Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

JK, Terima Kasih Bhakti, Prestasi, dan Kontribusinya, bagi Negeri, Amien Rais Belajarlah

16 Oktober 2019   09:47 Diperbarui: 16 Oktober 2019   10:01 0 11 5 Mohon Tunggu...

JK, Terima Kasih Bhakti, Prestasi, dan Kontribusinya bagi Negeri, Amien Rais Belajarlah

Jusuf Kalla, seorang politikus ulet, tulen, dan cerdik. Dua pemerintahan ia menangi sebagai wakil, prestasi yang hanya JK seorang.  Di  balik kontroversinya, toh ia mampu menjadi pendamping yang keren bagi dua presiden, SBY dan Jokowi. Bersama kedua RI-1 dengan gaya yang jauh berbeda. Ini pengalaman yang mengajarkan.

Dua hal kontroversial yang perlu diingat, bukan untuk diingat-ingat dan yang utama,  hanya sebuah kewajaran sebagai manusia. Pertama, jauh sebelum gelaran pilpres 2014, ia sempat mengatakan jika negeri ini dipimpin Jokowi, negara bisa hancur. Kepentingan juga demi ia bisa ikut kontestasi sangat mungkin. Lebih jauh nanti dalam pembahasan ini juga masuk.

Kedua, ketika ia menjadi ketua Dewan Masjid, namun diam saja masjid menjadi tempat untuk politik praktis di pilkada DKI  di mana ia menjadi pendukung salah satu paslon. Dan keberadaan pilkada DKI menjadi pemilihan paling buruk dan tragedi demokrasi. Dampaknya yang ada karena pembiaran.

Prestasi Jusuf Kalla sebagai Politikus.

Dua presiden ia dampingi, dengan dua gaya yang bertolak belakang. Satunya seolah mau menyalib dan tidak sabar melihat SBY yang penuh pertimbangan. Boleh disebut juga lamban. Sering ia terlihat gregetan untuk cepat mengambil alih. Maka ketika ia menjadi rival untuk SBY dalam pilpres ia memilih jargon, Lebih Cepat Lebih Baik. Sangat pantas, sebagai seorang politikus lama, bandingkan SBY, plus pengusaha ia ingin serba cepat.

Nah berhadapan dengan Jokowi yang juga memiliki keyakinan kecepatan itu baik, JK tidak banyak ribet dengan itu. masih ingat lima tahun dalam dalam sebuah acara Najwa, Jokowi menyatakan ia lebih cepat dari Pak JK. Dan betul, jarang sekali terlihat JK overlap dengan Jokowi, beda dengan waktu bersama SBY. Usia juga menentukan, selisih lima tahun tentu  sangat berpengaruh.

Politik itu soal waktu yang tepat. JK seolah hilang ketika kalah berkontestasi dengan SBY. Tiba-tiba lima tahun berselang ia bisa bergandengan tangan dengan PDI-P dan Jokowi untuk menjadi penantang pilpres dan menang lagi. Tidak banyak orang bisa berlaku sabar di belakang dan bisa maju lagi dan menang.

Pemenang itu tidak banyak, lebih banyak korban kekalahan. JK bisa melihat itu, ketika ia kalah dalam pilpres sebagai capres, ia tidak enggan untuk menurunkan kelasnya menjadi wakil presiden. Dua kali menjadi calon wakil dan menang. Lihat bagaimana banyak pelaku politik yang kekeh dengan menjadi capres, contoh Amien Rais dan Prabowo. Kalah lagi dan lagi. Padahal sangat mungkin terbuka kemenangan jika menjadi wakil.

Diam dan tidak banyak ulah, ketika ada di belakang. Ketika SBY-Boediana menjadi presiden dan wakil presiden,  JK tidak banyak ulah, apalagi membuat kisruh berbangsa dan bernegara dengan narasi, komentar, dan  tindakan lain.Llagi-lagi bandingkan dengan Amien Rais dan Prabowo. Diam itu emas sangat terbukti.

Ia dilihat dan dipandang cukup bisa menjadi rekan yang baik, oleh PDI-P dan juga Jokowi ketika maju. Ingat Golkar d mana ia pernah menjadi ketua umum tidak mengusung dan mendukungnya. Toh gerbong yang ia miliki dan latar belakang tanah tumpah sangat membantunya bersama Jokowi memenangkan pilpres 2014.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN