Mohon tunggu...
Ishak Pardosi
Ishak Pardosi Mohon Tunggu... Spesialis nulis biografi, buku, rilis pers, dan media monitoring

Spesialis nulis biografi, rilis pers, buku, dan media monitoring (Mobile: 0813 8637 6699)

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Bincang-bincang Anggota Mensa, Kumpulan Manusia Jenius Dunia

27 April 2019   19:24 Diperbarui: 27 April 2019   19:30 0 4 1 Mohon Tunggu...
Bincang-bincang Anggota Mensa, Kumpulan Manusia Jenius Dunia
Sahat Simarmata (kiri). Foto: Pribadi

Pasti ada yang aneh kalau seseorang itu masuk kategori jenius. Maksudnya, yang aneh itu adalah perilaku maupun kebiasaannya. Bisa juga tentang pola pikirnya. Singkat kata, manusia jenius itu memang berbeda dari kebanyakan; ada ciri khas yang menyertai mereka.

Begitulah sedikit kesimpulan yang bisa saya petik usai berbincang-bincang dengan Sahat Simarmata, seorang manusia jenius di Indonesia. Disebut jenius lantaran Sahat telah mengantongi sertifikat jenius dari Mensa International. Melewati sejumlah tes akademik yang tentunya pasti pelik bila dikerjakan manusia pada umumnya.

Mensa sendiri adalah sebuah komunitas yang beranggotakan manusia pemilik intelijensia di atas rata-rata. Jika menilik sejarahnya, Mensa didirikan di Inggris pada tahun 1946 oleh Roland Berrill dan Dr. Lancelot Ware. Hingga kini, anggota Mensa sudah tersebar di seluruh dunia termasuk di Indonesia.

Agar diterima sebagai anggota, syaratnya adalah melewati ujian, seperti matematika dan logika layaknya psikotes atau kerap disebut tes kemampuan akademik. Bedanya, bahasa pengantar tes Mensa adalah bahasa Inggris.

Sahat mengatakan, yang paling umum dalam tes Mensa adalah tes kemampuan mengenai ruang dan bangun. Itu loh, yang ada gambar-gambar bangun lalu kita diminta menjawab mana bangun yang sama. Atau bisa juga diminta membayangkan mana gambar bangun yang tepat dengan hanya menyediakan garis putus-putus pada bagian soal.

Terus terang, psikotes soal ruang dan bangun itu menjadi satu-satunya soal yang kerap menyebabkan saya gagal dalam banyak ujian penerimaan kerja. Entah kenapa bangun dan ruang itu, bagi saya, seperti mirip semua. Tidak ada bedanya. Maka sudah jelas, saya mustahil diterima sebagai anggota Mensa. Hehehe.

Namun bagi Sahat dan anggota komunitas Mensa lainnya, bermain-main dengan ruang dan bangun itu sungguh mengasyikkan. Termasuk mengerjakan soal cerita yang mengandalkan logika dan nalar.

Kembali soal "keanehan" manusia ber IQ tinggi. Bila dicermati dari sudut pandang teologis, seorang ber IQ tinggi pada umumnya cenderung tak lagi mempercayai agama dan Tuhan. Hal ini cukup logis mengingat cara berpikir mereka didominasi logika berpikir tanpa dibumbui rasa.

Tetapi jangan salah pula, banyak juga manusia jenius yang tetap menyandingkan logika dan Tuhan. Artinya, tetap mempercayai adanya Tuhan tetapi juga "ngotot" mengandalkan logika. Aneh memang.

Masih ada lagi keanehan lain. Misalnya, sulit tidur alias insomnia. Sahat sendiri telah mengalami insomnia pada saat kelas 5 SD. Bayangkan, ia masih bocah tetap sudah menderita insomnia. Beruntung, penyakit itu akhirnya sukses dikalahkan Sahat.

Soal prestasi, Sahat pada saat kelas 5 SD juga sudah membuka kursus matematika di rumahnya. "Anehnya" lagi, kelas kursus itu sama sekali tidak berbayar alias gratis. Kelas kursus gratis itu dibuka Sahat hanya karena ingin rekan-rekan satu sekolahnya tak lagi alergi matematika. Itu saja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x