi jabatan berusia 5 tahun. 

Pilkada DKI tinggal beberapa jam lagi. Saya sungguh berharap pada nurani-nurani penduduk Jakarta untuk memilih Ahok-Djarot, agar mereka dapat meneruskan program-program yang sudah terbukti menolong umat muslim, rakyat miskin, anak-anak, kita semua penduduk Jakarta. Anggaplah memilih Ahok-Djarot sebagai bentuk kepedulian terhadap mereka yang masih kekurangan, jangan rampas kesejahteraan mereka.