Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Tim Mawar, Jack Reacher, dan Tentara Nakal

13 Juni 2019   09:00 Diperbarui: 13 Juni 2019   09:17 0 19 9 Mohon Tunggu...

Jack Reacher, Tim Mawar, dan Tentara Nakal

Sebenarnya pekerjaan kotor, nakal, dan seolah lepas, dari kesatuan atau organisasi utuh sangat biasa dalam hidup bernegara, atau organisasi. Ada pula dalam konteks sempit kita dalam kepanitiaan, ada seksi sibuk yang sangat ribet dengan banyak hal, padahal dalam struktur resmi malah tidak ada.

Jack Reacher 2 yang berjudul, Jack ReacherGo Back secara garis besar berkisah mengenai si Tokoh Utama, adalah  mayor jagoan, hero, lurus, namun abai kondisi sosial. Tugas akan beres, namun jangan harap sesuai aturan secara ketat. Hitam dan putihnya bukan hukum yang menjadi panglima.

Nah ketika perdagangan senjata gelap, tokoh ideal yang lurus, bersih, taat aturan, dan tidak akan pernah melanggar hukum ini menjadi santapan empuk untuk menjadi anak domba persembahan bagi lajunya para pelaku kejahatan yang menguasai semua lini.

Posisi lain adalah si pelaku kejahatan yang bisa merekayasa banyak upaya untuk menyelamatkan diri, kelompok, dan jelas kepentingannya. Ekonomi paling mudah menggoda orang untuk berbuat khianat.

Memang secara umum jelas klasik banget, di mana jagoannya akan menang melawan si jahat dengan berbagai upaya kadang mustahil, namanya juga film. Dramatisasi yang hebat meskipun mustahil penonton senang dan itulah yang dijual. Tokoh baik kembali pada posisi semula, dan si jahat mati atau masuk bui.

Saat ramai-ramainya pembicaraan tim mawar,  di mana ada nama Prabowo dan kisah panjangnya, pas banget nonton lagi film ini. Jadi ingat sangat mungkin bahwa garis komando itu pun dihuni dan dikuasi banyak faksi. Ini faktual, dan hanya utopia yang berbicara tidak mungkin itu.

Kepentingan yang sangat mungkin, jika dalam film itu adalah soal uang atau ekonomi semata. Namun jika dalam politik bangsa ini ada beberapa kepentingan yang berbicara. Namun sering karena bersikukuh dengan adat ketimuran, sering abai melihat kenyataan, lebih sering menyangkal yang tidak menyelesaikan masalah.

Pertama, budaya korup yang sudah dianggap wajar. Ketika para jenderal memiliki kekayaan yang luar biasa. Ingat masa lalu ada istilah jenderal gendut pun belum pernah diusut dengan tuntas. Apalagi produk Orde Baru khususnya AD. Masih lagi dengan dwi fungsi kacaunya di masa lalu, membuat mereka menjadi raja di raja.

Kekuasaan yang bermuara pada kekayaan jelas menjadi fokus produk masa itu. Dan ketika  keadaan makin terasa akan tertib, membaik, dan memang jelas arahnya, jelas saja banyak yang tidak setuju dan tidak rela. Sangat mungkin melakukan perlawanan.

Kedua, sejarah panjang DI-TII masih ada, dan itu sering direpresi dengan kata tidak mungkin, tidak ada lagi, satu komando, dan sejenisnya. Ini harus diakui dan dijadikan perhatian bersama. Apalagi era kini lebih modern pendekatan, masukan, dan pola rekrutmen menjadi anggota baik militer ataupun kelompok fundamentalisnya. Jelas DI memang telah berakhir, namun apakah pemikiran dan ideologi sejenis sudah tamat? Belum tentu.

Padahal dengan mengakui bahwa potensi itu masih ada, dan cukup kuat dalam kondisi dunia sekarang ini, menjadikan waspada dan berjaga-jaga dengan lebih baik lagi. Lihat saja mana-mana yang NKRI sejati, dan mana yang NKRI semata hanya menjadi alat ketika sudah kuat mau dibuang.

Jelas ini bukan semata dalam dunia militer, hampir semua lini sudah dimasuki dan cukup kuat pengaruh mereka. Ketika sudah begitu kuat, ada upaya untuk merontokan mereka, upaya mengembalikan keadaan aman, tenang, dan jalur bagus mereka tetap diupayakan. Dan itu yang timbul dengan berbagai macam isu, kejadian, dan peristiwa yang ada saat ini.

Ketiga, model potong kompas, suap dan uang yang berbicara dalam kenaikan pangkat dan rekrutmen. Nah ketika banyak petinggi sudah keluar uang, namun kemudian kesulitan memperoleh materi di luar gaji, wajar jika mereka berontak dan mengupayakan kembalinya pola lama yang menyenangkan pihak dan kelompok mereka.

Keempat, militer yang suka politik praktis. Ini hal yang lumrah di masa lalu. Dan itu sangat mungkin masih demikian kuat melekat dalam beberapa elit dan senior militer. Memang masih perlu beberapa waktu untuk memiliki militer sepenuhnya barak dan mengurus pertahanan semata.

Sangat mungkin faksi ini cukup kuat dan suka atau tidak cukup dominan dalam percaturan nasional. Apa yang biasa menjadi miliknya, rangkaian panjang sudah disiapkan dan tiba-tiba malah berakhir berbeda.

Upaya, usaha, dan keadaan itu sangat wajar, semua itu mencari posisi yang setimbang, ada kesimbangan dalam banyak hal. Goyangan yang diperlukan untuk mendapatkan kondisi yang baik itu menjadi penting. Nah ini semua memang perlu dilewati untuk menuju gerbang emas itu.

Pesimisme perlu disingkirkan, optimisme perlu digelorakan, di tengah kehendak ketamakan, tetap ada kelompok bhayangkara negara yang sejati. Militer nasionalis tulen yang lepas dari kehendak kekuasaan semata.

Semua memang harus terjadi, namun semua juga akan berakhir. Negara makin baik melalui jalan terjal dan berkelok, dan harapan baik terkembang.

Terima kasih dan salam