Mohon tunggu...
Opa Jappy
Opa Jappy Mohon Tunggu... Konsultan - Orang Rote yang Bertutur Melalui Tulisan

http://jappy.8m.net

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Air Hasil Olahan Tinja, Harus Halal dan Layak Dikonsumsi

27 Mei 2018   23:23 Diperbarui: 28 Mei 2018   07:55 1378 4 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Dokumentasi Kompas.Com

Rabu, 23  Mei 2018  Wakil Gubernur DKI Jakarta meresmikan Kompleks instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)-Adrich Tech System di Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat. Di kompleks tersebut terpasang mesin untuk mengolah air limbah tinja menjadi air bersih dan bisa diminum. Perangkat PAL-Adrich Tech disebut sebagai hasil karya Andrian dan Charrunas.  Pada kesempatan tersebut, Wakil Gubernur DKI Jakarta, menyatakan bahwa,

"Dalam 30 menit mesin PAL-Adrich Tech System mampu memproses air limbah tinja menjadi air bersih, dan dikonsumsi. Biasanya memakan waktu 7 hari dan menjadi air buangan, (sekarang) dalam waktu setengah jam bisa menjadi air yang bisa diutilitas.

Malah saya dikasih tahu malah layak minum. Kendati bisa dikonsumsi namun untuk saat ini lebih tepat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari atau kebutuhan menyiram tanaman kota."

Hal yang yang hampir sama juga disampaikan oleh Dirut PD PAL Jaya Subekti bahwa, "Air bersih hasil PAL-Adrich Tech tersebut  bukan ditujukan menjadi air minum. Memang kalau air bersih, ini lah. Pokoknya dia bisa menjadi air bersih. Bukan air minum lah. Jadi memang air bersih yang bisa digunakan untuk utilitas. Untuk nyuci mobil gitu-gitu, gitu-gitu lah." Dengan itu, jika memang untuk memenuhi kebutuhan air (untuk) konsumsi manusia atau kemungkinan air hasil olahan tersebut bisa diminum, menurut Subeki, perlu sertifikasi (maksudnya tentu saja sertifikat Halal dari MUI dan juga ketentuan dari Menteri Kesehatan, dan lain sebagainya) terlebih dahulu untuk menentukan alat air tersebut layak untuk diminum atau tidak.

Andrich Tech System atau Adrich Tech System?

Menurut laman resmi Deputi Gubernur Tata Ruang dan Bidang Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) merupakan kerjasa sama PD PAL dan  PT. MJH Lestari Internasional, yang mengembangkan Andrich Tech System. Suatu temuan tekhnologi yang memproses air limbah, termasuk tinja, menjadi air bersih layak konsumsi.  

Note: Andrich Tech System sudah dipakai oleh Chevron (Nov 2015, Industri Perminyakan), Tarumatex (Des 2014, Industri Tekstil), dan Garuda Food (Jan 2016, Industri Makanan).  

IPAL mampu mengolah air limbah hingga memenuhi baku mutu, bahkan kualitasnya secara air bersih. Dapat dimanfaatkan sebagai air siram taman, flushing, atau keperluan lainnya. IPAL mempunyai beberapa keunggulan antara lain: kebutuhan listrik yang rendah, footprint atau kebutuhan lahan yang kecil dibanding teknologi konvensional, dan hasil olahan setara dengan air bersih.

Ada hal menarik. Sejumlah media (termasuk Wagub DKI Jakarta dan video di Youtube), memberitakan bahwa Pengelohan Air Limbah Duri Kosambi, Cengkareng merupakan kerja sama PAL - Adrich Tech System; sementara, media lainnya menyatakan, kerjasama PAL dan Andrich Tech System. Mana yang benar? Atau, sekedar salah tulis. Sebab Adrich Tech System tidak berhubungan dengan 'pengolahan air.'

Namun, jika mencoba menelusuri  'konsep' yang ada pada Mesin Pengolahan Air Limbah (saya sengaja tidak memakai Andrich Tech System dan Adrich Tech System ) tersebut, maka nyaris sama dengan 'Mesin Pengolah Limbah Menjadi Pupuk.'  Pada mesin ini, limbah (misalnya tinja) diolah atau diurai; airnya dibuang, dan bahan keras dijadikan pupuk.

Pengolahan tinja menjadi pupuk tersebut sudah dilakukan di Areal Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) milik Pemerintah Kota Banda Aceh yang terletak di Gampong Jawa, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh; juga di China. Khususnya di China, sebagai populasi babi terbanyak di dunia, mengolah tinja babi (dan tinja manusia) menjadi pupuk, bukan air bersih atau untuk dikonsumsi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kesehatan Selengkapnya
Lihat Kesehatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan