Mohon tunggu...
Oktavia  Dwi iriyanti
Oktavia Dwi iriyanti Mohon Tunggu... Mahasiswa

Semangat

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Alam & Teknologi

Mengenal Perilaku Agresif dan Autis

5 Desember 2020   16:09 Diperbarui: 5 Desember 2020   16:17 7 0 0 Mohon Tunggu...

Saya akan menjelaskan tentang perilaku agresif, Autis. 

Anak yang diharapkan oleh orangtua adalah anak yang sempurna tanpa memiliki kekurangan. Pada kenyataannya, tidak ada
satupun manusia yang tidak memiliki kekurangan. Manusia tidak ada yang sama satu dengan lainnya. Seperti apapun keadaannya, manusia diciptakan unik oleh Sang Maha Pencipta. Setiap orang tidak ingin dilahirkan di dunia ini dengan menyandang kelainan maupun memiliki kecacatan.
Orang tua juga tidak ada yang menghendaki kelahiran anaknya menyandang kecacatan. seorang anak berkebutuhan khusus tidak mengenal berasal dari keluarga kaya, keluarga
berpendidikan, keluarga miskin, keluarga yang taat beragama atau tidak. Orangtua tidak mampu menolak kehadiran anak berkebutuhan khusus. Sebagai manusia, anak berkebutuhan khusus memiliki hak untuk tumbuh dan berkembang di tengah-tengah keluarga, masyarakat dan bangsa. Ia memiliki hak untuk sekolah sama seperti saudara lainnya yang tidak memiliki kelainan atau normal. Allah SWT memiliki maksud mulia bahwasanya orangtua memiliki anak berkebutuhan
khusus, dan manusia harus meyakini hal tersebut dengan taat kepadaNya. Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memerlukan penanganan khusus karena adanya gangguan perkembangan dan kelainan yang dialami anak. Berkaitan dengan istilah disability, maka anak Psikologi Anak Berkebutuhan Khusus berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki keterbatasan di salah satu atau beberapa kemampuan baik itu bersifat fisik seperti tunanetra dan
tuna rungu, maupun bersifat psikologis seperti autism dan ADHD. Pengertian lainnya
bersinggungan dengan istilah tumbuh-kembang normal dan abnormal, pada anak berkebutuhan khusus bersifat abnormal, yaitu terdapat penundaan tumbuh kembang yang biasanya di usia balita seperti baru bisa berjalan di usia 3 tahun. Hal lain yang menjadi dasar anak tergolong berkebutuhan khusus yaitu ciri-ciri tumbuh-kembang anak yang tidak muncul (absent) sesuai usia perkembangannya seperti belum mampu mengucapkan satu katapun di usia 3 tahun, atau terdapat penyimpangan tumbuh-kembang seperti perilaku echolalia pada anak autis. Pemahaman anak berkebutuhan khusus terhadap konteks, ada yang bersifat biologis, psikologis, sosio-kultural. Dasar biologis anak berkebutuhan khusus bisa dikaitkan dengan kelainan
genetik dan menjelaskan secara biologis penggolongan anak berkebutuhan khusus, seperti brain injury yang bisa mengakibatkan kecacatan tunaganda. Dalam konteks psikologis, anak berkebutuhan khusus lebih mudah dikenali dari sikap dan perilaku, seperti gangguan pada kemampuan belajar pada anak slow learner, gangguan kemampuan emosional dan berinteraksi pada anak autis, gangguan kemampuan berbicara pada anak autis dan ADHD. Konsep sosio kultural mengenal anak berkebutuhan khusus sebagai anak dengan kemampuan dan perilaku yang tidak pada umumnya, sehingga memerlukan penanganan khusus.
Pembahasan
Istilah agresif digunakan untuk menggambarkan perilaku siswa, bentuk dari luka fisik terhadap makhluk lain yang secara otomatis terdapat di dalam fikiran (Zirpoli, 2008: 440). Agresif merupakan perilaku serius yang tidak seharusnya dan menimbulkan konsekuensi yang baik
untuk siswa maupun untuk orang lain yang ada di lingkungannya. Salah satu bentuk emosi anak
adalah marah yang diekspresikan melalui agresi (Seagal, 2010: 97). Hal tersebut merupakan
tindakan yang biasa dila-kukan oleh anak sebagai hasil dari kemarahan atau frustasi. Paparan di atas dapat disimpulkan agresif merupakan bentuk ekspresi marah yang diwujudkan melalui perilaku yang dilakukan dengan sengaja untuk menyakiti orang lain dan menimbulkan konsekuensi yang serius. Jenis Perilaku Agresif Lancelotta dan Vaughn menyatakan ada empat tipe perilaku
agresi dan reaksi anak-anak terhadap penerimaan sosial, yaitu: (1) agresi fisik yang diprovokasi, misal: menyerang kembali mengikuti provokasi; (2) agresi yang meledak, misal: marah tanpa alasan yang jelas; (3) agresi lisan, misal: mengancam; dan (4) agresi secara tak langsung, misal: menceritakan pada guru bahwa siswa lain yang melakukan kesalahan (Vaughn dan Bos, 2012: 106). Sedangkan Baron dan Byrne mengklasifikasikan perilaku agresif menjadi delapan, antara lain:
(1) agresi langsung fisik verbal; (2) agresi langsung aktif non verbal; (3) agresi langsung pasif verbal;
(4) agresi langsung pasif non verbal; (5) agresi tidak langsung aktif verbal; (6) agresi tidak langsung
aktif non verbal; (7) agresi tidak langsung pasif verbal; dan (8) agresi tidak langsung pasif non
verbal (Faturrohman, 2006: 207- 208).
Beberapa klasifikasi perilaku agresif di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku agresif anak
tidak hanya sebatas perilaku yang bersifat fisik, tapi juga mencakup lisan, seperti: ucapan kasar
untuk mengintimdasi orang lain termasuk berdusta. Penyebab Perilaku Agresif Para ahli
mengemukakan penyebab perilaku agresif pada anak. Agresi pada anak berkaitan dengan keluarga yang pengangguran, kelaparan, kriminalitas, dan gangguan psi-kiatrik (Linwood, 2006: 1). Penyebab perilaku agresif terdiri dari sosial, personal, kebudayaan, situasional, sumber daya, media massa, dan kekerasan dalam rumah tangga (Wirawan, 2009: 94-97). Sehingga dapat simpulkan bahwa penyebab agresi sangatlah beragam, tidak hanya disebabkan karena adanya
dorongan dari dalam diri, namun dipengaruhi juga oleh kognisi serta faktor lingkungan dimana anak mempelajari perilaku agresi melalui pengamatan dan pengalaman. Pengaruh terbesar perilaku agresif anak berasal dari keluarga, khususnya keluarga dari kelas sosial ekonomi bawah, sehingga memiliki resiko yang besar untuk menimbulkan gangguan sosial emosi berupa perilaku
agresif pada anak. ketidaknormalan dalam bentuk perilaku, fisik, atau dalam hal mental, tentu setiap orangtua akan merasa sedih bercampur cemas, takut anaknya tidak akan mampu menghadapi kehidupan ini dengan baik. Dalam dunia medis dan psikiatris, gangguan autisme atau biasa disebut
ASD (Autistic Spectrum Disorder) merupakan gangguan perkembangan fungsi otak yang kompleks dan sangat bervariasi (spektrum). Biasanya gangguan perkembangan ini meliputi bidang komunikasi, interaksi, perilaku, mosi dan sensoris. Dari data para ahli diketahui penyandang ASD anak lelaki empat kali lebih banyak dibanding penyandang ASD anak perempuan. Gangguan
autisme atau biasa disebut ASD (Autistic Spectrum Disorder) merupakan gangguan perkembangan
fungsi otak yang komplex dan sangat bervariasi (spektrum). Biasanya gangguan perkembangan ini
meliputi bidang komunikasi, interaksi, perilaku, emosi dan sensoris.
Ringkasan
Perilaku agresif anak berkebutuhan khusus dengan gangguan autisme dalam
kesehariannya berbeda satu sama lain meskipun gangguan mereka sama. Secara keseluruhan,
perilaku mereka menampakkan perbedaan dimana DNA mengalami gangguan autisme yang
tergolong ringan sedangkan BGS mengalami gangguan autisme kategori berat.DNA yang autisme
ringan menunjukkan perilaku yang berkekurangan (deficient) ditunjukkan dengan ekolalia
(pengulangan kata), sedangkan BGS yang tergolong kategori berat juga lebih menunjukkan perilaku yang berlebihan (excessive) seperti mengamuk, menjambak, berteriak. Hubungan sosial
dan komunikasi dengan lingkungan sekitar anak autis sama seperti anak dengan autisme lainnya yakni anak masih kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain, untuk berbicara saja mereka masih mengalami keterlambatan bicara. Respon anak cenderung cuek, menunjukkan ekspresi datar, dan tidak mengetahui apa yang harus dilakukan jika sesuatu terjadi di lingkungan
sekitarnya. 

Semoga bermanfaat bagi para pembaca.

VIDEO PILIHAN