Mohon tunggu...
Nyoman Prayoga
Nyoman Prayoga Mohon Tunggu... Pekerja NGO -

Currently working as Flood Resilience Program Manager at Mercy Corps Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Inovasi

Merawat Pesisir Lewat Rehabilitasi Ekosistem Mangrove, Kota Pekalongan

1 Oktober 2015   11:39 Diperbarui: 2 Oktober 2015   14:50 462
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

[caption caption="Potensi hutan mangrove di Kota Pekalongan yang perlu terus diperkuat pengembangannya (dokumentasi program ACCCRN)"][/caption]

Dampak Perubahan Iklim terhadap Wilayah Pesisir Kota Pekalongan

Adanya fenomena perubahan iklim diperkirakan akan membuat rob dan banjir semakin sering terjadi dan meluas yang dipicu faktor peningkatan curah hujan, iklim ekstrim, dan peningkatan muka air laut. Hal ini juga yang mengancam Kota Pekalongan yang terletak di utara Provinsi Jawa Tengah dengan karakter pesisir yang kuat. Sebelumnya, pada tahun 2010, Direktur Pesisir dan Lautan Kementerian Kelautan dan Perikanan merilis hasil penelitiannya yang menyatakan genangan yang berpotensi masuk ke daratan Kota Pekalongan akibat kenaikan muka air laut  100 tahun ke depan bisa mencapai 2,8 kilometer dari garis pantai. Menurut Dinas Pertanian Peternakan dan Kelautan (DPPK) Kota Pekalongan sendiri, abrasi (penggerusan daerah pesisir pantai) yang terjadi di sana mencapai 2,2 ha/tahun. Abrasi yang terjadi di sepanjang 6 km pantai kota batik ini juga disebabkan oleh makin berkurangnya kawasan hutan mangrove di wilayah tersebut. 

[caption caption="Genangan rob menjadi ancaman untuk pesisir Kota Pekalongan dari waktu ke waktu (dokumentasi program ACCCRN)"]

[/caption]

Rehabilitasi Ekosistem Mangrove Menggunakan Media Tanam Adaptif

Untuk meningkatkan ketahanan terhadap ancaman banjir dan rob, Pemerintah Kota Pekalongan telah melakukan berbagai upaya. Salah satu yang dilakukan Pemerintah Kota Pekalongan adalah secara bertahap membangun pengaman pantai (revetment) untuk mencegah abrasi. Pembangunan revetment dengan teknologi geotube sepanjang 4,5 kilometer dilaksanakan mulai tahun 2012 dengan anggaran APBD Kota Pekalongan. Upaya pembangunan revetment dirasakan cukup efektif yang dibuktikan dengan adanya penambahan sedimentasi pada kawasan pantai yang luasnya mencapai 200 – 300 meter. Kemudian, upaya ini didukung dengan penanaman mangrove yang dilaksanakan oleh masyarakat dan pemerintah setempat yang sampai tahun 2014 telah mencapai 317 Ha atau sekitar 60% dari 671 Ha potensi lahan mangrove yang tersedia. Rencananya, ketika daratan baru telah terbentuk maka akan digunakan untuk pengembangan hutan mangrove.

Kota Pekalongan juga secara proaktif menjadi bagian dari Jejaring Kota-Kota Asia yang Berketahanan Iklim (Asian Cities Climate Change Resilience Network – ACCCRN). Melalui kolaborasi antara Kelompok Kerja Perubahan Iklim Kota Pekalongan, Mercy Corps Indonesia, APEKSI, dengan Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan dan Yayasan Bintari, pada tahun 2014 sampai 2015 telah dilakukan kegiatan untuk memperkuat upaya rehabilitasi ekosistem mangrove di pesisir Kota Pekalongan. Upaya rehabilitasi kawasan mangrove dilaksanakan di Kelurahan Kandang Panjang, Kecamatan Pekalongan Utara yang merupakan lokasi program pembangunan PRPM (Pusat Restorasi dan Pembelajaran Mangrove) yang lebih dulu dikembangkan oleh DPPK Kota Pekalongan.

[caption caption="Pusat Restorasi dan Pembelajaran Mangrove (PRPM) dikembangkan oleh DPPK Kota Pekalongan diharapkan dapat menjadi kawasan wisata mangrove yang edukatif (dokumentasi program ACCCRN)"]

[/caption]

[caption caption="PRPM sering mendapat kunjungan sebagai tempat belajar masyarakat dan pelajar mengenai ekosistem mangrove (dokumentasi program ACCCRN)"]

[/caption]

Kelurahan Kandang Panjang memiliki potensi mangrove berupa 83,5 Ha, 13,56% dari pesisir Kota Pekalongan. Tidak dilakukan secara konvensional, rehabilitasi penanaman mangrove di Kandang Panjang ini dilakukan dengan menggunakan media tanam bronjong bambu untuk meningkatkan potensi kehidupan mangrove, khususnya jenis api-api (Avicenia sp.). Sejauh ini penanaman mangrove dilakukan pada areal pematang tambak, sedangkan pada areal genangan tambak yang memiliki kedalaman 1,5 meter penanaman mangrove secara langsung mengalami kesulitan. Bibit mangrove yang ditanam rata-rata hanya memiliki ketinggian 50 – 75 cm, sehingga jika dipaksakan untuk ditanam langsung pada areal genangan tambak maka seringkali berujung mati.

Berdasarkan pembelajaran dari referensi dari berbagai sumber, teknik media tanam untuk penanaman mangrove di area genangan akan baik jika menggunakan bronjong bambu yang diisi sedimen yang fungsinya adalah untuk menjaga supaya tanaman mangrove tidak selalu tergenang atau mengalami pasang surut. Penanaman dengan  media tanam bronjong bambu  ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan potensi kelulusan hidup dengan tingkat keberhasilan mencapai 75%. Ketika tidak ada intervensi ini, tingkat hidup setelah satu tahun hanya mencapai 40% saja dari total mangrove yang ditanam. Dari program ACCCRN sendiri, 25 orang anggota Kelompok Muara Rezeki telah dilatih untuk mampu membuat dan memanfaatkan bronjong bambu dan telah dihasilkan 750 bibit mangrove yang ditanam dalam bronjong bambu pada areal genangan tambak tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun