Odi Shalahuddin
Odi Shalahuddin profesional

Pegiat hak-hak anak dan pengepul arsip teater, sastra dan kebudayaan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Sengkuni 2019, Cak Nun Menggugat

12 Januari 2019   18:45 Diperbarui: 19 Januari 2019   18:21 1772 22 7
Sengkuni 2019, Cak Nun Menggugat
Joko Kamto (narator & Sengkuni) dan Eko Winardi (Khatib) dalam Gladi Resik

Menjelang akhir tahun 2018, publik Yogya disuguhi oleh tontonan yang menarik, "Montserrat' karya Emmanuel Robles oleh Teater Alam dengan sutradaranya Puntung CM Pudjadi dalam rangka menyambut usianya yang ke 47.

Pada awal tahun ini, publik Yogya dimanjakan lagi oleh tontonan bermutu, "Sengkuni 2019" karya Emha Ainun Nadjib yang dimainkan oleh Teater Perdikan  yang disutradarai oleh Jujuk Prabowo. Terdengar kabar pula dalam waktu dekat Teater Gandrik akan hadir unjuk gigi memberikan tontonan yang biasanya "segar".

Barangkali terlalu dini jika dikatakan peristiwa-peristiwa tersebut sebagai pertanda akan kebangkitan kembali teater Yogya yang dapat menggetarkan. Namun, bukanlah hal berdosa jika muncul harapan, peristiwa tersebut menjadi api pembakar semangat terutama bagi kaum muda untuk menghidupkan, menggeliatkan, dan membangun terobosan-terobosan baru yang sesuai dengan perkembangan zaman, dengan kualitas kreativitas dari pergulatan total para seniman teaternya.

Teater Perdikan, yang pernah menampilkan "Nabi Darurat, Rasul Ad Hoc" (2012), kini tampil dengan lakon yang sangat kontekstual, dan namanya sering disebut-sebut atau yang pasti kerap dituliskan dalam status-status media sosial: SENGKUNI. Tapi, Emha Ainun Nadjib sang penulis naskah menolak bahwa naskah yang dibuatnya untuk mencari, menemukan atau menuding figur Sengkuni dalam suatu konstelasi.

"Pementasan ini justru menawarkan kepada yang menontonnya agar mencari "apa Sengkuni" pada kehidupan ber-negara dan masyarakat kita. Bukan "Siapa Sengkuni". Karena pada ukuran tertentu, tidak tertutup kemungkinan bahwa pada hakikinya kita semua atau masing-masing adalah Sengkuni," demikian dituliskan Cak Nun, demikian panggilan akrab Emha Ainun Nadjib dalam booklet pertunjukan.

small-02-5c39d1dbaeebe15a0d38f938.jpg
small-02-5c39d1dbaeebe15a0d38f938.jpg
Pada booklet tersebut, Cak Nun juga memohon maaf kepada masyarakat pewayangan lantaran yang ditulisnya tidak sama dengan khazanah yang selama ini dikenal luas. Nah, ini justru merupakan hal yang menarik, mengingat versi lain, tentulah bukan bersifat mana-suka dari pengarangnya, melainkan tentulah didasarkan oleh sumber-sumber lain yang barangkali selama ini terabaikan, atau tertutupi, atau entah apalah nama dan sebabnya, sehingga kisah menjadi tunggal versi-nya.

Pementasan yang akan berlangsung dengan durasi dua jam lima puluh menit, kiranya merupakan tantangan tersendiri yang berat bagi Teater Perdikan untuk mengemas pertunjukan agar tidak membosankan para penonton. Ditambah bahwa lakon ini merupakan lakon serius yang mengandalkan kekuatannya pada dialog-dialog.

Kebetulan saya berkesempatan menonton latihannya saat di Rumah EAN di Kadipiro (7/1) dan saat berlangsungnya Gladi Resik di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (11/1).

Proses latihan sekitar empat bulan yang telah dilakukan, pada malam itu dinikmati pula oleh para seniman Yogyakarta. Sebut saja Indra Tranggono (pengamat teater), Khocil Birowo, Edo Nurcahyo, Vencensius Dwimawan (yang akan berpameran drawing wajah seniman Yogya di Rumah Budaya Tembi). Usai latihan, Cak Nun meminta yang hadir untuk memberi komentar atau masukan. 

Dan mengalirlah beberapa kritik serta masukan-masukan. Pada saat menyaksikan gladi resiknya, saya terkesima bahwa kritikan dan masukan-masukan saat latihan tersebut hampir sebagian besar diterima. Memang Jujuk Prabowo selaku sutradara tentulah tidak diragukan lagi kepiawaiannya. Dalam waktu singkat ia mampu melakukan perubahan-perubahan. Waktu dua jam lima puluh menit, menjadi tidak terasa. Adegan demi adegan mengalir.

Joko Kamto yang berperan sebagai narator sekaligus sebagai Sengkuni mampu menunjukkan permainannya yang luar biasa, dengan vokal yang bagus, berirama dan terjaga dan gerak tubuh yang masih lentur dan prima. 

Sekitar dua puluh menit, di adegan terakhir, ia bermonolog memberikan kesaksian, melakukan gugatan-gugatan atas stigma yang dialaminya dan rasa dan pikir kita rasanya seperti diayun-ayun dan dimainkan secara lembut, diputar-putar, kadang berganti arah secara kasar. Monolog ini rasanya, seperti gugatan Cak Nun terhadap keadaan bangsa dan negara ini.

Kizano yang menjadi penyegar
Kizano yang menjadi penyegar
 Novi Budianto juga bermain sangat baik dan improvisasinya (yang biasanya sangat kaya) terlihat terjaga. Tampaknya tiadalah terlalu berlebihan jika dikatakan dua aktor inilah yang menjadi penjaga secara bergantian dari setiap adegan sepanjang pementasan. Kendati bukan berarti pemain lain bermain buruk. Agus Istijanto, Margono W, Eko Winardi, Kumbo Adiguno, Doni, sebagian dari pemain yang juga memiliki pengalaman panjang sebagai aktor memang dituntut untuk mengimbangi. 

Adegan Kizano, kaum muda zaman now memang memberi penyegaran dalam pentas ini. Sayang, kadang gerak-geraknya yang beberapa kali diulang terlalu berlebihan. Kelompok bertopeng, masih sedikit berantakan kekompakannya. Musik dan tata lampu sangat mendukung pementasan ini. Musik yang dikreasi oleh Azied Dewa, SP Joko, Doni dan Widi, terasa menyatu dengan adegan demi adegan yang berlangsung. Tata lampu cukup ciamik dimainkan oleh Wardono.

Nah, pementasan "Sengkuni 2019" akan dimulai pada malam ini, 12 Januari 2019 dan esok, 13 Januari 2019. Seminggu sebelum pementasan, seluruh tiket telah terjual habis. Gladi Resik menjadi ruang bagi yang tidak berkesempatan mendapatkan tiket.

Pada pementasan sesungguhnya, tentulah hasilnya pasti bisa lebih baik. Maka, ayo jangan lewatkan. Saya tengah bersiap nih untuk bergerak ke Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Rencana pementasan akan dimulai pada pukul 19.30

Yogyakarta, 12 Januari 2019