Mohon tunggu...
Parfi Khadiyanto
Parfi Khadiyanto Mohon Tunggu... pecinta lingkungan hidup dan arsitektur perkotaan

tinggal di semarang

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Orangtua di Tengah Keramaian Kota

24 September 2020   17:15 Diperbarui: 24 September 2020   17:19 13 4 0 Mohon Tunggu...

Orang pasti akan menjadi tua, orang yang baru lahir disebut sebagai bayi, kemudian tumbuh menjadi anak-anak, dewasa, dan akhirnya menjadi orang tua. Kalau dilihat secara statistik, jumlah orang tua makin hari makin banyak, karena angka harapan hidup semakin meningkat. Tetapi di sisi lain, pembangunan perkotaan yang dirancang oleh para pakar, belum berorientasi kepada kelompok orang tua ini, padahal orang tua atau sebut sebagai orang usia lanjut, juga butuh rekreasi dan komunikasi dengan orang lain di ruang publik. Wadah untuk mereka belum tersedia, kalau toh ada, hanya didesain sebagaimana lazimnya ruang untuk orang usia muda atau dewasa.

Bukan hanya anak-anak dan orang dewasa saja yang mebutuhkan udara segar, berolah raga, pergi ke kantor pos, atau ke toko-toko, naik kendaraan umum dan kegiatan lainnya. Sayangnya desain yang ramah kepada orang usia tua ini belum sepenuhnya menjamin kemudahan dan keamanan bagi mereka.

Sebenarnya usia berapa sih yang bisa dianggap sudah tua? Apa 50 tahun, atau 60 tahun, atau 70 tahun? Untuk negara kita di Indonesia ini, mungkin lebih mudah pakai patokan usia pensiun, tapi ternyata usia pensiun berbeda-beda, militer usia 56 tahun sudah pensiun, PNS usia 58 tahun sudah pensiun, guru usia pensiun baru setelah 60 tahun, yang dipakai yang mana? Karena saat ini melihat kemampuan fisik orang usia 60 tahun ke bawah itu masih sangat bagus, rasanya tidak pas kalau orang dinyatakan sebagai tua pada usia di bawah 60 tahun. Kita anggap batasan tua itu usia 60 tahun ini, yaitu kalau sudah memasuki usia 60 tahun ke atas, maka dia bisa dinyatakan sebagai orang yang sudah tua, mungkin. Sementara kita pakai terminologi ini dulu.

Secara umum, orang yang usianya sudah 60 tahun, kalau didasarkan pada usia perkawinan secara umum, maka pada saat dia berusia antara 25 -- 30 tahun sudah menikah, kemudian satu tahun berikutnya punya anak, jadi anggap saja anak lahir pada usia 31 tahun.

Nah saat usia sudah mencapai 60 tahun, maka anaknya sudah berusia 29 tahun, sudah menikah juga. Maka orang yang sudah usia 60 tahun biasanya hanya tinggal di rumah bersama istrinya saja, sebab anaknya sudah nikah dan mungkin sudah punya anak juga, dan tinggal di rumah yang berbeda, atau bahkan mungkin tinggal di kota yang berbeda.

Saat orang tua usia 60 tahun ini hidup bersama istrinya, kebutuhan hidup sehari-hari tetap harus dijalani, umpamanya pergi ke warung atau toko untuk belanja, ke apotik, ke rumah sakit, ke kantor pos, dan sebagainya. Data menunjukkan bahwa saat ini ada sekitar 20% populasi penduduk kota yang tercatat sebagai lansia. Kalau penduduk kota itu berjumlah 1.000.000 jiwa, maka ada sekitar 200.000 jiwa usia lanjut atau tua, ini bukan jumlah yang sedikit. Apaka pemerintah kota sudah siap melayani kebutuhan hidup bagi mereka, dalam artian kebutuhan untuk pergerakan mereka (mobilitas).

Marilah kita lihat satu persatu membedah komponen pergerakan manusia di perkotaan, antara lain: pedestrian (tempat untuk berjalan kaki), bagaimana kondisinya? Apakah sudah mengakomodasi kepentingan orang lanjut usia, yaitu rata, tidak licin, kering, dan teduh. Orang tua sudah susah untuk berjalan di tempat yang bergelombang, orang tua sudah susah untuk berjalan di tempat yang licin dan basah, orang tua sudah tidak kuat berjalan di tempat yang terlalu kuat sengatan mataharinya.

Kemudian, bagaimana kondisi angkutan kota (kalau dia mau naik angkot), apakah sudah menjamin kemudahan naik dan turun dari angkot, apakah sopir dan kondektur angkot sudah memahami bagaimana cara melayani orang tua?

Kemudian untuk tempat tinggalnya, apakah sudah ada lokasi khusus untuk bercengkerama bagi orang usia lanjut, sebagaimana kita ketahui bahwa orang tua sangat rentan terhadap kebisingan dan kegaduhan anak-anak muda yang mungkin bermain bola di taman kota.

Ternyata PR (pekerjaan rumah) kita makin hari makin banyak dalam menata kota, tetapi selalu dan selalu yang diolah dan dipikirkan hanya melihat bahwa kota itu untuk orang usia muda dan dewasa saja, kapan kita mau berubah? Tergantung dari kepekaan masing-masing orang yang berprofesi sebagai perancang kota dan pemangku jabatan pengatur kota, semoga mereka bisa membangun kota untuk melayani semua golongan usia masyarakat, aamiin.

VIDEO PILIHAN