Mohon tunggu...
Ozy V. Alandika
Ozy V. Alandika Mohon Tunggu... Pengajar, Pembelajar, Pencinta Tilawah

Seorang Guru. Ingin menebar kebaikan kepada seluruh alam. Singgah ke: Gurupenyemangat.com

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Artikel Utama

Ramadan Tiba: Kuatkan Fisik, Lembutkan Hati, dan Luruskan Motivasi

12 April 2021   21:02 Diperbarui: 13 April 2021   02:13 1486 55 18 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ramadan Tiba: Kuatkan Fisik, Lembutkan Hati, dan Luruskan Motivasi
Ramadan Tiba. Dok. Canva/olah pribadi

Alhamdulillah! Akhirnya kita berjumpa lagi dengan bulan Ramadan 1442 Hijriyah. Jujur, aku tadi sempat ambyar seraya bersyukur. Ketika berangkat ke kantor disdikbud, aku melihat TPU sedang ramai karena ada kegiatan pemakaman jenazah.

Ketika itu pula aku sedih sembari membayangkan, alangkah sedih jenazah tersebut karena tinggal 1 hari lagi sebenarnya ia bisa berjumpa dengan bulan yang penuh hikmah.

Dan di sisi yang sama, aku merasa sangat bersyukur karena masih diberikan kesempatan umur untuk menambah amal, memperbaiki diri, serta menggapai berbagai keutamaan yang terselip di bulan Ramadan tahun ini.

Ya, meskipun pandemi tetap membuat langit negeri ini mendung, kita tetap optimis. Toh, kita hanya perlu berusaha semaksimal mungkin untuk tetap sehat. Pandemi juga mengajarkan kepada kita agar tidak perlu melakukan hal-hal yang nirfaedah seperti kumpul-kumpul yang gak jelas.

Tapi, kalau perkumpulannya untuk berbagi kebaikan, nah itu beda lagi, gaiss!

Selain mengusir segenap hal nirfaedah, dalam menyongsong tibanya Ramadan rasanya kita perlu menata fisik, hati, dan motivasi.

Terang saja, dalam kurun waktu 29-30 hari berpuasa kondisi fisik kita pasti ada masanya naik dan ada masanya turun. Begitu pula dengan hati dan motivasi. Jadi, kita bredel satu-satu, ya:

Kuatkan Fisik

Ramadan adalah bulan yang mulia, maka dari itulah kita perlu menguatkan fisik agar selalu sehat. Berhentilah melakukan aktivitas begadang jikalau tidak perlu, bahkan dalam konteks ibadah sekali pun.

Allah telah menyediakan kita 24 jam sehari, dan semaksimal mungkin kita upayakan 6-8 jamnya untuk istirahat. Syahdan, bolehkah kita beribadah 24 jam dengan dalih tida menyia-nyiakan keutamannya?

Kalau gara-gara ibadah kondisi fisik kita jadi menurun bahkan sakit, itu bukan ibadah namanya melainkan menyiksa diri. Nah, mendingan kita jadikan tidur sebagai ibadah, bukan?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN