Ishak Pardosi
Ishak Pardosi profesional

Mantan Penjahit (Mobile: 0813 8637 6699)

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Biografi Madden Siagian, Pagar Batu Tanah Kelahiran (2)

12 Juni 2018   16:48 Diperbarui: 12 Juni 2018   18:24 660 2 2
Biografi Madden Siagian, Pagar Batu Tanah Kelahiran (2)
Ilustrasi rutinitas anak-anak SD di pedalaman (Foto: UNESCO Indonesia)

Libur Kecil Tiap Senin

Senin yang gembira. Libur kecil usai hari Minggu pun berlanjut bagi anak-anak di Pagar Batu. Meski masih hari Senin dan bukan tanggal merah, sudah menjadi tradisi anak-anak SD di Pagar Batu melonggarkan waktu belajar. Dari yang seharusnya pulang sekolah pukul 12.00, ada diskon waktu yang selalu rutin dinikmati siswa, yakni hanya sebentar saja di sekolah. Ibarat kata, mereka pergi ke sekolah untuk sekadar menyetor muka, lalu memulai pesta libur kecil.

Di hari Senin, saatnya mengangkut hasil bumi ke Lumban Lintong, desa tetangga yang paling dekat. Senin adalah hari yang disepakati oleh sejumlah desa di kawasan Pagar Batu dan sekitarnya untuk menggelar "Onan" alias "hari pekan". 

Di Onan Lumban Lintong, para tauke kopi maupun kemenyan sudah menggelar lapak untuk menampung hasil bumi yang selanjutnya diangkut menggunakan tenaga kuda. Di pasar mingguan itu, tidak ada negosiasi harga jual kopi maupun kemenyan. Semuanya tergantung harga yang telah dipasang para tauke.

Nah, anak-anak SD di kampung Madden selalu mengikuti ritual mingguan itu. Rasa letih anak-anak Pagar Batu yang menempuh perjalanan kaki terbayar lunas saat tiba di Lumban Lintong. Mereka bukannya merindukan ragam permainan khas anak-anak seperti di perkotaan. 

Tetapi bisa mencicipi aneka makanan tradisional seperti soto, ongol-ongol, dan singkong goreng saja, merupakan kenikmatan yang tiada duanya.

Kereta Pertama Ayah

Suara deru mesin meraung-raung muncul dari balik pepohonan rindang. Suara itu membelah kesunyian menjelang desa Pagar Batu. Kereta yang tampak lusuh akibat jalan berlumpur itu pun berhenti, menumpang parkir di rumah kerabat di desa Lumban Lintong. Kereta, yang di luar Sumut, dinamai sepeda motor, itu pun setia menunggu tuannya. 

Ayahanda Madden, yang saat itu berstatus Guru SD di Pagar Batu, mau tidak mau harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju kampung halamannya.

Pagar Batu, yang terletak di lembah dengan dinding pegunungan saat itu memang sulit dijangkau kendaraan bermotor. Sebagai gantinya, segala aktivitas transportasi maupun pengangkutan barang digantikan oleh kuda. 

Uniknya, masyarakat Pagar Batu dan desa-desa tetangganya, tidak mengenal tradisi menunggang kuda. Karena itulah peranan kereta alias sepeda motor sangat membantu meski tidak bisa dipacu hingga Pagar Batu. "Ayah adalah pemilik pertama kereta di kampung kami," Madden bercerita.

Sebagai seorang PNS yang memiliki urusan pekerjaan dengan kantor dinas pendidikan, ayahanda Madden terbilang cukup intens menyambangi Parsoburan, ibukota Kecamatan Habinsaran. Bila berjalan kaki dari Pagar Batu, setidaknya butuh waktu hingga 6 jam untuk sampai di Parsoburan. Namun, dengan mengendarai kereta, waktu tempuh bisa dipangkas menjadi hanya 1 hingga 2 jam saja. 

Tergantung kondisi jalan. Bila sedang kemarau, kereta bisa dipacu lebih cepat. Memasuki musim penghujan, mempertajam keahlian bermanuver agar terhindar dari jebakan kubangan lumpur merupakan sebuah kewajiban.

Di Pagar Batu yang kala itu dihuni sekitar 200 Kepala Keluarga, ayah Madden tak hanya dikenal sebagai seorang guru SD. Tetapi juga dikenal sebagai sosok yang banyak membawa perubahan. Misalnya dengan menyediakan jasa mesin giling padi serta sedikit sentuhan renovasi pada rumah tinggal mereka. "Rumah kami juga yang pertama diubah dari rumah panggung menjadi rumah semi permanen".

Bersambung