Mohon tunggu...
Sahyul Pahmi
Sahyul Pahmi Mohon Tunggu... Masih Belajar Menjadi Manusia

"Bukan siapa-siapa hanya seseorang yang ingin menjadi kenangan." Email: fahmisahyul@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Karir Pilihan

Sadarkah Kita Bahwa Banyak Sarjana yang Membuat Orang Pengangguran

22 Januari 2020   11:08 Diperbarui: 22 Januari 2020   11:21 151 1 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sadarkah Kita Bahwa Banyak Sarjana yang Membuat Orang Pengangguran
Ilustrasi: pixabay.com

Berawal dari obrolan dengan dosen saya di sebuah kedai kopi senin lalu, yang menceritakan salah seorang mahasiswanya (senior saya) yang saat ini sedang menempuh studi doktoralnya, namun sampai sekarang ia hanya mengajar di Sekolah Dasar (SD).

"Kasi tommi itu (kesempatan) mengajar sarjana S1, ka kau S2 mako, apalagi mulanjutmi S3nu," ujar dosen saya sambil menirukan gaya bahasanya ketika memberi nasihat kepada mahasiswa tersebut.

Saya hanya iye'-iye' saja di hadapan beliau saat menceritakan hal tersebut, sebab saya rasa belum pantas untuk berkomentar dan pernyataan dosen saya itu masih perlu saya pikir matang-matang sampai gosong untuk saya refleksikan.

Barulah ketika saya pulang ke kos, dan bertemu salah seorang kawan saya di S1 dulu, yang secara tinjauan asmara ia telah bahagia sebab ia telah menikah, namun secara tinjaun karir ia bisa saja belum menemukan passionnya. Kawan saya itu sekarang menjadi buruh bangunan padahal ia adalah sarjana, melihat hal tersebut tiba-tiba di samping kepala saya tercipta gelembung percakapan seperti di komik-komik tertulis:

"Ine mentongmi nabilang dosengku pale e."

Keabsahan pernyataan dosen saya tadi memanglah benar adanya, dan saya baru menyadarinya bahwa banyak sarjana yang membuat orang pengangguran, analoginya sederhana; di sebuah lahan subur yang mudah ditanami tumbuhan apapun, namun kita hanya menanaminya rerumputan dan tidak menanami anggur. Padahal, rumput bisa saja tumbuh di lahan yang tidak terlalu subur, sedangkan anggur itu susah, hanya lahan-lahan yang subur dan sejuk yang bisa menumbuhkannya.

Realitanya seperti kawan saya yang seorang sarjana itu namun bekerja sebagai buruh bangunan, kenapa tidak memberi kesempatan kepada saudara-saudara kita yang tidak punya ijazah atau hanya punya ijazah SMP untuk menjadi buruh bangunan, kamu yang sarjana carilah pekerjaan sesuai studi keilmuanmu sewaktu masih menjadi mahasiswa.

Hal tersebut baru kita dapati dalam aspek karir buruh bangunan, belum lagi karyawan-karyawan minimarket, sales, pelayan restoran, pelayan kafe, dan masih banyak lagi sub karir yang lain yang diambil alih oleh sarjana, dan mengikis kesempatan bekerja yang tidak sarjana.

Pemberi lowongan kerja dalam hal ini perusahaan atau badan usaha pun saya rasa ikut andil dalam menciptakan fenomena ini, sebab rata-rata spesifikasi yang diperlukan untuk melamar kerja, [MIN Sarjana S1], akibatnya sarjana-sarjana pun berlomba-lomba dan kadang berdesak-desakan untuk diterima.

Mungkin karena sarjana tersebut merasa salah jurusan waktu kuliah dulu, jadi barulah kemudian setelah lulus kuliah mecari karir yang klop di hatinya, dan ketika tak menemukan pekerjaan yang klop di hatinya mereka menerima jenis pekerjaan apa saja, yang penting halal, dapat kerja dan dapat uang. Sependek itukah cara berpikir seorang sarjana? jika anda melihat juga fenomena yang saya uraikan, berarti perguruan tinggi gagal mencipta pradaban dan masa depan bagi sarjana-sarjananya.

Walau dalam banyak data disebutkan, bahwa banyaknya sarjana juga ikut menyumbangkan angka pengangguran, namun hal tersebut tidaklah lebih banyak dari banyaknya yang membuat orang pengangguran, dan manakah yang lebih berfaedah ikut atau membuat orang pengangguran? semuanya tidak berfaedah sebab masih banyak orang yang dirugikan dibaliknya, yang ikut nganggur yang dirugikan keluarga, lingkungan masyarakat, pacar lebih-lebih. Yang membuat orang nganggur yang dirugikan orang-orang yang tidak sarjana, pacar orang yang tidak sarjana, keluarga orang yang tidak sarjana. Intinya deh, nda ada faedahnya kalau tidak kerja.

"Tapi kan banyak juga sarjana, yang membuat lapangan pekerjaan?"

Jika pertanyaan itu anda lontarkan, maka saya jawab, "iya banyak, sangat banyak malah, tapi sebanyak-banyaknya sarjana yang menciptkan lapangan pekerjaan lebih banyak perusahaan-perusahaan luar negeri yang mempekerjakan sarjana yang tidak kadang berkesesuain singkatan titel kesarjanaannya, tengoklah karyawan di kawasan-kawasan industri, kalau malas menengoknya, iyakan saja kata saya." hehe.

Dampaknya, banyak sarjana yang tidak menyusuri jalur keilmuannya, pun sebaliknya, maka jangan heran jika terjadi tumpang tindih dunia karir di Indonesia, kita hobinya saling tabrakan sih, jalurnya sudah ditentukan malah sarjana mengambil jalur lain, yang tidak sarjana harus berbalik arah yang pada akhirnya hanya menemukan jalan buntu.

"Tapi anu..anuuu..anuu daeng, nda tinggi gajina kalo sesuai jurusangku, apalagi dari kampus swastaja banyak saingang, na harusmika juga rampungkan uang panai'ku ine, ka na tungguma mama'na odo'-odo'ku."

Jika itu alasanmu saya bisanya apa, sedangkan saya hanya penulis di Kompasiana ini, yang sekarang masih berjuang mengumpulkan uang panai' juga untuk odo'-odo'ku. Hehe.

Selamat berbahagia, MyLov~

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x