Om Brill
Om Brill

Book Writer - Video Blogger - Entrepreneur

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Gara-gara Iklan Rokok, Ustaz Adi Hidayat Coret SCTV

8 Juli 2018   21:36 Diperbarui: 9 Juli 2018   07:37 1276 0 0
Gara-gara Iklan Rokok, Ustaz Adi Hidayat Coret SCTV
Ustadz Adi Hidayat di acara

Begitulah keputusan yang harus diambil oleh Ustadz Adi Hidayat. Sebetulnya, tim Ustadz Adi sempat mempertanyakan prihal mengapa SCTV nekad tayangkan iklan rokok di jeda iklan. Namun, rupanya SCTV tetap tayangkan iklan rokok. Memang, secara waktu tayang, SCTV tidak salah. Iklan rokok diizinkan tayang pada pukul 23:30 WIB. Namun bagi Ustadz Adi, pihak SCTV telah melakukan kesalahan.

Dalam ceramah, Ustadz Adi dengan jelas mengatakan, rokok adalah haram. "Ini pribadi mengatakan rokok haram," ujar Ustadz Adi dalam sebuah ceramah di hadapan jamaah. "Tolong sampaikan pada saya bukti, satu saja bukti, rokok itu halal. Segala yang halal, pasti baik. Baik dari segi hukum, baik dari segi manfaat, baik dari segi kesehatan. Sekarang persoalannya, tolong tunjukan pada saya, dari sisi positif, bahwa rokok dipandang itu baik?"

***

Saat Ramadhan 1439 H lalu, selain Ustadz Abdul Somad, mubaligh Indonesia yang paling dinantikan penampilannya adalah Ustadz Adi Hidayat. Harap maklum, dua mubaligh muda ini sangat popular di media sosial. Tiap kali ada video kajian terbaru diunggah di Youtube, viewers dua Ustadz tersebut mencapai puluhan ribu. Kepopuleran ini menyebabkan beberapa televisi mengajak kerjasama. Jika Ustadz Abdul Somad memilih tvOne, Ustadz Adi memilih dua televisi yang kebetulan "meminangnya", yakni Trans7 dan SCTV.

Di Trans7, Ustadz Adi muncul di acara menjelang adzan magrib. Di acara bertajuk Tausyiah Ramadhan Trans 7 ini, Ustadz bertausyiah selama 5 menit tanpa jamaah dan white board sebagaimana penampilannya di kajian-kajian yang dihadirinya dan diunggah di Youtube. Di Tausyiah Ramadhan, beliau muncul sebulan penuh, yakni sebanyak 30 episode. Sementara di SCTV, Ustadz Adi muncul dua kali di acara Gema Ramadhan SCTV.

Dengan Trans 7, Ustadz Adi tak punya masalah. Kerjasama dengan tim Tausyiah Ramadhan pun berjalan dengan nyaman. Bahkan kabarnya, paska Ramadhan 1439 H, Trans 7 tertarik untuk mengajak kerjasama lagi dengan Ustadz Adi.  Kali ini kerjasama di program kajian Islam reguler, sebagaimana Trans TV sudah lama memiliki Ustadz "andalan", yakni Ustadz Maulana. Namun, oleh karena jadwal Ustadz Adi sangat padat, maka tawaran Trans 7 belum di-ACC oleh manajemen Ustadz Adi.

Kru SCTV sedang memantau Ustadz Adi Hidayat di TV Plasma
Kru SCTV sedang memantau Ustadz Adi Hidayat di TV Plasma
Berbeda dengan Trans 7, tayangan SCTV tidak untuk menjelang buka puasa. Di Gema Ramadhan ini pun, Ustadz tidak muncul sebanyak 30 episode, melainkan berbagi dengan mubaligh lain, di antaranya KH Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym. Awal diajak kerjasama Akhyar TV --yang menjembatani Ustadz Adi dengan pihak SCTV-- cukup senang. Betapa tidak, selain Trans 7, SCTV merupakan stasiun televisi mainstream yang cukup besar. Meski sudah populer di media sosial, khususnya di Youtube, rasanya Ustadz Adi juga harus tampil di televisi mainstream. Hal ini tentu agar misi dakwahnya bisa semakin didengar oleh banyak orang.

Bagi SCTV-nya sendiri, kerjasama ini menguntungkan. Sebab, mereka sekadar merekam kajian Ustadz Adi di masjid-masjid yang sudah terjadwal. Tim SCTV tinggal menyiapkan peralatan syuting, kru, dan sedikit backdrop. Masjid berikut jamaah yang hadir, sudah tersedia. Salah satu masjid yang menjadi tempat rekaman adalah di Al Azhar, Jaka Permai, Bekasi.

Namun, ketika Gema Ramadhan dipindah waktu tayangnya, mulailah pihak manajeman Ustadz Adi mempertanyakan. Terlebih lagi jamaah setia Ustadz Adi yang protes soal pemindahan jam tayang. Protes tersebut terlihat di akun Facebook Akhyar TV. Padahal, awalnya di episode perdana, Gema Ramadhan tayang pukul 12:30. Di episode kedua, tayang pukul 23:30 WIB.  Entah kenapa Gema Ramadhan dipindah waktu tayangnya. Yang pasti, pada waktu tersebut, iklan rokok diizinkan. 

SCTV rupanya kurang hati-hati dalam menjaga hubungan kerja dengan Ustadz Adi. Stasiun televisi ini tak peduli menayangkan iklan rokok di saat jeda iklan acara Gema Ramadhan

Padahal sudah jelas Ustadz Adi mengharamkan rokok. Jika sang Ustadz sudah mengharamkan, masa di acara tausyiahnya mempromosikan rokok lewat iklan? Jelas hal tersebut membuat para penonton SCTV, dimana mayoritas jamaah setia Ustadz Adi akan mempertanyakan komitmen ucapan sang Ustadz tentang haramnya rokok. 

Selain rokok, saat jeda iklan, ada juga iklan sabun yang menampilkan perempuan yang memperlihatkan aurat. Berdasarkan hal itu, Ustadz Adi ogah bekerjasama lagi dengan SCTV. Ustadz mencoret SCTV dalam daftar televisi swasta mainstream dan tak sudi penuhi permintaan untuk syuting lagi.

Semoga apa yang dialami oleh SCTV, bisa menjadi pelajaran bagi stasiun televisi lain. Jika mengundang Ustadz, sebaiknya sudah tahu do and don't-nya. Sebab, masih banyak Ustadz yang idealis, seperti Ustadz Adi ini. Beliau tak perlu lagi popularitas, apalagi materi. Tugas sang Ustadz hanya berdakwah di media non-media sosial, dalam hal ini di televisi nasional. Jadi, apa yang diungkapkan dalam setiap kajian, yang sudah diunggah di Youtube, harus sejalan dengan di layar televisi. Soal rokok, salah satunya.   

Salam Etika!