Mohon tunggu...
Yulius Roma Patandean
Yulius Roma Patandean Mohon Tunggu... Guru - English Teacher (I am proud to be an educator)

Seorang Guru dan Penulis Buku dari kampung di perbatasan Kabupaten Tana Toraja-Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Menyukai informasi seputar olahraga, perjalanan, pertanian, kuliner, budaya dan teknologi.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Stunting dan Strategi Penanganannya di Desa

30 November 2023   17:47 Diperbarui: 1 Desember 2023   09:41 240
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sekelompok bocah di salah satu sudut perkampungan Tana Toraja. Sumber: dok. pribadi

Stunting telah menjadi masalah nasional yang berlangsung terus-menerus setiap tahun. Mengapa stunting masih menjadi masalah? Hal ini disebabkan oleh masih ditemukannya anak-anak yang mengalami gizi buruk dan pertumbuhan badan yang tidak wajar. 

Stunting secara umum terjadi karena kekurangan bahan makanan. Di sudut-sudut perkotaan, anak-anak yang masuk kategori stunting masih sering dijumpai. Bahkan ada yang akhirnya berprofesi sebagai pengemis atau peminta di jalanan. 

Fakta tentang stunting justru selama ini banyak terjadi di wilayah pedesaan. Keterbatasan pengetahuan akan pengelolaan sumber daya alam dan perilaku manja warga seringkali memicu tingginya angka stunting di desa. 

Program pemerintah untuk menekan stunting sudah dilaksanakan melalui kementerian kesehatan. Dinas kesehatan di tingkat kabupaten secara aktif menindaklanjutinya. 

Selain itu, program penyaluran bantuan langsung tunai (BLT) dan raskin sebenarnya bertujuan untuk bisa memperbaiki gizi masyarakat. Hanya saja, program yang menyasar warga kurang mampu ini, banyak yang tidak tepat sasaran. 

Sebenarnya, stunting bisa dicegah dengan cara yang sederhana apalagi jika tinggal di daerah perkampungan. Setiap keluarga bisa melakukannya. Tidak perlu jauh-jauh, cukup di sekitar tempat tinggalnya. 

Memanfaatkan pekarangan rumah bisa menjadi alternatif. Stunting kan terkait kekurangan gizi. Nah, pekarangan rumah bisa dimanfaatkan. Aneka sayuran hijau bisa memperbaiki gizi keluarga yang dibudidayakan di pekarangan. Tak perlu bibit sayur mahal. Kangkung, bayam, sawi, labu, labu siam, dan lain-lain tersedia sebagai sayuran ramah keluarga. Paling sederhana, membuat pagar hidup dari barang singkong. Daun mudanya bisa dijadikan sayur setiap waktu. 

Beternak pun bisa dilakukan dengan memanfaatkan pekarangan. Ayam bisa menjadi pilihan  yang paling realistis. 

Di kampung, ayam tak perlu kandang. Cukup dilepas liarkan. Kecuali anakannya. Yang perlu disiapkan adalah tempat-tempat bertelur bagi ayam di kolong rumah atau di samping rumah. Nah, jika berjalan dengan baik, maka setiap keluarga akan tersedia sumber protein dari telur dan daging ayam. 

Di Tana Toraja, khususnya yang ada di pedesaan, warga biasanya mempraktekkan pemanfaatan lingkungan sekitar rumah ala tumpang sari. Selain beternak ayam, terdapat juga ternak lainnya, yakni kerbau, dan babi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun