Pahriati
Pahriati

Aktivis Muslimah. Manusia yang terus belajar, mencoba menebar kebaikan lewat tulisan. Berbagi inspirasi, guna meraih ridha Ilahi.

Selanjutnya

Tutup

Wanita Pilihan

Tuntutan Setara Menambah Sengsara

9 Maret 2018   09:35 Diperbarui: 9 Maret 2018   09:59 588 0 0

Berabad sudah tuntutan emansipasi wanita disuarakan kaum feminis. Suara itu makin kencang terdengar di momen tertentu. Seperti halnya pada hari perempuan internasional yang diperingati setiap tanggal 8 Maret.

Tema yang diangkat setiap tahunnya berbeda-beda. Namun mereka tetap mengusung tema besar, yakni kesetaraan gender. Tema di tahun ini adalah Press for Progress.Tema ini diangkat agar wanita bisa terus bergerak dan berani menggapai kesetaraan gender di segala bidang.

Jika kita tarik ke belakang, peringatan ini terlahir dari kenyataan banyaknya ketertindasan yang dialami kaum perempuan. Mereka sering mengalami kekerasan fisik, pelecehan seksual, kemiskinan, diskriminasi pendidikan dan pekerjaan, serta seabrek masalah lainnya.

Kaum feminis memandang beragam masalah tersebut lahir akibat superioritas laki-laki atas kaum perempuan. Dan hal itu didukung oleh agama dan kehidupan sosial budaya di masyarakat. Karena itulah, mereka berusaha mendobrak aturan agama (khususnya Islam) dan pandangan masyarakat yang dinilai bias gender. 

Ide tersebut terus dijajakan oleh Barat ke seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Beragam cara dilakukan agar ide itu bisa diterima. Tak hanya lewat opini di berbagai media, mereka juga berusaha masuk melalui undang-undang dan perangkat aturan lainnya.

Mereka terus mendorong kaum perempuan agar berkiprah lebih besar di ranah publik. Menuntut kesamaan hak dan kewajiban dengan kaum lelaki. Namun ternyata, alih-alih membawa sejahtera, tuntutan setara justru makin menambah sengsara.

Misalnya saja tuntutan kesetaraan di bidang ekonomi. Kaum perempuan dituntut mampu mandiri, memiliki penghasilan sendiri. Karena ada anggapan bahwa perempuan yang berdayaguna adalah perempuan yang mampu menghasilkan materi.

Akhirnya, perempuan berlomba mengejar karir. Dengan sukarela ataupun terpaksa, mereka meninggalkan keluarga. Semua itu berbuntut panjang. Komunikasi dengan suami semakin minim, yang kemudian memicu keretakan keluarga. Anak tumbuh tanpa perhatian dan kasih sayang yang cukup, hingga sering terjerumus pada pergaulan yang salah.

Belum lagi kondisi tempat kerja yang tidak kondusif, juga keamanan di luaran yang tidak terjamin. Kondisi tersebut memicu stres bahkan depresi. Tak jarang, orang di sekitar menjadi pelampiasan. Bahkan sudah sering kita dengar, seorang ibu yang pastinya seorang perempuan, tega membunuh anaknya sendiri. Fitrah keibuannya telah tercerabut. Miris!

Maka jelas, ide kesetaraan gender bukan solusi atas permasalahan kaum perempuan. Karena sebenarnya, masalah yang dialamai kaum perempuan tak bisa lepas dari masalah yang juga terjadi secara global. Misalnya saja masalah kemiskinan, akses pendidikan dan kesehatan yang makin sulit, rasa aman yang makin langka, semua juga dirasakan oleh kaum lelaki.

Harusnya kita menyadari, beragam masalah tersebut merupakan bentuk kegagalan sekuler kapitalisme (yang menjauhkan agama dari kehidupan) dalam menjamin hak-hak manusia. Bukan malah menyalahkan aturan Islam sebagai kambing hitam. Justru Islam punya aturan yang komprehensif (menyeluruh) untuk menjamin kesejahteraan.

Islam memandang hubungan antara perempuan dan lelaki sebagai bentuk ta'awun (kerjasama) guna meraih kebaikan. Dan untuk itu telah ditetapkan seperangkat aturan untuk menjaga kedua belah pihak. Perbedaan hak di antara keduanya semata disesuaikan dengan fitrah dan tanggungjawab yang dipikul, bukan diskriminasi kepada salah satu pihak.

Tak perlu kita ragukan lagi, Islam sangat memuliakan dan menjaga kaum perempuan. Aturan yang ditetapkan Sang Pencipta adalah yang terbaik untuk manusia. Maka seharusnya kaum perempuan mengarahkan perjuangannya untuk menerapkan Islam secara menyeluruh, bukan ikut termakan isu gender yang justru berakhir pada kesengsaraan. []