Mohon tunggu...
Ozy V.  Alandika
Ozy V. Alandika Mohon Tunggu... Pengajar, Pembelajar, Pecinta Tilawah

Selalu menanam harapan walau kemarau panjang.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Digitalisasi Pendidikan ala Nadiem dan Gerbong Kereta yang Tertinggal

3 November 2019   14:48 Diperbarui: 4 November 2019   20:33 0 37 13 Mohon Tunggu...
Digitalisasi Pendidikan ala Nadiem dan Gerbong Kereta yang Tertinggal
Ilustrasi Gerbong Kereta. (Sumber: Tribunnews.com)

Anda pernah naik kereta api? Jika pernah, kemarin duduk di gerbong kelas bisnis atau ekonomi? Duduk di gerbong depan, tengah atau belakang?

Mau duduk di gerbong manapun pasti seru dan menyenangkan. Apalagi jika kita duduknya dipinggir dan leluasa menatap alam. Walaupun kepala pusing dan mulut memanggil uwak, rasanya muka ini tidak mau berpaling dari melihat sekeliling.

Namun, apa jadinya jika kita duduk di gerbong kereta paling belakang dan tiba-tiba gerbong itu terlepas dari sangkutannya? Ia akan jadi gerbong kereta yang tertinggal dan kita pasti takut seraya berdoa agar masih diperkenankan hidup oleh Tuhan (kalo ingat).

Begitu pula kiranya dengan keadaan pendidikan kita sekarang ini. Ada yang berjalan di gerbong paling depan, ada yang nyaman di tengah, dan ada yang selalu tertinggal.

Sekolah yang memiliki fasilitas mumpuni untuk bersaing dan menerima kebijakan baru segera dirumuskan menjadi sekolah model. Terang saja, pemerintah ingin membuktikan bahwa "ini loh" kebijakan kami, menarik bukan?

Akhirnya, sekolah lain yang masih masuk dalam kategori favorit pun tak mau kalah. Mereka menanam harapan agar tahun depan memiliki predikat sekolah model atau sekolah rujukan.

Lalu bagaimana dengan nasib sekolah tertinggal, terdepan, terluar (3T)?

Di saat sekolah model sudah membeli pulsa listrik, sekolah 3T sibuk mencari subsidi minyak tanah. Di saat sekolah model sudah mengenalkan 4G LTE bahkan 5G, sekolah 3T masih kepo dengan tower yang tinggi-tinggi. Bagaimana mau digitalisasi pendidikan? Ya, mau tidak mau.

Nadiem Mengusung Digitalisasi Pendidikan

Sebenarnya, apa yang harus dijadikan titik tolak awal dalam digitalisasi saat ini? Apakah proses belajar-mengajar, aplikasi pendidikan, sarana prasarana, sekolah atau pelakunya?

Semua ini begitu senjang dan tak bisa sekadar tebang pilih. Misal Mendikbud mau mendigitalisasikan KBM, maka segala sesuatu yang terkait langsung dengan KBM seperti kompetensi guru, kemampuan siswa, sarana dan prasarana, serta media pembelajaran harus ikut digital.

Jujur saja, tidak mudah untuk membuat skala prioritas dari masalah-masalah ini. Sekilas, kesenjangan kualitas pendidikan kita memang terlihat redup karena tertutupi oleh prestasi sekolah-sekolah model yang mendunia.

Tapi lagi-lagi pandangan itu hanya indah jika kita lihat dari gerbong depan saja. Gerbong belakang bagaimana? Sarana prasarana yang dimiliki mungkin hanya sisa, guru-guru yang mengajar hanyalah orang yang benar-benar mengabdi, dan media ajar hanyalah "kitab lama" yang belum sampai revisinya.

Dengan kenyataan ini, kita harus dukung harapan Anggota Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Ahmad Suadi yang meminta Nadiem Makarim tidak hanya peduli dengan digitalisasi sekolah, namun juga pembangunan gedung sekolah yang masih kurang, terutama di daerah terpencil.

Siapa yang tidak mau berkemajuan. Setiap sekolah juga mau digitalisasi, murid juga demikian. Jika sekolah A menggelar ujian nasional berbasis komputer, maka sekolah Z juga pasti iri jika tidak bisa menggelar sistem yang sama dalam kurun waktu satu-dua tahun.

Sudah banyak usaha hebat yang dilakukan oleh sekolah-sekolah yang ingin maju. Mulai dari merekrut teknisi komputer berbasis IT, meminjam komputer ke sekolah elit, hingga rela menggelar ujian hingga 3-5 sesi, asalkan bisa berbasis digital.

Apakah sekolah 3T juga bisa? Jangan-jangan mereka tidak tahu, atau bahkan belum mengenal apa itu digital dan apa itu online.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x