Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Kandidat Pilihan

Kepanikan Prabowo Membuka Karakter Aslinya

7 Desember 2018   05:00 Diperbarui: 7 Desember 2018   04:59 933 32 18

Hari-hari kampanye ini jauh lebih riuh rendah dengan blunder dan kelucuan Prabowo. Ada dugaan dan itu cukup meyakinkan, jika pilihannya ini karena menduplikasi cara kampanye Donald Trump. Penggunaan dengan jelas jargon kampanye Make Indonesia Great Again. Yang jelas-jelas copas dari kampanye DT di USA.

Pengulangan kebohongan, menanggapi peristiwa atau isi dengan tergesa-gesa atau grusa-grusu, merendahkan pihak lain, membuat sensasi tanpa bukti, arogansi atas profesi, dan merasa harus menjadi pusat perhatian, serta arogan untuk mengatur ini dan itu sesuai dengan kepentingan dan kesenangannya.

Memang tidak ada yang sempurna di dalam dunia ini, namun paling tidak, seorang pemimpin itu masih yang wajar-wajar saja. Apa yang ditampilkan Prabowo selama ini cenderung dominan dalam hal-hal yang lemah sebagai seorang pemimpin.

Pengulangan kebohongan

Cukup menarik hal ini, ketika seorang pemimpin kog dengan ringan menyatakan kebohongan. Baik dilakukan sendiri atau dilakukan pihak lain, demi pembelaan rekan atau koleganya. Jelas paling fatal ya pada kasus RS. Toh selain itu juga banyak, hal yang sama diikuti oleh lingkaran terdalamnya, dengan mengatakan kebohongan yang dengan mudah kemudian ditarik kembali dan eminta maaf.

Permintaan maaf pun bukan sebagai sarana evaluasi, memperbaiki keadaan, namun demi menjual kebanggaan diri, merasa berjiwa besar dengan meminta maaf. Itu omong kosong karena toh diulangi lagi dan lagi. Kebohongan bukan hanya dua tiga kali, ini berkali-kali.

Salah itu normal, manusiawi, dan natural, namun kalau kesalahan yang diulang-ulang, ada yang menyebarkan dengan sengaja dan masif, itu jelas bukan manusiawi lagi. Kalah oleh keledai yang dijadikan simbol hewan yang bodoh.

Grusa-grusu

Fatal sebagai seorang pemimpin, ketika grusa-grusu, di dalam merespons kejadian atau peristiwa. Cek dan ricek menjadi penting bagi seorang pemimpin. Contoh paling konkret lagi-lagi kisah RS, pun banyak hal yang jadi lelucon juga karena ia lemah dalam hal ini. Penting cepat dan  kebatklewat, yang penting cepat soal benar salah belakangan.

Hal yang sama dilakukan Sandi mengenai prestasi  menteri  KKP. Dan ujung-ujungnya minta maaf. Gaya kepemimpinan yang berbahaya jika demikian, perlu hati-hati.

Merendahkan Pihak Lain

Hal yang sangat biasa sebenarnya dalam alam hiburan kita, Srimulat, lawakan-lawakan kita cenderung menjual kekurangan tim itu, atau menghibur dengan menertawakan kekurangan tim. Bagaimana Pak Bolot yang membuat orang terpingkal karena peran tulinya, atau Pak Bendot yang menjadi bulan-bulanan, atau Tessy sebagai perempuan jadi-jadian yang memang menimbulkan tawa.

Itu lawakan zaman dulu, kini dengan ala stand up comedy, beda jauh. Menjual kelucuan dengan cerdas, keren, dan tidak perlu menjual rekans ebagai obyek penderita. Lawakan sendirian saja toh bisa dan kadang jauh lebih lucu.

Nah mempermalukan audien itu model kuno, lawakan masa lalu, jika hendak memecah kebekuan dalam komunikasi dan interaksi di dalam pembicaraan.  Tampaknya juga berkaitan dengan keinginan dirinya adalah pusat perhatian.

Arogan dalam menjadikan dirinya adalah pusat perhatian

Diperlihatkan dengan marah pada mak-mak kala ia berbicara namun banyak yang asyik rebutan buku. Lihat itu ia mengatakan saya yang bicara atau anda. Lihat bukan siapa yang ingin menjadi pusat? Pun dalam kisah drama 212, kala media tidak menampilkan itu dalam pemberitaan, ia marah dan menuduh media tidak benar lagi. Ini bukan soal berapa yang datang atau apa acara itu, namun bagaimana ia tampil dan tidak menjadi pusat perhatian.

Pernyataan kontroversial yang abai data atau data separo, atau mengaitkan fakta dengan keinginan sendiri.

Beberapa kali yang ia nyatakan itu sebatas ilusi. Bagaimana soal 99% rakyat hidup pas-pasan. Benar masih ada yang kekurangan, namun tidak sebesar itu juga. Pun kenaikan orang miskin yang ia nyatakan 50% peningkatannya, ah dari mana yang terjadi demikian? Jelas itu  tidak berdasar.  Demikian juga dengan isu-isu lain.

Fokus perilaku dan pilihan Prabowo adalah menjadi pembicaraan di media. Dua kemenangan di USA dan DKI Jakarta menjadi pola yang diyakini sebagai sakti, mantra mujarab, dan satu-satunya jalan untuk menang. Sangat wajar karena memang tidak memiliki apa-apa untuk bisa melawan incumben.

Berbeda dengan JK ketika menantang SBY, posisi hampir setara, hanya saja memang jauh lebih menjanjikan dan menjual SBY dari pada JK. Namun bekal dan modal JK hampir sama. Pejabat publik yang bisa berjalan mondar-mandir di media, di daerah-daerah, kinerja pun tampak dengan jelas. Lha Prabowo yang memilih posisi "oposisi" sayangnya cenderung asal berbeda. Posisi yang makin menepikan Prabowo.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2