Mohon tunggu...
Ozy V.  Alandika
Ozy V. Alandika Mohon Tunggu... Pengajar, Pembelajar, Pencinta Tilawah

Seorang pemuda sederhana yang sedang mengabdi sebagai guru SD di Kepahiang. Saat ini masih menetap di Kota Curup (Bengkulu). Asli Tun Jang (Suku Rejang). Selalu menanam harapan walau kemarau panjang. Singgah ke: www.ozyalandika.com

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Artikel Utama

Seni Berjualan di Era Milenial

18 September 2020   16:59 Diperbarui: 18 September 2020   19:19 580 86 29 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Seni Berjualan di Era Milenial
Enggak promosi, enggak laku (Foto: Pexels.com)

"Enggak Posting, Enggak Laku!"

Berjualan di era milenial sejatinya susah-susah gampang. Produk jualannya beragam, dan para penjualnya juga tak pernah lenyap dari pandangan mata. Dalam artian, banyak orang mulai menjemput rezekinya dengan cara berdagang.

Terang saja, keadaan di hari ini sangat mendukung dan membuka peluang bagi siapa saja yang mau berjualan. Bisa dengan buka toko jualan sendiri, buka lapak di pasar pagi-pagi, buka toko online, hingga rela menyewa rumah kontrakan.

"Aku sih, yes! Kalo kamu, gimana?"

Pesatnya perkembangan teknologi seakan telah memudahkan tiap-tiap pedagang untuk mempromosikan barang dagangan. Ketika kita berteman dengan seorang pedagang, biasanya story WhatsApp, Facebook maupun Instagram mereka selalu bejibun.

Kadang update produk jualan terbaru, update price list, share testimoni, dan kadang ada pula sebagian pedagang yang berbagi omelan di status medsosnya. Pelanggan yang lenyap lah, pelanggan yang PHP lah, hingga sederet omelan lainnya.

Tapi, ya, begitulah salah satu seni berjualan di era milenial. Jargon "enggak posting, enggak laku" sungguh membahana di jagat maya. Jujur saja, menurutku ungkapan tersebut adalah motivasi besar bagi para pedagang yang terkadang suka "galau" menjemput rezeki.

Berjualan Itu Soal Mental, Cuy!

Berjualan di dunia maya maupun nyata sejatinya sama-sama berhubungan langsung dengan mental.

Siapa coba yang berani nongkrong di dekat taman wisata sembari menggelar tikar demi memajang barang jualannya. Ku yakin, tidak semua orang mampu bermental demikian. Terkadang ada rasa malu untuk menawarkan produk, dan terkadang lidah ini cukup kelu untuk menjelaskan.

Pengalamanku, sebulan yang lalu aku sempat mendampingi seorang sahabat berjualan popcorn di dekat taman. Dia sebenarnya seorang pegawai, dan di hari itu dia juga baru perdana menggelar lapak di tengah keramaian. Deg-deg-gan, dong?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN