Kuliner Artikel Utama

Rasa Unik Kopi Punggel, Nikmat Tuhan di Gunung Gilingan

9 Juli 2018   21:55 Diperbarui: 10 Juli 2018   12:54 1616 3 3
Rasa Unik Kopi Punggel, Nikmat Tuhan di Gunung Gilingan
Dokumentasi Pribadi

Kekuasaan sang Kholiq sungguh maha segala-galanya. Hanya lewat satu jenis kopi yang rasanya unik pun ilmu pengetahuan yang konon disebut ahli, menjadi kocar-kacir.  

Percaya atau tidak, di Pegunungan Gilingan, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta, ada satu jenis kopi langka. Yang oleh masyarakat setempat dinamakan Kopi Punggel.

Kopi ini secara fisik bentuknya kecil-kecil (atau dalam kategori kopi digolongkan dalam jenis Kopi Arabica) dan berbeda dengan kopi jenis Robusta yang bentuk fisiknya bulat besar-besar.

Tetapi Kopi Punggel memiliki rasa pahit yang sangat tajam sehingga diyakini sebagai jenis kopi robusta. Namun ketika diminum dalam keadaan setengah dingin, maka rasa asam kopi arabica juga muncul cukup tajam.

Aneh bukan? Berbagai penelitian pun dilakukan oleh sejumlah ahli termasuk oleh Dinas Perkebunan DIY. Namun sampai saat ini mereka belum bisa menyimpulkan apakah Kopi Punggel masuk dalam jenis arabica atau robusta.

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi
Staf Dinas Perkebunan DIY, Jumanto, ketika ditemui di lereng Pegunungan Gilingan, mengatakan, bahwa bertahun-tahun uniknya Kopi Punggel tetap menjadi misteri yang susah disibak.

 "Lalu kita mengambil suatu kesimpulan, barangkali inilah kopi khas Pegunungan Gilingan Girimulyo, yang memang diciptakan Tuhan, untuk menyibak eloknya wilayah ini," katanya.

Pegunungan Gilingan berada pada 900 meter di atas permukaan laut, dengan hawa yang sejuk, dan cenderung dingin.

Karena rasanya yang unik ini, kemudian Dinas Perkebunan DIY mengajarkan kepada masyarakat teknik mengolah kopi secara alamiah, dan mendorong ditasbihkannya Kopi Punggel sebagai cinderamata bagi para wisatawan yang berkunjung ke berbagai destinasi wisata di wilayah ini.

"Sadar akan keunikan Kopi Punggel, maka masyarakat di wilayah ini kami ajak untuk menjadikan Kopi Punggel sebagai hadiah istimewa bagi siapapun yang berkunjung ke wilayah ini baik sebagai wisatawan maupun tamu," kata Marjiyanto, Ketua Kelompok Petani Teh dan Kopi, di Pergunungan Gilingan.

Maka kemudian diajarkanlah teknik pengolahan kopi tradisional kepada warga masyarakat, dan mereka juga diajarkan teknik menyedu kopi yang baik.

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi
Kepada wisatawan yang berkunjung di berbagai destinasi wisata di kawasan Pegunungan Gilingan atau Bukit Menoreh, Girimulyo, Kabupaten Kulonprogo, maka mereka akan diajak untuk singgah di Kampung Teh Dan Kopi (Kampung Teko) untuk menikmati uniknya Kopi Punggel.

"Bukan hanya menikmati sajian, mereka juga boleh menikmati hebohnya menggoreng kopi dengan tungku alam, mengsangrai, dan menyedunya sendiri, sesuai dengan selera yang mereka mau."

Dengan cara ini, kami ingin memperlihatkan kepada khalayak bahwa Kopi Punggel yang beraroma unik, kombinasi antara kopi arabica dan robusta, bukan buatan manusia, tetapi kopi unik pemberian Tuhan," kata Marjiyanto.

Bagi wisatawan atau tamu yang berkunjung ke wilayah lereng Pegunungan Gilingan, dipastikan akan membawa oleh-oleh Kopi Punggel, dan bisa menikmati berbagai pemandangan indah alam sekitarnya, tanpa harus dipungut retribusi.

"Mereka yang berwisata, mereka akan mendapatkan layanan sebagaimana sahabat, teman, bahkan saudara. Bisa ngopi di mana rumah warga manapun, mereka bisa parkir dihalaman rumah siapapun, tanpa harus bayar parkir, dan kehadiran mereeka ke wilayah ini akan disambut dengan hangat tanpa basa-basi," katanya.

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi
Jika wisatawan atau tamu ingin mendukung pelestarian Kopi Punggel sebagai kopi unik yang kini tengah diupayakan warga, maka bisa menyumbang dengan membeli Kopi Punggel kemasan dengan harga antara Rp. 20.000 per paket.

Begitulah sebuah cerita unik dari Pegunungan Gilingan, Girimulyo, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta yang dikaruniani alam indah dengan satu jenis kopi yang rasanya unik, yang tidak pernah ada duanya di dunia.

Menurut cerita, kenapa Kopi Punggel (perpaduan arabica dan robusta) ini tumbuh di wilayah ini, karena disinilah tempat yang subur dengan kelembaban yang sangat terjaga, karena adanya mata air murni yang mengalir di bawah Gua Kiskenda hingga sekarang ini. 

Pengelolaan tanah dan lingkungan yang nyaris tanpa kimia (alamiah), sebagaimana adat budaya warga setempat, menjadikan kopi unik ini sebagai hadiah terindah dari Sang Maha Pencipta. ****