Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Estetisasi dan Politisasi, Kemasan Menjadi Prioritas daripada Esensi

12 Februari 2018   05:20 Diperbarui: 12 Februari 2018   06:29 465 10 6
Estetisasi dan Politisasi, Kemasan Menjadi Prioritas daripada Esensi
Ilustrasi: Shutterstock

Estetisasi dan politisasi, kemasan menjadi prioritas daripada esensi, gaya berpolitik dan bernegara, nampaknya sejak zaman kolonial hingga hari ini masih setali tiga uang. Tidak jauh berbeda, hanya pelakunya saja yang berganti. 

Mengedepankan keindahan, kalimat indah meninabobokan, menjual impian semata, namun tidak dibarengi dengan kerja keras dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat secara umum.  Elit bangga dengan keglamoran dan kemwahan, gelar atau titel yang berderet meskipun kualitasnya jauh dari itu semua.

Estetis dan kemnafikan. Membangun kuburan yang sangat indah, megah, serta mewah, toh isinya juga sama saja, mayat.  Tentu tidak suah bukan menemukan bagaimana contoh, fakta, bukti, dan gambaran mengenai kemunafikan di dalam perilaku hidup berbangsa dan bernegara ini.

Rumah ibadah selalu penuh, kalimat suci dan saleh bertebaran, namun toh perilaku tamak, korup, memfitnah, menggunakan segala cara untuk kekuasaan menjadi gaya hidup. mendua yang luar biasa bertolak belakang bisa dilakukan oleh pribadi yang sama. Ritual menjadi lebih berharga daripada pengamalan dan perilaku saleh lainnya. Anggapan kalau ibadah baik  otomatis perilaku saleh dan baik juga.

Budaya retak, di mana realitas dan bungkusnya berbeda. Kembali tersaji dengan mudah bagaimana hal tersebut marak di dalam kehidupan bersama kita. Bagaimana pemuka agama namun perilakunya jauh dari nilai agama. Namanya wakil rakyat namun hanya tidur saat mewakili rakyat. Anak-anak namun sok seperti ibu-ibu dan sosialita. Pemain berlagakmenjadi wasit, dan maling serupa polisi dan sebaliknya.

Bungkus rapi dalam penampilan,  ucapan, dan sikap, namun di belakang bisa sangat bertolak belakang dan menjadi begitu lain dan berbeda.  Berbusa-busa teriak mengenai korupsi namun di belakang juga ternyata doyan suap. Mengatakan antinarkoba, eh penuh dengan pelaku narkoba di depan mata juga diam saja. Jalan raya jelas menjadi etalase hal ini. lihat marka jalan ada, diperbarui dengan rutin, zebra crosjuga banyak, rambu-rambu apalagi, toh apa ada yang perhatian?

Antara wacana dan rencana serta pelaksanaan yang bertolak belakang. Selalu saja indah di dalam perencanaan, bagus dalam rencana, dan dan seremonial, namun jauh dari kenyataan dan pelaksanaan. Pelaksanaan nol besar sedangkan dalam perencanaan berpanjang lebar, diskusi berlama-lama. Indah di dalam lembaran ini dan itu. Seremoni heboh, namun miskin esensi dan perubahan.

Budaya memperindah, toh malah menjadi sumber korupsi, sumber kekisruhan, tidak heran ada yang mengatakan lebih baik dibebaskan saja, biar tidak ada pelanggaran. Ungkapan saking jengkel, muak, dan malas berbicara keteraturan di sini. 

Korupsi merajalela, kebohongan dan pembohongan publik saja seolah menjadi gaya hidup. padahal kemasannya indah, bagus, dan megah. Hal yang berkaitan dengan UU dan peraturan yang begitu banyak namun apa yang ada toh sama saja seolah tidak ada fungsinya selain menjadi lembaran negara  dan slogan bahwa pemerintah dan dewan sudah bekerja keras dengan itu.

Mengapa hal-hal demikian masih saja bisa terjadi?

Masyarakat mudah dibeli dan dikelabui dengan  hal yang tidak esensial. Pembiasaan yang menjadi pembiaran merusak semuanya. Saking lamanya pola yang sama diulang-ulang, masyarakat menjadi apatis dan pejabat suka menggunakan cara yang sama dengan model yang berbeda sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman.

Pendidikan yang terkondisikan untuk menciptakan bangsa pembeo, sikap manut,hafalan, dan abai akan sikap kritis, tidak heran kalau memiliki generasi penerus yang abai akan perilaku jahat. Tidak peduli dan mengikuti arus dan yang penting aman. Sekian lama pendidikan dengan campur tangan politik, kini dengan ekonomi dan bahkan agama, makin parah.

Agama, apapun pemuka agamanya, ternyata masih puas atas perilaku taat yang mendua, di depan baik, namun perilaku buruk toh biasa saja. Sayang sebenarnya ketika kehidupan beragama sesaleh dalam tampilan, namun perilakunya jauh dari itu semua, toh gerakan moral pemimpin agama selama ini belum ada. Belum berani sepenuhnya menolak perilaku jahat. Contoh, memang menolak korupsi, mengecam pelaku korup, namun toh menerima sumbangan dari jemaat atau umatnya yang tidak jelas asal usulnya keuangan si pemberi.

Penghargaan akan yang beraroma pakaian, bungkus, dan kemasan. Termasuk di sini adalah pakaian. Orang dihargai karena mahalnya pakaian, atau pakaian keagamaan, bukan perilaku. Pun prestasi kurang dihargai karena tidak memberikan sensasi di dalam hidup bersama.

Kekayaan menjadi yang utama daripada asal usul harta benda yang dimiliki. Jangan heran orang korupsi, maling, bahkan maaf menjadi pelacur pun bisa dengan cengengesanmenyatakan diri. Orang yang fasih menyitir kalimat dan kata-kata Kitab Suci dianggap sesuci apa yang diucapkan, padahal di waktu yang tidak lama sudah menodai ucapannya sendiri.

Jadi ingat sebuah kisah bijak yang mengatakan, jika orang yang tahu anggur atau minuman keras saja tidak akan menyebabkan mabuk. Namun sekarang banyak orang mabuk hanya melihat ada botol minuman keras di media.

Salam