Rohman Aje
Rohman Aje pegawai negeri

Seorang opinimaker pemula yang belajar mencurahkan isi hatinya. Semakin kamu banyak menulis, semakin giat kamu membaca dan semakin lebar jendela dunia yang kau buka. Never stop and keep swing.....^_^

Selanjutnya

Tutup

Keamanan Pilihan

Teroris Beraksi di Masjid New Zealand

16 Maret 2019   06:51 Diperbarui: 16 Maret 2019   08:16 241 1 0

Tragedi kemanusiaan mengerikan telah terjadi di Selandia baru-baru ini. Peristiwa berdarah itu terjadi pada dua masjid di Chrischurc, masjid Al-Noor dan masjid Linwood, Jum'at, 15 Maret 2019. 

Seseorang berpakaian serba hitam dan kepala berhelm dengan menggunakan senapan mesin masuk menerobos masjid-masjid tersebut tanpa ragu menembak para jamaah yang sedang beribadah, sholat Jum'at. Korban yang tewas sebanyak 49, di antaranya ada anak-anak dan yang luka-luka 48 orang.

Saya pribadi sangat mengutuk keras tindakan biadab ini. Diketahui pelaku si penembak adalah Brenton Tarrant, seorang warga Australia yang tinggal di New South Wales bagian utara. Dia pernah bekerja sebagai instruktur fitnes Big River Gym tahun 2009 sampai dengan 2011.

Aksi teror tersebut Brenton rekam menggunakan kamera GoPro. Tindakan tidak manusiawi itu dia lakukan setelah mendapatkan sejumlah uang dari Bitcoin. Boleh jadi, hasil uang itu ia belikan senapan mesin. 

Sebelum aksi brutal itu terjadi dia telah mengunggah di twitter foto senapan mesin dan manifesto yang menggambarkan profil dirinya, bahwa dia adalah orang kulit putih yang berasal dari keluarga biasa, yang dilahirkan sebagai kelas pekerja dan pendapatan rendah Australia.

Menurut berita di tempo.co, yang mengutip laporan dari ABC, 15 Maret 2019, Tracey Gray sebagai mantan manajernya si pelaku, mengaku terkejut. Pasalnya, Brenton adalah seorang instruktur berdedikasi, sebab murid-muridnya, diantaranya adalah anak-anak yang diajarkan secara gratis.

Pria yang dikenal dengan moto nasionalisme kulit putih dan anti-imigran ini melanglang buana ke Asia Tenggara, Asia Timur, Korea Utara dan Eropa setelah berhenti bekerja sejak tahun 2011.

Perdana Menteri Australia, Scott Morrison juga mengutuk tindakan si terduga penembakan itu. Bahkan Scott sampai menyebut si penembak adalah teroris dan ekstrimis yang kejam.

Hasil analisa awam penulis atas peristiwa berdarah ini, disinyalir ada kesamaan motif atas tindakan kekerasan dan tidak manusia ini. Bahwa aksi terorisme atau ekstrimisme itu cenderung dilakukan orang-orang yang berpaham golongan atau kelompok yang berlebihan (fanatisme). Seperti, ISIS, Al-Qaeda, dan lain sebagainya, mereka melakukan aksi teror kejamnya atas dasar fanatisme kelompok semata.

Brenton Tarrant adalah penyuka anti-imigran dan kulit putih nasionalis. Perubahan yang dialaminya secara drastis ia dapatkan setelah berkelana di luar negeri ke beberapa negara. Di samping itu, faktor pendidikan juga mempengaruhi perubahannya ke arah tindak kriminal. Seperti yang sudah disebutkan bahwa Brenton hanya seseorang kelas pekerja dan pendapatan rendahan di Australia.

Hal ini juga mengungkap terhadap salah satu stigma yang saat ini berlaku di kalangan dunia terhadap salah satu agama, dengan kalimat Islam adalah agama teroris. Setelah menimbang tragedi yang terjadi di negara burung Kiwi ini, maka Islam adalah agama teroris dan ekstrimis sama sekali tidak bisa dibenarkan.

Tindakan terorisme dan ekstrimisme tidak ada kaitannya sama sekali dengan agama. Justru, agama itu mengajarkan para penganutnya untuk berbuat kebaikan. Jika sampai ada orang yang beragama, atau orang yang mengaatasnamakan agama untuk melakukan tindak dan perilaku kejam, sejatinya mereka telah salah jalan dalam belajar dan menganut agama.