Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

TGB Matahari Kembar Jilid II Demokrat

22 Maret 2018   17:54 Diperbarui: 22 Maret 2018   18:35 0 9 6 Mohon Tunggu...
TGB Matahari Kembar Jilid II Demokrat
ilustrasi. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

TGB matahari kembar jilid II Demokrat, beberapa waktu lalu, Anas Urbaningrum seolah menjadi duri dalam daging bagi Demokrat. Nama, pemikiran, dan sepak terjangnya sangat  merisaukan. Apalagi tambah membahayakan bisa menjadi ketua umum partai sedang berkuasa. Posisi yang sangat membayakan bagi keberlangsungan trah Yudhoyono. Gonjang-ganjing Hambalang, mengantar Anas Urbaningrum ke penjara. Sumpah gantung di Monas pun tidak membantunya dari jerat KPK. Anas pun redup.

Tahun berganti, dengan cengkeraman kuat dalam tangan Pak Beye sepenuhnya, tidak ada lagi kader yang "berani" untuk menggoyang posisi "kepemilikan" partai Demokrat. Apalagi usai pengunduran diri AHY dari dinas militer, yang jelas penuh akan menjadi kandidat presiden, dan memegang penuh tampuk kekuasaan Demokrat ke depannya.

Akhir-akhir ini, ada sebuah nama yang muncul sama terangnya dengan AHY dalam diri salah satu pengurus Demokrat di Nusa Tenggara. Tuanku Guru Bajang. Dalam banyak pembicaraan nama ini pun masuk dalam radar untuk capres dan cawapres. Mirip dengan Anas, malah Anas sama sekali tidak pernah masuk dalam posisi kuat soal survey, pembicaraan capres atau cawapres. Posisi jauh lebih menghawatirkan TGB sebenarnya, apalagi posisi Demokrat yang tidak jelas, menengah lagi.

Perbedaan namun jauh menguntungkan TGB adalah, pertama, TGB awalnya kader partai lain, PBB, bukan asli partai Demokrat. Bisa mendapatkan dukungan dari partai yang sealiran, seide, sejaln dengan masa lalu, jika Demokrat membahayakan kondisi politisnya. Hal yang membedakan dengan Anas yang lalu.

Kedua,posisi atas angin TGB dibadingkan AHY yang masih terbebani usia muda, kegagalan di Jakarta, dan di bawah bayang-bayang Pak Beye. Hal yang secara psikologis politis toh cukup kuat. Keadaan yang bisa justru menjadi kekuatan bagi TGB.

Ketiga,TGB sukses dengan bukti sebagai gubernur. Kebalikan dengan point dua yang sangat jelas njomplangperbedaannya. Hal ini tentu akan diolah dan dijadikan bekal yang cukup kuat untuk melakukan langkah politis yang penting.

Keempat,masa lalu pejabat, bukan militer jauh lebih menguntungkan untuk berpasangan dengan capres atau cawapres siapapun. Militer bisa diterima, sipil pun tidak masalah. Beda dengan  posisi AHY yang militer, tentu sangat terbatas.

Keuntungan AHY pun tidak kalah kuatnya dengan keberadaan putra presiden. Pengalaman Pak Beye cukup menentukan. Beberapa hal ialah,

Pertama,pasokan data dan kepentingan politik dengan modal mesin partai cukup besar. Meskipun sedang tidak pada puncak, pun posisi Demokrat masih cukup baik. Diperlengkapi dengan Yudoyono Institutesangat membantu keberadaannya.

Kedua,level sudah nasional, jauh di atas TGB yang masih lokal, belum punya cukup nama di pentas nasional. Ini pun tidak lepas dari SBY dan Demokrat. Ini bisa menjadi kekuatan pun sebaliknya sangat melemahkan.

Ketiga,pengalaman militernya, meskipun singkat, cukup untuk membantu di level nasional. Pertahanan cenderung menjadi kepentingan nasional. Dan posisi di sini lebih unggul. Meskipun masih perlu juga dibuktikan dengan kinerja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2