Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Wiranto, Ninoy, Kekerasan Terulang, Perhatian untuk Paspamres dan Presiden Jokowi

10 Oktober 2019   18:17 Diperbarui: 10 Oktober 2019   18:26 0 16 6 Mohon Tunggu...

Pagi tadi Menkopolhukam Wiranto ditikam oleh terduga teroris, beberapa hari lalu pegiat media sosial Ninoy Karundeng juga mengalami tindak kekerasan. Jauh bertahun lalu, Tama S Langkun, sebagai pegiat  aksi antikorupsi dibacok orang. Hingga kini belum terungkap dengan gamblang.

Atau jauh lebih lama, pegiat Hak Azazi Manusia, almarhum Munir meninggal, masih juga meninggalkan tanya yang demikian besar. Belum terungkap. Apalagi jika berbicara kekerasan demi kekerasan yang puncaknya 1965 itu.

Sepak bola, jauh lebih banyak dikenal aksi kekerasan, kerusuhan, dan juga tawuran dari pada prestasinya. Masa kampanye lalu ada isu yang hendak berkembang ada nenek-nenek dianiaya, ternyata karena operasi plastik dan kini harus mendekat dalam penjara dua tahun lamanya. 

Kasus Ninoy dengan relatif cepat sudah diupayakan untuk diselesaikan. Pemeriksaan dan bahkan juga penahanan sudah mulai dilakukan. Tinggal menunggu ke mana arah dan muaranya, apakah akan sampai mengungkap tabir secara keseluruhan, atau lagi-lagi hanya sampai level operator dan pelaku lapangan semata.

Belajar dari kisah yang sudah-sudah seperti pelaku kerusuhan Mei lalu yang antiklimaks tidak ada tindak lanjut yang berarti, bahkan yang ditengarai termasuk kalangan dalang dan elit, satu demi satu ditangkap pun satu demi satu dilepaskan dengan berbagai-bagai alasan. Mirisnya mereka kembali lagi membuat opini, narasi, dan aksi pengulangan.

Jika benar berafiliasi pada gerakan fundamentalis dan pelaku teror, lagi dan lagi, jangan hanya pada dua pelaku, eksekutor lapangan itu saja yang perlu ditindaklanjuti. Memang akan susah menelisik jaringan terorisme. Minimal mereka memiliki mentor, mempunyai pelaku yang memberikan pengajaran dan indoktrinasi. Sangat mustahil mereka hanya melakukan berdua saja, tanpa ada yang menggerakkan.

Dalih klasik belajar dari internet, youtube, ada media percakapan lainnya. Toh tetap  ada mentor manusia yang secara langsung melakukan tindak untuk merekrut, meyakinkan, dan melatih mereka. Sama sekali bohong jika mengatakan mereka sendirian. Dan ini memang kerja sangat keras. Polisi dan jajaran perlu mendapatkan dukungan untuk itu.

Sangat mungkin menerapkan juga pasal barang siapa yang mendukung baik dalam aksi atau komentar, status, atau unggahan dalam media sosial perlu juga mendapatkan pidana, seminggu barang kali cukup. Sehingga orang bisa berhati-hati bersikap, berbuat termasuk dalam bermedia, apalagi jika itu adalah elit atau seleb yang memiliki penggemar dan pendengar fanatis.

Pelajaran berharga bagi bangsa ini, bahwa soal kekerasan dan keamanan itu penting. Kewaspadaan yang amat untuk paspampres yang memiliki presiden dekat dengan rakyatnya. Ini memang tidak mudah, karena karakter presiden yang benar-benar merakyat. Bayangkan seorang menko yang levelnya adalah sangat dekat dengan presiden saja bisa terkena tikaman.

Jika dulu-dulu adalah orang biasa, rakyat kebanyakan yang karena aktivitasnya banyak mendapatkan perhatian publik, masih sangat wajar. Kini orang lingkaran utama presiden terkena tikaman. Ini serius. Benar bahwa rakyat sendiri, pejabat tidak patut berjarak dengan rakyatnya sendiri. Namun ingat, rakyat yang mana dulu dan rakyat juga banyak yang model teroris dan penyuka kekerasan.

Pengawalan dan pendampingan presiden yang sangat longar selama ini bisa menjadi bumerang. Keberadaan presiden yang membuka akses kepada semakinn banyak orang dekat dengan presiden bisa dimanfaatkan oleh orang dan kelompok yang tidak suka dengan sepak terjang presiden. tentu berbeda dengan sikap presiden yang sudah-sudah yang sangat berjarak seperti raja atau presiden negara penjajah saja. Pengawalan yang amat ketat sehingga susah rakyat bisa berinteraksi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x