Nuty Laraswaty
Nuty Laraswaty lainnya

owner my own law firm,bravoglobalteam founder,trainer network marketing, trading, speaker in radio program( heartline fm - gaya fm) and multiply seminars,mc

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Pilihan

Film Benyamin Biang Kerok, Pengabdi Setan, dan Warkop di Era "Kids Zaman Now"

5 April 2018   23:51 Diperbarui: 6 April 2018   00:03 1310 0 0
Film Benyamin Biang Kerok, Pengabdi Setan, dan Warkop di Era "Kids Zaman Now"
dokpri

Saya masih ingat di hari itu, saat seorang teman datang terengah-engah dan segera duduk  karena lelah sehabis berlari cepat.

"Kamu pasti kaget, apabila mengetahui  yang satu ini" , komentarnya . 

Benyamin Biang Kerok mau dibuat lagi filmnya. 

Dalam sejarah Film Indonesia, tercatat Film Benyamin Biang Kerok adalah film Indonesia yang dirilis pada tahun 1972 dengan disutradarai oleh Nawi Ismail.  Film ini dibintangi antara lain oleh Benyamin Sueb dan Ida Royani

Benyamin Sueb yang merupakan seniman Betawi dalam perjalanannya kemudian menjadi  ikon budaya Betawi , dengan gaya musiknya yang khas menggunakan peralatan musik Betawi , Benyamin Sueb kemudian melanjutkan karyanya ke panggung layar lebar dan sukses menampilkan Film Indonesia dengan budaya khas Betawi. 

Sehingga dengan dibuat lagi film ini, tentunya membuat bulu kuduk berdiri dan terpikir pertama kali adalah siapakah sutradaranya ? Saat di pencarian, muncul nama Hanung Bramantyo, sontak saya semakin tak sabar menunggu selesainya film ini dan segera tayang di layar lebar.

Maklum nama besar Hanung Bramantyo , seolah membius dan membangkitkan kepercayaan bahwa film yang dihasilkan dijamin bagus dan akan menjadi box office. Namun apakah benar begitu? Dalam catatan saya, banyak juga film yang disutradarai Hanung Bramantyo yang tidak mendapatkan tempat di netizen, komunitas dan pengamat film Indonesia. Banyak juga yang menuai kritik pedas, hingga berujung pada gugatan hukum.

Apa sajakah kiranya? Tercatat ada film Tanda Tanya, Hijab, Soekarno, Cinta Tapi Beda hingga Perempuan Berkalung Surban

Saat akhirnya penantian tersebut berakhir dan Film Benyamin Biang Kerok akhirnya diputar di layar lebar Indonesia, ternyata film ini termasuk yang tidak sukses di pasaran. 

Dilihat dari ramainya diskusi penggemar alm. Benyamin Sueb, netizen, komunitas dan pengamat film Indonesia , dapat ditarik benang merah rangkuman , yang bila disederhanakan  dan diambil intinya terdapat pada  faktor-faktor penyebabnya sebagai berikut:

1. Penempatan aktor dan aktris yang tidak pada tempatnya.

Banyak yang menyayangkan, kurang pas nya pemain dalam memerankan tokoh yang dihidupkan kembali ini. Mereka sangat ingin, siapapun aktor tersebut, harus menyerupai persis Benyamin Sueb, mulai dari perawakannya, gayanya dan bahkan ada yang menginginkan orang asli Betawi sendirilah yang memerankan Benyamin Sueb.

" Jadi bisa dikatakan film Benyamin Biang Kerok rilis baru dengan modifikasi amatlah tidak sesuai dengan harapan penggemar alm. Benyamin Sueb, netizen, komunitas dan pengamat film Indonesia "

2. Munculnya gugatan dari penulis naskah asli Benyamin Biang Kerok ,Syamsul Fuad kepada pihak Falcon Pictures.

HariFilmNasional yang jatuh pada tanggal 30 Maret , juga diperingati dengan sangat meriah oleh netizen, komunitas dan pengamat film Indonesia . Banyak postingan bertemakan memeriahkan HariFilmNasional muncul bertebaran di media sosial , dan banyak pula kesempatan untuk menonton film-film Indonesia diselenggarakan oleh banyak pihak. Salah satu yang menarik perhatian adalah pada pemutaran Vintage Film Festival , dengan pemutaran film perdana film horor Pengabdi Setan, yang dirilis tahun 1980 . Film Pengabdi Setandibuat ulang di tahun 2017 oleh Joko Anwar dan sukses besar disambut oleh netizen, komunitas dan pengamat film Indonesia.

Jadi mengapa dan apakah penyebab adanya perbedaan reaksi dari film remake Benyamin Biang Kerok dengan Pengabdi Setan?

Apabila diperhatikan lebih dalam lagi, kita dapat melihat telah terjadi perubahan pola selera tontonan untuk Film Indonesia. 

Semenjak kebangkitan Film Indonesia di awal tahun 2000-an, banyak adegan demi adegan yang "dimaafkan" oleh netizen, komunitas dan pengamat film Indonesia sebelum awal kebangkitan Film Indonesia , maka sejak mulai awal tahun 2000-an banyak menjadi sorotan tajam dan menuai  kritik yang teramat keras . 

Di era ini hingga sekarang , mulai banyak yang kritis pada tontonan yang disajikan di layar lebar. 

Sempat terbentuk pula "Komunitas-komunitas Film yang Bagus", komunitas mengkhususkan diri untuk menghakimi film-film Indonesia yang menampilkan pornografi.  Banyak film yang mendapat lampu merah , bahkan film Joko Anwar dan Hanung Bramantyo sendiripun pernah juga mendapat lampu merah . 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2