Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Hobi

Artikel Pilihan ke-1000, Terima Kasih Kompasiana dan Kompasianers

14 Juni 2018   09:20 Diperbarui: 14 Juni 2018   09:51 562 32 29

Artikel pilihan ke-1000 ini bukan hal luar biasa, kalau titik tolaknya adalah Kompasianers lain, ketika menjadi acuan adalah saya sendiri, ini sangat luar biasa. Tentu bahwa sangat tidak ada apa-panya kalau melirik statistik rekan-rekan lain. Bahwa ada hal yang bar bagi saya pribadi yang bukan siapa-siapa mendapatkan apresiasi besar dari Kompasiana.

Hal biasa namun sangat menyenangkan karena uniknya, tidak akan ada lagi angka 1000 di statistik artikel pilihan, meskipun prisentase artikel pilihan saya tidak termasuk tinggi, toh esok atau esoknya lagi tetap akan bertambah. 

Beberapa hal yang saya peroleh adalah dengan angka ini,

Kebersamaan dengan rekan lain dalam berinteraksi jauh lebih besar dampaknya daripada label. Tentu hal  ini bukan hendak menafikan atau meremehkan status label itu. Dulu sangat tidak signifikan terhadap pembaca, namun sekarang sangat pesar pengaruhnya. Namun belum tentu bahwa tanpa label akan sepi ataupun tidak ada ruang diskusi  termasuk bercanda di sana.

Sebentuk tantangan diri untuk tetap konsisten, minimal mengalahkan diri sendiri untuk enggan, malas, dan merasa jenuh. Sering hal itu hinggap tanpa disangka-sangka. Nah dengan ada sarana untuk pengembangan diri, ada guru dan master yang akan memberikan masukan dan dorongan, mengapa tidak. Bayangkan saja enaknya berkompasiana itu sedikit hujatan dan celaan, tidak suka itu akan menyingkir, ini yang membuat betah.

Kekhasan di dalam berinteraksi membuat nyaman. Jarang caci maki, memang ada satu dua akun yang memiliki gaya demikian, toh didiamkan atau tidak ditanggapi akan bosan sendiri. Berbeda di tempat lain yang ternyata seolah yang penting ramai, meskipun caci maki tidak berdasar pun dianggap normal. Bermedia, meskipun media warga tetap mmemiliki tanggung jawab untuk ikut juga membangun melek media yang bermartabat.

Guru menulis dan berinteraksi. Bertebaran guru gratis, Cuma-Cuma, sekaligus  motivator untuk maju dari titik awal. Bagaimana masukan, kritikan, dan kadang juga komentar ngelantur itu mau tidak mau membuat kita bisa maju dan berkembang. Bisa lebih bijaksana memilih judul, isi, dan artikel sehingga tidak menggundang kegaduhan yang tidak penting.

Mencoba dunia baru yang selama ini hanya bayangan semata. Siapa yang tidak grogi, gentar mau menulis yang bukan kebiasaan, kalau saya mencoba fiksi, sedangkan banyak level pujangga, toh malah dari sanalah akhirnya berkembang mencoba dan asyik juga dunia yang akan berbeda. Belum lagi ketika para penghuni lama pada kanal itu memberikan apresiasi dan dukungan yang positif.

Mencoba untuk mau mendorong diri dan rekan melalui komentar positif. Memang kadang tahu bahwa artikel itu bukan sebagaimana kupasanny, apalagi soal politik, mencoba untuk tidak menjatuhkan dengan memilih normatif dalam berkomentar. Mengapa? Ketika tidak mau mendapatkan komentar yang menjatuhkan, jangan melakukan hal yang sama. Hal yang tidak mudah memang. Dan selama ini memperoleh itu semua juga karena kebersamaan bersama rekan-rekan.

Label itu bukan sebagai tujuan, namun apreasiasi dari Admin, pun ramainya rekan lain juga bentuk apresiasi yang berbeda, namun esensinya sama. Di sinilah peran untuk menulis ya menulis saja, tidak tergantung label atau ramai dan sepinya. Mengapa demikian? jika fokus pada warna biru di atas, atau ramainya notifikasi yang menunjukkan banyaknya vote dan komentar, bisa patah arang dan enggan menulis.

Kompasiana, berbeda dengan koran, atau blog pribadi. Membuat menarik dan marak adalah adanya saling kunjung. Tentu bukan dalam arti minta balasan, jika ada yang berpikir demikian, ya bisa saja demikian, namun bentuk interaksi dan dukungan atas karya rekan lain. Ada yang memiliki penilaian lain, bisa saja dan sah-sah saja tidak ada yang salah.

Empat tahun lebih 12 hari, dengan 1000 artikel highligt dulu, dan kini artikel pilihan, cukup puas, sekitar 250 per tahun, dan mohon maaff bagi rekan yang tidak berkenan karena  jenuh dengan artikel itu lagi itu lagi.

Apa yang saya peroleh ini, sama sekali tidak ada apa-apanya jika membandingkan dengan capaian rekan lain. baik prosentase, isi, ataupun label lainnya. Namun ini adalah karya, buah pikir yang tertuang dalam tulisan. Saya tidak malu meskipun sepi hanya dua digit pembaca, tidak akan pernah menghapus tulisan, bentuk dalam microsoft word, pun masih ada dan utuh.

Terima kasih Rekan Kompasianers atas dukungannya, Kompasiana atas apresiasi dan kesempatannya. Dan Selamat Hari Raya Idul Fitri mohon maaf lahir dan batin.

Terima kasih dan salam