Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Pramoedya Ananta Toer, PKS, dan Mendadak Ulama

10 Oktober 2018   05:00 Diperbarui: 10 Oktober 2018   05:08 800 26 13

Dalam salah satu karyanya Eyang Pramoedya Ananta Toer berkisah mengenai kerajaan era Tuban, Demak dengan petualangan Portugal dan Spanyol. Salah satu tokoh dalam Arus Balik, adalah seorang syahbandar yang bernama Rangga Iskak. Si Rangga Iskak ini pada akhinya hidupnya menjadi Sultan Rajeg. Perjalanan dari Ki Aji Benggala, dan Kia Benggala

Entah apa elit PKS itu belajar dari kisah Eyang Pram, nampaknya tidak, kan Eyam Pram ekstapol Komunis yang tidak disukai  partai yang amat gemar mengenai agama itu. Juga alergi atas paham Komunis. Atau memang nada dasarnya justru sama? Hanya mereka yang tahu.

Rangga Iskak itu terusir dari jabatan strategis sebagai syah bandar. Sangat menguntungkan karena pengetahuan yang lebih luas dari si adipati sendiri, dia bisa melakukan banyak hal. Tidak heran dalam kisahnya kedudukan ini malah lebih mentereng dari si adipati, gedung, bahkan kekayaan, karena pelabuhan bisa mengutip apa yang tidak diberikan ke kraton.

Pengetahuan yang lebih luas sangat membantu posisinya yang lebih dekat pada adipati, dibandingkan patih sekalipun. Memiliki pengetahuan dan bisa menganalisis kondirsi luar berdasar informasi yang ia peroleh, kedudukannya tidak akan lama. Ada sah bandar dari Malaka yang tidak akan lama lagi pasti datang, dan dia terdepak.

Benar saja Sayid Habibullah Alwasawa datang dan membuatnya terusir dari gedung batu yang ia banggakannya. Hanya rumahnya yang gedung mengalahkan kraton adipati sekalipun. Terusir yang sangat menyesakkan. Ia pergi ke pedalaman karena tahu dengan baik kualitas adipati dan seluruh pemangku kadipaten.

Di pedalaman ia bergelar Ki Aji Benggala yang menghimpun rakyat untuk memeluk Islam dan banyak pengikut yang mulai percaya akan ajaran baru ini. Padepokannya makin ramai karena  menawarkan hal yang baru. Ia bisa menjadi penguasa yang cukup kuat untuk bisa menyaigi kadipaten, apalagi adipati makin tua dan sakit-sakitan.

Meningkatkan citra diri menjadi Sultan  Rajeg tentu keputusan yang menguntungkan kedudukannya. Posisi yang sangat kuat di hadapan para pengikut yang baru mengenal Islam. Siapa yang tahu dengan  baik apa itu Islam, sumber, referensi, dan satu-satunya yang mereka tahu ya Sultan Rajeg sendiri. Demak yang sudah kuat keislamannya toh  tidak sampai ke pedalaman di mana Sultan Rajeg mendirikan "kerajaannya" itu.

Kondisi ideal untuk menanamkan pengaruh dan sangat menjanjikan untuk meraup apa saja. Kedudukan, kehormatan, pengaruh, dan nama diri jelas menjadi milik yang sangat membanggakan, lebihd dari sekadar syahbandar yang memang mejamin kekayaan, namun kedudukan, dan kehormatan, belum sebagus di padepokannya itu.

Dalam kasus kekinian, ketika usai ribut jenderal kardus, demi "pembelaan" atas usulan ijtima ulama yang mereka abaikan, elit PKS menyebut Sandi sebagai santri post-Islamisme. Akhirnya pun pembelaan yang lahir pun belepotan dan tidak juga menambah apa-apa bagi ledekan jenderal kardus. Pembelaan yang sejatinya sia-sia, karena jelas tidak mengubah fakta yang ada.

Diadakanlah akhirnya ijtima ulama 2, dan kembali lahirlah kalau Sandi itu ulama. Inilah puncak di mana status Sandi dari "sekadar" santri kini melonjak menjadi ulama. Lagi dan lagi, upaya belepotan ini pun ditingkahi dengan belepotan baru, di mana dikatakan kalau ulama yang dimaksud adalah ahli, dalam konteks ini Sandi adalah ulama dalam arti ahli bisnis atau ekonomi.

Lucunya oleh koleganya separtai, dibantah bahwa bukan ulama, namun pedagang. Jelas bahwa upaya belepotan ini karena memaksakan definisi yang disangkutpautkan, meskipun jauh dari itu semua. Membenarkan pilihan, bukan memilih dengan benar yang dilakukan.

KBBI memberikan definisi ulama adalah benar memang ahli dalam bidang, namun secara spesifik diberi batasan ilmu agama Islam. Artinya, bukan ahli dalam bidang yang lain. Tidak bisa pak Habibie dinyatakan sebagai ulama pesawat terbang. Atau Deddy Corbuzier ulama sulap. Tidak masuk definisi ini dalam konteks KBBI.

Jika pun Sandi itu berangkat dari pesantren, atau memang ulama dalam keagamaan, lha memang akan mengubah keadaan? Sama juga dengan latar belakangnya yang pengusaha, atau bahasa Fahri itu pedagang. Lha memang kalau santri dan ulama lebih baik dari pada pedagang atau politikus, atau sebaliknya, kalau birokrat pasti lebih jelek dari pada jika ulama?

Memaksakan label ulama dan santri pada Sandi sejatinya malah mempermainkan keulamaan, membuat dikotomi dan pelabelan dalam politik. Demokrasi yang katanya dijunjung tinggi, namun malah membuat pembatasan-pembatasan yang jauh dari semangat dasar berdemokrasi.

Salah satu esensi demokrasi adalah kesamaan dalam dalam banyak hal. Sama di muka hukum, sama di dalam kesempatan untuk apa saja. Diskriminatif perlu disingkirkan jauh-jauh, jika memang mengaku sebagai pribadi demokratis.

Menjual label, agama, ataupun kesukuan, hanya dilakukan oleh kelompok yang minder. Merasa kecil dan berlindung di balik yang besar, yaitu agama atau suku. Apalagi memaksakan diri dengan mengubah-ubah tafsiran istilah.

Agama dan keagamaan memang sangat menjanjikan dalam mengumpulkan massa dan kehormatan. Sensitifitas dari masa ke masa masih saja relatif sama. Hal yang telah sukses diselesaikan, sayang kembali menggejala lagi.

Terima kasih dan salam

Inspirasi: Arus Balik