Mohon tunggu...
Paulus Tukan
Paulus Tukan Mohon Tunggu... Guru dan Pemerhati Pendidikan

Mengajar di SMA dan SMK Fransiskus 1 Jakarta Timur; Penulis buku pelajaran Bahasa Indonesia "Mahir Berbahasa Indonesia untuk SMA", Yudhistira.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Istri, Perempuan Tak Ternilai Pengorbanannya

21 April 2021   07:00 Diperbarui: 21 April 2021   07:05 116 5 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Istri, Perempuan Tak Ternilai Pengorbanannya
Ilustrasi Perkawinan (pixabay.com)

Tak lapuk oleh hujan, tak lekang oleh panas. Sebuah peribahasa yang berarti 'tetap pada pendirian semula' atau 'keadaan yang tidak pernah berubah'. 

Bagi saya, peribahasa ini sangat tepat untuk mengangkat tinggi-tinggi hakikat perempuan yang sejak hari pengukuhan di hadapan pejabat agama (pastor, pendeta, atau penghulu) serta para saksi beralih status sosial menjadi seorang istri. Sejak saat itulah sepasang perempuan dan laki-laki itu bukan lagi dua, melainkan satu. Satu dalam perkawinan. Mereka telah berjanji untuk saling mencintai, selalu setia dalam keadaan suka maupun duka, dalam untung maupun malang sampai sang maut memisahkan. 

Perempuan yang Rela Meninggalkan Keluarganya

Pernahkah para suami menyita waktu sesaat untuk duduk di pinggir ranjang, memperhatikan istrinya yang sedang tidur pulas? Amatilah istrimu dengan saksama mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut. Tapi ingat, bukan karena birahi!!! Tanyakan dalam dada, siapakah perempuan di depanku ini? Mengapa ia bisa beada di ranjang bersamaku? Mengapa ia bisa hidup bersamaku?

Alangkah bahagianya! Betapa bersyukurnya seorang suami! Seorang perempuan yang telah rela meninggalkan keluarganya, meninggalkan orangtuanya, kakak-adiknya, sanak saudaranya  di sana lalu hidup bersamamu. 

Tahukah para suami, berapa biaya yang telah dikeluarkan oleh orangtuanya untuk menghidupinya sejak dalam kandungan sampai hari pernikahan? Sanggupkah seorang suami membayar semua budi baik, segala bentuk pengorbanan orangtua terhadap istrimu? Mustahil! Tak terhitung jumlahnya! Tak ternilai dengan uang!

Seyogianya, kesadaran ini semakin memperbesar rasa syukur ke pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena Dia lah sang suami mendapatkan karunia yang luar biasa ini. Karunia seorang perempuan yang telah rela dan iklas meninggalkan keluarganya dan hidup bersama dalam perkawinan. Kesadaran ini mestinya  semakin memperbesar rasa cinta. Cinta dan pengorbanan tak akan lapuk oleh hujan, tak lekang oleh panas. 

Ironisnya, perceraian seringkali terjadi. Pengorbanan sang istri telah disia-siakan. Karunia Allah yang luar biasa itu telah hanyut dalam egoisme dan egosentris. Dengan lagu lama " kami sudah tidak cocok lagi", suami dan istri kembali ke status semula sebagai seorang perempuan dan sebagai seorang laki-laki yang siap mencari pasangan hidup baru. 

Akhirnya, semoga tulisan ini (dari sudut pandang suami!)  menggugah hati para suami agar semakin bersyukur kepada Tuhan atas karunia teramat besar ini. Selanjutnya, rasa syukur ini memperbesar cinta suami terhadap istri. Dalam dan atas nama cinta pula segala macam persoalan dalam keluarga dapat diatasi. 

Semoga!

Jakarta, 2004021

VIDEO PILIHAN