Kesehatan

Farmasis Menuju Indonesia Sehat 2025

12 Januari 2018   21:27 Diperbarui: 12 Januari 2018   21:36 261 0 0

Sehat adalah kondisi jiwa dan raga atau badan yang terbebas atau terhindar dari penyakit. 

Sehat merupakan idaman bagi semua orang. Kenyataannya sekarang banyak masyarakat yang semakin hari semakin jauh dari kata sehat sehingga tenaga-tenaga kesehatan merasa terpanggil untuk kembali menjelaskan tentang bagaimana hidup sehat itu. 

Hampir semua masyarakat mengatakan bahwa dengan sehat harus menggunakan obat dokter, hal itu sangatlah merusak pola pikir masyarakat sehingga semakin menjauhi hidup sehat itu sendiri. 

Farmasis merupakan salah satu profesi kesehatan yang akan mewujudkan Indonesia Sehat 2025. Farmasis adalah seseorang yang memiliki wewenang untuk mendirikan atau menjadi kepala di apotek yang memiliki tanggung jawab untuk memastikan penggunaan obat-obatan dilakukan secara aman, efektif dan rasional. 

Adapun seorang Farmasis perhatiaan utamanya tentu saja pasiennya dimana lebih menekankan pada keselamatan pasien dalam menggunakan obat-obatnya, kepatuhan pasien dalam mengomsumsi obatnya sesuai resep yang diberikan dan juga farmasis harus lebih teliti dalam menentukan ketepatan peresepan yang akan diberikan dan dikomsumsi oleh pasien. 

Tapi, seorang Farmasis bukan hanya bekerja sebagai penjaga apotek, penjual ataupun pembaca resep dokter. Tapi, seorang Farmasis memiliki juga peran penting dalam Indonesia Sehat. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya masalah kesehatan dan kurang memuaskannya pembangunan kesehatan. 

Hal ini dikarenakan kurangnya anggaran nasional untuk pembangunan kesehatan sehingga banyak hal yang sebenarnya dapat diselenggarakan tapi harus tertunda karena suatu hal. 

Dan juga, pembangunan lain juga belum mendukung meningkatnya kesejahteraan masyarakat di Indonesia. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, maka dibuatlah visi dan misi baru yang tidak hanya menyelesaikan masalah kekinian tapi juga dapat meyelesaikan masalah-masalah yang akan datang kedepannya. 

Telah diketahui bahwa Indonesia juga merupakan era globalisasi yang tentu saja akan terus berkembang dan berkembang. Oleh karena itu, pembangunan kesehatan harus diarahkan dengan lebih baik lagi.  Adapun visi, misi, tujuan dan sasaran  Indonesia Sehat tahun 2025, yaitu :

  • Visi Indonesia Sehat 2025
    • Lingkungan yang kondusif untuk mewujudkan kesehatn jasmani, rohani maupun social.
    • Bersifat proaktif untuk memelihara diri dari penyakit dan apapun masalah kesehatan.
    • Mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu
  • Misi Indonesia Sehat 2025
    • Menggerakkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan.
    • Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat.
    • Memelihara dan meningkatkan upaya kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau.
    • Meningkatkan dan mendayagunakan sumber daya kesehatan.
  • Tujuan dan Sasaran
    • Tujuannya yaitu untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan hidup sehat agar derajat kesehatan dapat meningkat dan juga penduduk Indonesia akan mendapatkan kehidupan sehat yang bermutu, adil dan merata yang ditandai dengan kehidupan penduduknya di lingkungan yang sehat.
    • Sasarannya yaitu agar dapat meningkatkan hidup sehat di masyarakat.

Peran Farmasis dalam menyongsong Indonesia Sehat tahun 2025 tentulah sangat penting. Tapi, di Indonesia seorang Farmasis masih dianggap sebagai orang kedua setelah dokter. 

Hal ini juga terjadi tentu saja karena seorang Farmasis yang tidak berkontak langsung dengan para pasien sehingga orang-orang berpikiran seperti itu. Padahal peran seorang Farmasis sebaiknya berkontak langsung dengan para pasian untuk memberitahukan tentang manfaat ataupun efek samping obat yang akan mereka gunakan itu sesuai kondisi dan dosisnya. 

Peran Farmasis juga dapat diwujudkan dengan melakukan konseling atau penyuluhan. Dengan melakukan kosenling, seorang Farmasis akan tahu kemampuan dan juga perkembangan pasien tersebut. 

