Ishak Pardosi
Ishak Pardosi profesional

Mantan Penjahit--@Spesialis nulis biografi, rilis pers, buku, dan media monitoring (Mobile: 0813 8637 6699)

Selanjutnya

Tutup

Analisis Artikel Utama

Jokowi Butuh Ngabalin, Ia Bukan Duri dalam Daging

4 September 2018   15:07 Diperbarui: 5 September 2018   09:41 3829 17 15
Jokowi Butuh Ngabalin, Ia Bukan Duri dalam Daging
Foto: Tribunnews

Ali Mochtar Ngabalin masuk Istana. Semua heboh. Pria bersorban putih itu dicibir. Cap politisi oportunis menancap erat kepadanya. Makin gempar saat foto yang beredar luas di publik memperlihatkan aksi membungkuk setengah menyembah Ngabalin di hadapan Presiden Jokowi. 

Sangat kontras ketika Ngabalin masih berada di kubu Prabowo Subianto. Usai sudah petualangan Ngabalin sebagai oposisi, berganti baju menjadi benteng pengawal Jokowi.

Jabatan resmi Ngabalin adalah Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi pada Kantor Staf Presiden (KSP) yang kini dipimpin Jenderal (Purn) Moeldoko. 

Namun, jabatan itu tak berarti banyak, sebab yang dilakukan Ngabalin ketika resmi bertugas cenderung menjadi juru bicara pemerintah. Gayanya khas, meledak-ledak dan tidak sungkan-sungkan menyerang keras pengkritik pemerintah.

Tetapi justru di situlah letak kelebihan Ngabalin sehingga ia "dibajak" dari kubu oposisi. Gaya komunikasi ala Ngabalin merupakan suatu keniscayaan bagi Jokowi sebagai cara terakhir membendung serangan oposisi. 

Betul, Ngabalin merupakan senjata pamungkas. Kepiawaian komunikasi Ngabalin, terlepas dari kontroversinya, merupakan kebutuhan yang mendesak. Itu tak lain karena juru bicara Jokowi sebelumnya terlalu "santun".

Ngabalin langsung tancap gas, membuktikan bahwa kehadirannya di KSP akan memberikan warna baru. Semua tokoh oposisi diserang, dari Fadli Zon, Amien Rais, Prabowo, termasuk PA 212. 

Pokoknya Ngabalin bertugas menangkal semua isu negatif yang berpotensi menggerus elektabilitas Jokowi. Kalimat-kalimat keras Ngabalin terbukti membuat pihak oposisi "kebakaran jenggot", tampak kewalahan dengan gaya khas Ngabalin. Tentu, Jokowi pasti senyum-senyum saja menyaksikan aksi spektakuler Ngabalin itu.

Belakangan, gaya Ngabalin yang dinilai frontal akhirnya menuai kritik. Tak kurang Ombudsman RI melayangkan teguran kepada Ngabalin, diminta untuk mengerem ucapan-ucapannya yang dinilai terlalu ekstrem. Teguran Ombudsman itu merupakan respons terhadap banyaknya pihak yang keberatan dengan gaya Ngabalin yang terlalu vokal.

Apakah Ngabalin memang sudah keterlaluan? Tidak, setidaknya menurut elit PDIP. Sebab, Ngabalin hanya menjalankan tugasnya sebagai pihak yang berada di kubu pemerintah. Tidak kurang dan tidak lebih. 

Soal omongannya yang ceplas-ceplos, itu sudah menjadi karakter Ngabalin sejak dulu. Bahkan menjadi aneh kalau Ngabalin tiba-tiba menjadi santun. Bagaimana dengan Ngabalin? Tentu menurutnya ia masih dalam porsi yang santun.

Ngabalin, terlepas kontroversi yang ditimbulkannya, saat ini memang sangat dibutuhkan pemerintahan Jokowi. Ia hadir sebagai penyeimbang kerasnya pertarungan politik menjelang Pilpres 2019. 

Tanpa Ngabalin, Pemerintah justru akan babak-belur dihajar kritikan tajam dari pihak oposisi. Kehadiran Ngabalin mirip dengan posisi Ruhut Sitompul ketika membela Presiden SBY saat masih berkuasa.

Bedanya, Ruhut saat itu hanya menghadapi serangan politik dari PDIP yang masih tergolong 'santun' dan tidak dibumbui isu-isu sensitif yang berpotensi memecah-belah bangsa. Sedangkan tugas Ngabalin jauh lebih berat ketimbang tugas yang diemban Ruhut.

Dengan demikian, Ngabalin akan tetap dibiarkan bermanuver sesuka hatinya dalam upaya menangkal serangan-serangan politik dari pihak lawan. Jokowi memang membutuhkan Ngabalin, setidaknya hingga Pilpres 2019 usai. Ngabalin bukan duri dalam daging Jokowi, tetapi ia justru menjadi penyelamat bagi Jokowi.