Mohon tunggu...
Opa Jappy
Opa Jappy Mohon Tunggu... Orang Rote yang Bertutur Melalui Tulisan

Orang Rote yang Bertutur Melalui Tulisan. Akun Resmi Jappy M Pellokila di Kompas.Com dengan motto Bebas Menyuarakan Kebebasan. Tulisan lain: http://indonesiahariini.id/ http://jappy.8m.net https://twitter.com/OpaJappy">https://twitter.com/OpaJappy Dan juga ada di Berbagai Media Nasional dan LN. Akun Lama http://www.kompasiana.com/jappy

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Kisruh PAN dan Kegagalan Pengaderan

12 Februari 2020   16:55 Diperbarui: 12 Februari 2020   21:12 108 3 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kisruh PAN dan Kegagalan Pengaderan
Dokumentasi PAN.OR.ID




Tentang Nepotisme Politik

Nepotisme dipadukan dengan Politik, maka muncul suatu kekuatan yang menarik serta dasyat; gabungan keduanya menjadi Nepotisme Politik.

Nepotisme Politik, seringkali melahirkan militansi yang (cukup) ekstrim, loyalitas (yang sangat) kuat, serta salah satu unsur dari 'Politik Dinasti atau pun Keluarga.'

Selain itu, Nepotisme Politik juga melahirkan orang-orang atau komunitas lingkaran pengaruh atau pun loyalis tanpa pamrih dan membabi buta.

====


Srengseng Sawah, Jakarta Selatan | Hingga saat ini, masih ramai di Media Pemberitaan dan Medsos tentang 'perang saudara' sesama kader PAN; mereka bukan hanya bertampur dalam ruangan, tetapi dilanjutkan di area terbuka.

Itulah PAN masa kini; entah apa dan siapa yang dipertahankan atau pun diperebutkan. Pastinya, apa yang terjadi tersebut memperlihatkan (i) kegagalan berdemokrasi pada intern mereka, (ii) ketidakmampuan Amin Rais mendewasakan PAN, (iii) ada perbedaan tajam, yang selama ini diam, di/dalam PAN, (iv) PAN, terutama mereka yang beda pendapat dengan Amin Rais dan bukan loyalis Amin Rais, sementara berusaha agar bebas dari Nepotisme Politik.

Agaknya, jika mengikuti jejak digital, maka terjadi 'perang kursi' antar kader PAN, akibat item (iv) di atas. Atau, friksi antara loyalis Amin Rais dan bukan; dan itu memicu hingga pemilihan Ketum PAN.  Kedua kelompok tersebut, bersaing dalam rangka memperebutkan posisi penting di PAN.

Itu, boleh-boleh saja; namanya perpolitk dan berpartaipolitik. Bersaing itu wajar. Jadi tidak wajar, jika persaingan tersebut dilanjutkan atau diiringi dengan adu fisik, merusak, dan menghancurkan.

Kegagalan Parpol


Tiga hal ini, berdemokrasi, berpolitik, dan berparpol, harus ada atau syarat utama pada Negara Moder dengan Label Negara Demokrasi (Presidentil, Parlementer, atau pun Monarkhi); dan Parpol sebagai pilar utama.

Di dalam atau melalui Parpol lah, terbentuk sosok-sosok politisi, yang nantinya ada di Parlemen dan Pemerintahan daerah, wilayah, hingga Nasional. Oleh sebab, di tempat tersebut, terjadi penkaderan, pendewasaan diri, serta persiapan sebagai politisi yang (akan) memimpin Rakyat, Bangsa, dan Negara.

Sayangnya, proses seperti tidak terjadi seutuhnya terjadi pada Parpol di Indonesia; hampir semuanya masih terpaku pada elite Pendiri dan Anak Cucunya; cuma segelintir orang yang berkuasa di/dalam Parpol.

Maaf, maaf saja; hingga saat ini, di Indonesia, hanya Golkar dan PKS yang berhasil melakukan pergantian kepemimpinan nyaris tanpa konflik yang terlihat di area publik.

Golkar, setelah bernama Partai Golkar, beberapa kali berganti Ketum; demikian juga Presiden PKS. Beda dengan, misalnya PPP, dua kubu belum akur; PDI P, Ketumnya masih itu-itu juga, seperti Gerindra.

Bagaimana dengan PAN? PAN memang sudah sering berganti Ketum, tapi ada 'tapinya.' Yaitu, siapa pun Ketum PAN, maka ia harus 'Orangnya Amin Rais.' Bahkan, siapa pun Ketum PAN, Amin Rais tetap sebagai pengendali utama.

===

Kembali ke kisruh PAN. Terjadinya 'perang saudara' antar kader PAN karena tak lepas dari Nepotisme Politik dan kegagalan menciptakan calon-calon politisi yang siap sebagai pemimpin pada kepemimpinan PAN.

Selain itu, 'pertempuran' yang terjadi, mungkin saja akibat militansi dan loyalitas (mereka yang bercampur) pada orang per orang, dan bukan pada Parpol, dhi. PAN. Sebab, jika mereka loyal dan militan pada Perpol, maka bisa menerima perbedaan, kekalahan, dan kemenangan.

Cukup lah

Opa Jappy | Indonesia Hari  Ini

VIDEO PILIHAN