Olive Bendon
Olive Bendon Travel Blogger

penikmat alam ciptaan Tuhan, senang berjalan kaki & menyesap senyap saat mutar-mutar di kuburan tua. menitipkan jejak di Olive's Journey dan Perempuan Keumala

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Khitanan Ceria Rumah Ilmu

21 Desember 2016   06:59 Diperbarui: 21 Desember 2016   09:02 155 2 1
Khitanan Ceria Rumah Ilmu
Selain orang tua, ada pak haji yang setia mendampingi dengan doa untuk menenangkan anak yang tegang saat dikhitan (dok. koleksi pribadi)

Tak semua orang bisa tenang – tenang saja ketika melihat jarum suntik, terlebih bila anggota tubuhnyalah yang akan menjadi sasaran si jarum suntik. Sugesti terhadap perkakas dokter itu pulalah yang menghadirkan ketegangan di wajah beberapa anak lelaki bersarung yang duduk – duduk di tikar, di pekarangan belakang pendopo Rumah Ilmu (Rumil). Ada yang menikmati hiburan yang disajikan dari panggung terbuka, ada yang berusaha terlihat tenang meski sarungnya terlihat berdebar – debar menahan getar tubuh pemakainya. Ada pula yang tak dapat menahan kucuran air mata yang terus saja menganak sungai di pipinya.

Jarum suntik itu belum sedikit pun menyentuh tubuhnya, tapi ketegangan demi ketegangan tampak jelas di wajah Putra (5) yang siap menyongsong usia akil balig. Ketika diajak bercanda, susah payah dihadirkannya senyum di bibirnya. Ia beberapa kali terlihat mengusap wajahnya dengan kedua tapak tangannya saat kupingnya menangkap teriakan – teriakan dari belakang punggungnya. Ia pun beberapa kali mengganti posisi duduknya, berusaha bercanda dengan kawan yang duduk di kiri kanannya yang juga sama – sama tegang menunggu nomor urut dan nama mereka dipanggil.

Saya bersua Putra saat dirinya melangkah keluar dari Ruang Salep dan berjalan mengantri ke depan photo booth sebelum dirinya memilih duduk di barisan depan, di depan panggung menonton keriaan yang ditampilkan oleh anak – anak Rumil. Meski datang ditemani ayah dan ibunya, Putra masih terlihat tenang duduk tak didampingi orang tuanya ketika satu dua anak yang tubuhnya lebih besar terlihat membenamkan diri rapat  – rapat ke tubuh ayah atau ibu mereka.

Putra (menangkup muka dengan tangan) menunggu giliran masuk bilik (dok. koleksi pribadi)
Putra (menangkup muka dengan tangan) menunggu giliran masuk bilik (dok. koleksi pribadi)
Ketika nomornya dipanggil, Putra berdiri dengan sigap dan berjalan digandeng ayahnya ke bilik nomor 2 (dua). Tangisnya pecah ketika dirinya diminta untuk tidur telentang dan dokter mulai menyingkap sarungnya. Butir – butir keringat besar bermunculan satu – satu di keningnya. Peci Turki berwarna putih yang tadi menempel di kepalanya pun lepas. Tungkai kakinya menegang, tapak kakinya saling bertaut. Ketika matanya menangkap gerakan tangan dokter mengangkat jarum suntik, ia menghentakkan kakinya keras – keras, mulutnya yang sedari tadi bungkam mengeluarkan suara parau,”Ampun ya Allaaaaaaah!” Ayahnya sigap menggenggam erat – erat kedua tangannya, menenangkan puteranya agar tak melakukan gerakan yang mengganggu kerja dokter.

Pelukan ayah untuk menenangkan puteranya (dok. koleksi pribadi)
Pelukan ayah untuk menenangkan puteranya (dok. koleksi pribadi)
Putra adalah seorang peserta Khitanan Ceria, kegiatan sunatan massal tahunan yang digelar Rumil secara cuma -cuma di Jagakarsa, Sabtu pagi (17/12/2016) lalu. Hari itu, pendopo Rumil disekat – sekat dengan kain panjang menjadi bilik – bilik praktek untuk 5 (lima) orang dokter, masing – masing didampingi seorang asisten. Bila ditilik dari pandangan agama Islam, sunat itu wajib hukumnya. Namun, dari segi kesehatan sunat sangatlah penting untuk menjaga kesehatan alat reproduksi laki – laki. Tapi, benarkah saat anak lelaki disunat penisnya dipotong? Sepertinya pemahaman “potong” inilah yang memunculkan ketegangan dan ketakutan teramat sangat pada anak – anak yang hendak disunat. Membayangkan sakit ketika alat vitalnya berdarah – darah dipotong entah dengan gunting atau pisau.

Sebenarnya, sunat yang dilakukan pada anak lelaki hanyalah proses pemotongan kulit yang membungkus kepala penis (kulup), bukan memotong penis. Untuk meminimalisir rasa sakit yang muncul, pasien sunat diberi anestesi lokal dan tindakan dilakukan dengan teknik laser. Menurut Dr Tata, salah seorang dokter yang saya temui saat sibuk membersihkan sarung tangan yang dikencingi pasien sunat di salah satu bilik, sunat sudah bisa dilakukan sejak bayi. Meski teknik operasi kecil yang dilakukan pada Khitanan Ceria ini menggunakan laser, namun tetap saja para dokter bersedia melayani permintaan pasien cilik dan orang tuanya yang memilih untuk disunat dengan cara biasa yang prosesnya lebih lama dan sakitnya pun lebih terasa. Proses pemulihan usai sunat laser lebih cepat, hanya perlu 3 – 4 hari dibanding dengan sunat biasa. Di samping itu, sunat laser pengerjaannya juga lebih cepat (tergantung perlawanan yang diberikan oleh pasien), tak menimbulkan banyak pendarahan, dan luka terkadang tak perlu dijahit.

Panggung hiburan yang menceriakan Khitanan Ceria (dok. koleksi pribadi)
Panggung hiburan yang menceriakan Khitanan Ceria (dok. koleksi pribadi)
Kenapa disebut Khitanan Ceria? Karena salah satu trik untuk menenangkan anak – anak yang menanti giliran masuk bilik adalah diberi hiburan musik. Jeritan – jeritan kesakitan dari pasien sunat yang sedang ditangani dokter pun diredam lewat lagu – lagu dan musik yang diperdengarkan saat terdengar suara – suara menegangkan dari bilik. Pengalihan ketegangan juga diberikan lewat dekorasi pada panggung hiburan yang ditata sedemikian rupa dengan poster – poster wajah pahlawan yang berwarna – warni untuk menstimulasi otak anak dengan pengetahuan. Sehingga diharapkan saat menunggu, anak – anak disibukkan dengan pikiran yang sehat tanpa memikirkan rasa sakit yang mungkin saja muncul karena sugesti dan paham keliru akan sunat yang telah ditanamkan kepadanya.

Yang berlelah menyiapkan Khitanan Ceria (dok. koleksi pribadi)
Yang berlelah menyiapkan Khitanan Ceria (dok. koleksi pribadi)
Sebanyak 60 anak mengikuti Khitanan Ceria yang digelar Rumil untuk keempat kalinya dibantu oleh tim dokter dari Komunitas Sunatan Massal (KSM), mas Itok Soekarso yang menyumbangkan poster – poster WPAP kerennya, Wiwin Dongeng yang tak henti mengisi panggung serta volunteer yang bahu membahu meluangkan waktu menciptakan kegiatan sunatan ini menjadi semacam kawinan ala Betawi saja. Para peserta sunat tak hanya berasal dari sekitar Jagakarsa, ada juga yang datang dari Depok dan Slipi. 

Ada yang datang dikawani orang tuanya, ditemani kakak serta adiknya, pun yang diantar pakdenya karena ayahnya sedang bekerja. Beberapa dari mereka tetap tenang ketika masuk ke bilik hingga proses sunat selesai, namun tak sedikit juga yang berteriak – teriak. Menurut Adrian (7) dan Ivan (7), mereka tak merasakan sakit saat disunat, hanya berasa digigit semut ketika jarum suntik menyentuh penis setelah itu, biasa saja. Yang belum sempat sunat, yuuk! April depan akan ada Khitanan Ceria lagi, ikutan ya. Saleum [oli3ve].