Sedangkan dengan penyuluhan dapat dilakukan dengan langsung ataupun tidak lansgung. Penyuluhan langsung dapat dilakukan secara perorangan ataupun berkelompok sedangkan penyuluhan tidak langsung dapat dilakukan dengan cara membuat poster ataupun pamflet tentang penyakit-penyakit. 

Dan juga seorang Farmasis yang tahu tentang obat harus benar-benar memastikan agar paseinnya mengetahui dengan baik tentang penyakit yang dideritanya. 

Hampir semua orang pasti telah berhadapan dengan obat-obatan tapi hanya segelintir orang yang benar-benar tau cara mengelolanya dengan baik. Disinilah juga salah satu peran Farmasis untuk mengenalkan pada masyarakat tentang penggunaan obat yang baik dan benar. 

DAGUSIBU.

Dagusibu adalah akronim yang dibuat oleh IAI (Ikatan Apoteker Indonesia) melalui Gerakan Keluarga Sadar Obat. Dagusibu (Dapatkan, Gunakan, Simpan, Buang). 

1. Dapatkan

Maksudnya adalah dapatkan obat ditempat yang benar agar kualitas dan manfaatnya terjamin. Jangan membeli obat sembarangan di kios-kios ataupun di warung sebaiknya membeli obat di apotek. Dan juga jangan menerima obat dari orang lain seperti teman, tetangga yang tidak memiliki pendidikan di bagian kesehatan khususnya Farmasi. Karena, bisa saja terjadi kesalahan akibat perbedaan dosis obat ataupun yang lainnya. Karena setiap orang memiliki sifat dan karakter masing-masing sehingga ada orang yang cocok dan tidak.

2. Gunakan

Maksudnya adalah gunakan obat sesuai penyakit yang diderita, sesuai dosis, sesuai aturan pakai dan sesuai cara pemberiannya. Maka dari itu, jangan gunakan obat-obat sembarangan karena bisa saja gejala yang diderita sama tapi penyebab penyakitnya berbeda sehingga biasanya dokter mendiagnosa pasiennya harus bertatap muka. 

Dan juga dalam pemberian atau mengomsumsi obat harus berhati-hati. Kalau ditelan ya ditelan. Karena ada juga jenis tablet yang tidak dapat digerus sehingga harus ditelan agar tidak kehilangan efek dari obat tersebut. Jadi, perhatikan dengan baik arahan dari dokter ataupun tenaga kesehatan lainnya. Karena, bisa saja karena kesalahan penggunaan dapat mengakibatkan efek dari obat tersebut berkurang atau bahkan tak bekerja sama sekali.

3. Simpan

Maksudnya adalah simpan obat sesuai perintah yang tertera dalam kemasan. Hal ini dilakukan agar obat tidak gampang rusak. Obat juga harus dijauhkan dari anak-anak agar tidak dijadikan sebagai mainan karena bisa jadi obat tersebut berbahaya bagi mereka. Sebaiknya di simpan dikotak atau lemari atau kadang ada beberapa obat yang harus disimpan di dalam kulkas.

4. Buang

Maksudnya adalah membuang obat tidak sembarangan membuang. Obat yang dibuang harus benar-benar sudah tidak dapat digunakan lagi seperti kadaluwarsa atau sudah rusak agar jika dibuang obat tersebut tidak digunakan untuk hal-hal lain yang bisa saja membahayakan. Pada saat ingin membuang obat sebaiknya bentuknya sudah tidak berbentuk lagi. 

Pembuangan dilakukan dengan memakai masker agar tidak tercium bau-bau yang kurang sedap dan kemudian hancurkan. Setelah itu, buang ditempat yang benar. Tapi, beberapa untuk obat-obat khusus seperti obat kanker. Obat tersebut akan dihancurkan menggunakan alat khusus yaitu incenerator.

Adapun masalah lain tentang Farmasis di Indonesia. Pertama, Farmasis di negara berkembang masih sangat kurang dimanfaatkan sedangkan Farmasis di negara maju sangat diakui berperan penting sebagai penyedia layanan masyarakat. 

Menurut (Menkes, 2004), Indonesia telah bekerja sama dengan Direktorat Jendral Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan (Ditjen Yanfar dan Alkes), Departemen Kesehatan RI dengan organisasi profesi Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI) dan kemudian menyusun Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek yang bertujuan menyediakan pedoman praktik dan melindungi masyarakat dari pelayanan Farmasis yang tidak profesional. 

Kedua, ketidakberhasilannya implementasi beberapa peraturan yang beberapa diantaranya sangat sulit dilakukan di Indonesia. 

Hal ini juga dapat menyebabkan kegagalan dalam penyelenggaraan layanan kefarmasian yang aman dan bermutu dan lebih parahnya lagi dapat mengakibatkan hilangnya masa depan Farmasis di Indonesia. 

Untuk pencegahan hal itu harus dibutuhkan strategi yang baik dan benar yaitu melakukan pembinaan dsn pengawasan secara sistematis dan bertahap yang terkhusus pada masyarakat pengguna obat. Hal ini juga dilakukan dengan manfaat agar dapat terselenggaranya praktik Farmasis yang aman, bermutu dan terjangkau dan juga memberi jalan bagi Farmasis untuk menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.

Seorang Farmasis juga tidak bisa dengan seenaknya langsung membuka sebuah apotek, seorang Farmasis harus mengikuti peraturan yang berdasarkan Permenkes RI No. 992/Menkes/Per/X/1993 yaitu :

1.  Ijazah telah terdaftar pada Departemen Kesehatan

2. Telah mengucapkan sumpah atau janji Apoteker

3. Memiliki Surat Izin Kerja (SIK) atau surat penugasan dari Menteri Kesehatan

4. Memenuhi syarat-syarat seperti kesehatan fisik dan mental untuk melaksankan tugasnya sebagai Farmasis yang baik

5. Tidak bekerja di perusahaan Farmasis atau bekerja di apotek lain.

Farmasis yang baik tentu saja adalah Farmasis yang berkompetensi dimana memiliki bakat, sikap, pengetahuan dan keterampilan yang baik. Ada tiga macam peran Farmasis yaitu profesional, manager dan retailer.

1. Sebagai Profesional, disini Farmasis berpegang teguh pada asas pharmaceutical care dimana pelayanannya baik dan efisien. Dimana pelayanannya meliputi, pelayanan resep, promosi dan edukasi dan pelayanan residential atau biasa disebut dengan home care. Pelayanan tersebut tidak langsung, tetapi juga melalui banyak tahap.

2. Sebagai Manager, dimana Farmasis merencanakan, merancangkan, mengarahkan dan mengendalikan sumber daya untuk mencapai tujuan, efisen dan efektivitas. Dimana jika seorang Farmasis sudah memenuhi hal tersebut maka diharapkan agar sudah dapat mencapai hal-hal yang baik dan dapat memilih metode yang tepat.

3. Sebagai Retailer, telah kita ketahui bahwa seorang Farmasis menjadikan apotek sebagai tempatnya mengabdi tetapi juga digunakan untuk mendapatkan keuntungan atau profit. Tetapi, tanpa keuntungan sebuah apotek tidak akan berdiri atau bertahan dengan lama. 

Maka dari itu, untuk mendapatkan dan meningkatkan keuntungan tersebut tentu saja Farmasis akan memperbaiki dalam hal pelayanan pasiennya karena kepuasan pelanggang merupakan hal utama dan pokok dalam menuai keuntungan apotek dan sebagai retailer dapat memenuhi atau bahkan melebihi harapan dari pelanggan atau pasien.

Peran dan Fungsi Farmasis terampung dalam Nine Star Farmasi menurut WHO  (World Health Organization) yaitu care giver, decision maker, communicator, manager, leader, life long learner, teacher, research dan entrepreneur.

1. Care giver, dimana Farmasis berinteraksi secara langsung dengan pasiennya seperti memberikan konseling, konsultasi ataupun memonitoring.

2. Decision maker, dimana Farmasis mampu memutuskan keputusan tentang pekerjaan kerfarmasian yang bertujuan agar pengobatan efisien dan rasional.

3. Communicator, dimana Farmasis dapat berkomunikasi dengan baik dan benar sehingga pelayaan berjalan dengan lancar dan efisien.

4. Manager, dimana Farmasis dapat mengelola berbagai aspek kefarmasian yang mana membutuhkan management yang baik.

5. Leader, dimana Farmasis dapat memimpin dengan baik dalam hal memastikan bahwa apa yang dilakukan sudah benar atau tidak.

6. Life long learner, disini Farmasis ditantang untuk memiliki semangat belajar yang tinggi karen di dunia kesehatan info yang berkembang pesat sehingga Farmasis harus selalu tahu segalanya atau update.

7. Teacher, dimana Farmasis dapat memberi informasi kepada orang yang membutuhkan seperti generasi muda ataupun tenaga kesehatan lainnya.

8. Research, disini Farmasis ditantang untuk menemukan sesuatu dalam pengembangan obat-obatan yang lebih baik dari yang ditemukan sebelumnya.

9. Entrepreneur, dimana Farmasis dituntut untuk dapat berwirausaha seperti mendirikan usaha obat atau apotek yang bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat.

Referensi: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7