Mohon tunggu...
Yosep mau
Yosep mau Mohon Tunggu... Hic et nunc

Atambua, Timor, NTT. PERGURUAN TINGGI ILMU FILSAFAT TEOLOGI WIDYA SASANA MALANG.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Opar Arak Vs Industri 4.0 (Hilangnya Kebiasaan Lama di Pulau Timor)

10 Juli 2020   11:38 Diperbarui: 10 Juli 2020   11:28 33 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Opar Arak Vs Industri 4.0 (Hilangnya Kebiasaan Lama di Pulau Timor)
Dok. pribadi

Manusia Pulau Timor secara garis besar lahir dan besar di dalam suatu sistem kebudayaan yang sudah ada berabad-abad lamanya. Kebudayaan itu secara natural membentuk pola pikir bahkan tingkah laku manusia itu sendiri. Proses-proses pembentukan nilai budaya ke dalam pribadi-pribadi tertentu di Pulau Timor inilah, kerap menjadi sebuah identitas akan keberadaan manusia Timor dari sudut pandang budaya lain. Dengan kata lain orang Timor mencoba menampilkan ciri khas dari satu budayanya agar di kenal oleh orang atau budaya lain.

Tulisan ini sengaja dibuat untuk mengangkat kembali sebuah kebiasaan lama yang hilang dari budaya Timor kurang lebih  dalam dua dekade terakhir. Kebiasaan lama ini dalam bahasa daerah suku Kemak Leolima disebut (opar Arag). Dalam bahasa Indonesia berarti; berpelukan, bergandengan, ataupun merangkul. Kata-kata ini lebih menunjukan pada suatu aktifitas di mana terkandung nilai rasa kemanusiaan terhadap orang lain. Orang yang melakukan tindakan ini merasa dia adalah bagian dari orang lain begitupun dengan orang lain terhadap dirinya.

Perlu diketahui bahwa kebiasaan opar arak dimulai sejak kecil, di mana ketika seorang anak mulai mengenal lingkungan keluarga dan teman bermain di sekitarnya. Setiap anak yang sudah saling mengenal sebagai teman, ketika ingin bepergian akan saling memanggil kemudian bertemu, berjalan bersama sambil berangkulan. Tindakan demikianpun dilakukan oleh orang-orang dewasa secara khusus untuk kaum pria. Bagaimana dengan kaum perempuan? Kaum perempuan biasanya berjalan sambil bergandengan dan membawa sirih pinang. Kebiasaan seperti ini biasa dilakukan oleh ibu-ibu. Sedangkan untuk remaja biasanya bergandengan sambil membawa perlengkapan menyulam.

 Kebiasaan opar arak, kini mengalami sebuah penurunan yang sangat besar. Tidak dapat dipungkiri bahwa kebiasaan sederhana yang begitu baik telah hilang ditelan zaman. Tentu segala sesuatu yang hilang pasti dipengaruhi oleh sesuatu yang lain. Berdasarkan pengamatan penulis hilangnya kebiasaan lama ini dipengaruhi oleh perkembangan dunia.

 Dunia kini telah memasuki fase 4.0. Sebuah tahap baru di mana segala sesuatu diatur berdasarkan jaringan. Manusia memiliki titik loncatan luar biasa. Dalam hal ini ia terpana akan suatu kedahsyatan baru yang mengubah pola pikirnya. Ia dapat mengakses segala sesuatu yang jauh dari dirinya dengan berbagai model android terbaru. Bahkan ia dapat mengubah wajahnya dengan berbagai fitur terbaru dan menghasilkan begitu banyak respon dari dunia maya baik yang ia kenal maupun yang tidak ia kenal sama sekali.

 Revolusi industry 4.0 di suatu sisi memberikan begitu banyak kemudahan bagi manusia  di sisi lain menimbulkan kemiskinan sosial akan human personality. Manusia tidak lagi memandang sesamanya sebagai teman tetapi lebih kepada lawan. Ia tidak lagi memanggil temannya seperti kebiasaan lama tetapi hanya dengan mengirimkan sebuah stiker bertuliskan "ayo"  via WhatsApp. Setelah bertemu tidak ada lagi sebuah tindakan untuk merangkul ataupun bergandengan tangan, yang ada hanyalah kebisuan tetapi tersenyum tatkala layar gadget menyala.

 Manusia menjadi individual dan lupa akan aktifitasnya. Ibu-ibu yang kerap berjalan mengunjungi rumah tetangga membawa sirih dan bersama menenun kain ataupun tikar,  kini diganti dengan membawa gadget dan mengayam jarinya di layar gadget. Peristiwa inipun berlaku di berbagai usia tanpa terkecuali. Dengan kata lain revolusi industry sekarang telah memenangkan sebuah peradaban lama yang ada di Pulau Timor.  Opar Arak bukan lagi menjadi sebuah kebiasaa  yang patut dibanggakan melain opar gadgetlah yang menjadi prioritas utama.

VIDEO PILIHAN