Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja htttps://susyharyawan.com

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Langkah Strategis dan Politis Agus Yudhoyono dan Masa Depan Demokrat

20 Oktober 2017   06:31 Diperbarui: 20 Oktober 2017   08:24 1602 26 21 Mohon Tunggu...

Langkah Strategis dan Politis Agus Yudoyono dan Masa Depan Demokrat

Paling tidak ada tiga langkah besar dan strategis yang ditunjukkan Agus Yudoyono untuk bisa menjadi politikus besar di masa depan. Dengan mentor presiden dua periode, dan pengalaman birokrasi militeristik, kegagalan di pilkada DKI bukan sebentuk akhir segalanya. Langkah dan pilihan yang cukup menjanjikan dan memberi warna berbeda dengan perilaku sang mentor dan bapaknya.

Secara ksatria mengucapkan kalimat kemenangan atas pasangan Anies-Sandi dan Ahok-Djarot. Kalimat kemenangan juga menunjukkan sikap mengakui kekalahan sebagai hal yang jarang ditemui dalam hidup berdemokrasi di Indonesia. Latah dan menuntut ke mana-mana dengan separo fakta jelas lebih kuat dan menggejala, sejak pilpres lalu. Apa yang diungkapkan menunjukkan sikap kematangan di tengah kemudaan usia dan pengalaman, padahal ketenangan yang sama belum bisa ditampilkan bapaknya, yang belum lama kelihatan sangat emosional padahal jelas usianya tidak seharusnya demikian. lahirlah lebaran kuda dan meradang dengan banyak hal.

Pendirian the Yudoyono Institute, meskipun tidak lepas dari peran Yudoyono Senior, toh yang mengambil alih dan jauh berperan Agus. Posisi strategis yang bisa dijalani selama ini dengan apik. Tentu dengan wadah ini, bisa mengakomodasi dengan lebih tertata, bijak, dan lebih terarah langkah-langkah strategisnya. Tidak lagi melahirkan blunder demi blunder sebagaimana diciutkan Pak Beye. Kontribusi positif, pendidikan karakter dalam berpolitik, dan sikap bijak sekaligus kritis menjadi gaya baru bagi partai politik modern, tentu akan menjadi sejarah baik bagi bangsa dan negara.

Kunjungan kepada Ahok. Ini jelas langkah maju luar biasa. Gubernur dan wagub yang sebelum pelantikan menyatakan akan mengunjungi semua gubernur terdahulu, dan belum sempat, eh malah sudah keduluan. Tentu secara politik kredit poin diperoleh Mas Agus. Apalagi kompor media sosial menjadikannya bahan obrolan dan perbincangan yang cukup panas. Di sisi sebelah sedang mendapatkan justru beban dengan kata "pribumi." Secara politis tentu bisa ke mana-mana, namun sentimen positif jelas kepada siapa berlabuh.

Tiga langkah besar, dibarengi sikap Pak Beye yang tidak banyak mengumbar pernyataan, yang jauh lebih bersifat blunder dan merugikan, pilihan politik Agus jauh lebih bermanfaat. Jangan sikap Pak Beye yang reakif, mudah tersulut sepanjang kepentingan diri dan keluarga, dan terlalu buru-buru dalam menyikapi isu, namun kebijakan lamban justru merugikan jalan yang baru dirintis Agus. Sikap Agus nampak jauh lebih matang daripada Pak Beye sendiri. Matang bukan soal usia, namun sikap. Kolaborasi apik bapak dan anak memberikan angin segar ke Demokrat ke depan.

Investasi Agus dengan keluar dari jenjang karir militer jangan ditambah dengan kegagalan demi kegagalan. Patut mendapat apresiasi ketika tidak juga memaksakan diri untuk pilkada di Jatim dan Jabar. Jah lebih merugikan daripada menguntungkan. Bagi segi materi ataupun segi pengalaman. Kegagalan tetap membawa traumatis tersendiri. Apa yang perlu banyak dilakukan agar Demokrat tidak tinggal sejarah adalah,

Kemudi utama biar di tangan Agus, Pak Beye menjadi pengawas dan relasional lebih lanjut. Lobi-lobi tingkat tinggi masih di tangan Pak Beye, namun langkah ringan biar Agus. Keberanian Pak Beye melepas Agus dari militer juga harus sama dengan melepas Demokrat ke Agus. Jangan terlalu percaya diri dengan diri sendiri, bahkan anaknya pun tidak dipercaya. Kalau Ibas jangan, Agus bisa lah. Lebih cepat lebih baik, dengan catatan tetap dalam pengawasan dari Pak Beye.

Mengurangi semakin banyaknya anak buah loyalis naif, maaf menjilat. Selama ini lebih banyak kader Demokrat bermental ini. Bersih-bersih dengan alasan peremajaan tentu tidak ada salahnya. Nama sepertimantan menkop, Syarif, mantan menteri hukum juga saatnya minggir. Termasuk mantan menpora yang tidak kontributif seperti itu. Jauh lebih merugikan partai karena motivasi cenderung demi keamanan, kedudukan, dan kepentingan diri sendiri. Mereka tidak akan bisa kritis dan memberikan kritik yang berguna bagai kepentingan partai. Masukan yang lebih bernuansa pujian yang bisa membuat keadaan tidak lebih baik.

Saat yang tepat jika menjadikan Agus sebagai ketua umum. Konsolidasi ke 2018 pilkada serempak dan pemilu baik pileg dan pilpres 2019 masih cukup waktu. Tidak juga perlu dibebani menjadi caleg, karena toh tidak juga berguna dan memberikan pengalaman, malah berbahaya bisa tertular penyakit dewan, minimal malas.

Sikapnya yang tidak reaktif dalam banyak isu-isu panas sangat penting. Kondisi yang tidak menguntungkan jika salah berkomentar tentu menjadi bahan yang tidak baik bagi pengalamannya. Namun jangan juga diam saja, sehingga tidak terbaca, kemampuan, keterarahan, dan sikapnya. Pilih-pilih isu yang benar-benar penting. Pengalaman Pak Beye yang terlalu banyak komentar namun tidak pas, malah membuat kondisi Demokrat tidak membaik. Namun sediam Ibas yang membuat orang bertanya-tanya mampu tidak sih, juga bisa dimaklumi. Pergunakan media dengan cerdik. Apalagi kalau masuk Kompasiana. He...he...

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN