Nurul Rahmawati
Nurul Rahmawati freelance content writer & blogger

www.bukanbocahbiasa.com

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Pilihan

Geluti Bisnis Pelancar ASI, karena Dulu Sempat Mengalami Susah Mengasihi Bayi

7 Desember 2018   05:45 Diperbarui: 7 Desember 2018   06:57 213 4 1
Geluti Bisnis Pelancar ASI, karena Dulu Sempat Mengalami Susah Mengasihi Bayi
dokpri

Li Partic

Owner ASI Booster Tea

Ketika seseorang berminat untuk berkiprah di ladang bisnis, pertanyaan yang paling hakiki adalah: Enaknya mau berbisnis apa ya?

Yak. Terkadang kita mengalami kebingungan tatkala akan memilih jenis bisnis/ usaha yang bakal ditekuni. Apakah kita betul-betul passionate dan punya ketertarikan kuat akan jenis usaha itu? Ataukah kita hanya sekedar ikut trend? Jangan-jangan, ketika trend itu sudah berakhir, maka bisnis kita juga ikut-ikut bubar jalan?

Kami bertandang ke workshop milik Li Partic yang berlokasi di daerah Sidoarjo, Jawa Timur. Ibu dua anak ini menggeluti bisnis teh suplemen pelancar ASI. Li berkisah, bahwa awalnya, ia berkiprah di bisnis suplemen ini, lantaran mengalami kesulitan dalam memberikan ASI bagi sang buah hati.

"Waktu anak pertama lahir, saya nyaris gagal memberikan ASI untuk dia. Karena waktu itu, ASI yang keluar sangat sedikit. Saya sudah coba minum beragam suplemen, baik yang direkomendasikan dokter, ataupun jamu-jamuan, termasuk beragam tips yaitu rajin menyusui bayi secara teratur, agar produksi ASI meningkat. Ternyata, meskipun semua itu sudah saya lakukan, tidak kunjung memberikan peningkatan signifikan pada produksi ASI," ujar Li membuka cerita.

Sampai suatu ketika, Li menjajal ramuan Madura dan Mediterania. Efek ramuan itu sungguh luar biasa, sehingga bisa menambah produksi ASI hanya dalam waktu beberapa jam.

"Menurut jurnal penelitian dan beragam literatur yang saya baca, bahan-bahan yang terkandung dalam ramuan Madura dan Mediterania bisa meningkatkan ASI hingga 900 persen, hanya dalam rentang waktu 24-72 jam saja. Karena saya sudah mencobanya, dan terbukti efektif meningkatkan kuantitas dan kualitas ASI, maka mengapa tidak saya mengajak Ibu-ibu lain untuk menjajal suplemen ini?" lanjutnya.

Berbekal wawasan yang ia dapatkan dari jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Brawijaya, Li pun memutuskan untuk serius menggarap bisnis suplemen ASI. Ia tidak mau, pengalaman sulitnya memberikan ASI terulang pada bunda-bunda lain. Mengusung brand ASI Booster Tea, Li gencar mengedukasi seputar khasiat teh pelancar ASI ini. "Teh ini rasanya tidak pahit. Karena kami tahu ibu-ibu yang sedang menyusui pasti nggak suka kalau harus minum jamu yang pahit."

Pada prinsipnya, bisnis ini diawali oleh semangat "menyelesaikan masalah social". Tidak sedikit kasus ibu-ibu yang mengalami kesulitan dalam memberikan ASI bagi sang buah hati. Setelah didera kebingungan, ketidaktahuan, serta resistensi mengonsumsi obat atau jamu tertentu, ibu-ibu ini tentu butuh solusi yang jitu. Muncullah Li Partic dan produk ASI Booster Tea, yang memang mengusung semangat sebagai solusi cespleng bagi ibu-ibu dengan problema ASI sedikit, mampet bin seret.

"Jangan sampai ibu-ibu ini berhenti berjuang memberikan ASI untuk sang buah hati. Karena kita juga kerap dijejali iklan-iklan susu formula yang demikian massif, sehingga banyak ibu yang berpikir, 'Ya sudahlah ASI-ku nggak keluar. Aku kasih susu formula saja lah buat bayiku, toh sama saja.' Padahal kita semua tahu bahwa ASI mengandung zat gizi luar biasa yang bermanfaat untuk buah hati, sekaligus meningkatkan bonding antara Ibu dan anak. Manfaat ASI ini tidak bisa digantikan oleh susu formula. Tantangannya adalah, kita cari, temukan, dan berikan suplemen yang enak sekaligus efektif melancarkan produksi ASI. Seluruh keluarga harus bareng-bareng memberikan support, jangan sampai istri pro-ASI, tapi suami kurang mendukung."

dokpri
dokpri
Untuk pengiriman ASI Booster ini, Li Partic mengandalkan JNE. Menurutnya, JNE sebagai perusahaan jasa kurir ekspres dan logistik sangat mendukung perkembangan UMKM hingga ke pelosok negeri. 

Ekspedisi JNE memenuhi Standard Operational Procedure yang baik, untuk pengiriman barang apa saja, termasuk ASI Booster. Seperti yang kita ketahui, saat ini, JNE memiliki 8 wilayah regional yaitu Sumatera, Jakarta, Bodetabekcil (Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Cilegon), Jabar, DIY-Jateng, JTBNN (Jawa Timur, Bali, NTT,NTB), Kalimantan, Sulampapua (Sulawesi, Ambon, Papua). Tentu kita bangga dan aptut mengapresiasi tim JNE  yang terus berkomitmen menghadirkan layanan bagi penggunanya.

Aktif di Dunia Menulis, Manfaatkan Dunia Digital untuk Mengedukasi Publik

Setiap harinya, Li Partic dan tim konsisten menerbitkan konten di berbagai media social, guna mengedukasi public terkait pentingnya ASI bagi bayi. Li juga beberapa kali menggandeng public figure, untuk menarik atensi dan animo public akan prduk suplemen ASI ini.

Bukan hanya gencar menulis tentang faedah ASI. Li juga kerap menuangkan buah pikirnya terkait kesehatan ibu dan anak, tentang healthy lifestyle dan lain-lain via blog personal. Sejumlah penerbit major beberapa kali juga mengangkat tulisan Li dalam format buku.

Buku kesehatan yang pernah ditulisnya terbit pada tahun 2014, berjudul Perisai Segala Penyakit terbitan Elex Media. Selain itu, ia juga menulis Jilbab Bukan Jilboob (Gramedia, 2014). Sebagai entrepreneur, ia juga diminta untuk menelurkan karya tentang bisnis. Tulisan terbarunya adalah tentang branding, yang diberi judul Komunikasi Penjualan Kreatif terbitan Sygma tahun 2016.

Kecintaan dan passion Li terhadap dunia kesehatan, membuat ia kerap didapuk sebagai narasumber dalam sejumlah forum seminar dan pelatihan kesehatan. Li juga aktif menjadi konselor ASI dan child birth educator. Wawasan yang amat luas, plus personality yang ramah, menjadikan Li sebagai tempat curhat dan belajar bagi ibu-ibu hamil dan menyusui secara privat.

Penghargaan bagi Sang Konselor ASI 

Berkat aktivitasnya di dunia bisnis sekaligus menebarkan manfaat bagi banyak orang, Li kerap menyabet sejumlah penghargaan. Di antaranya, Fuji Xerox Business Competition (2012), Wirausaha Muda Mandiri Regional Jawa Timur (2013), dan Anugerah Wirausaha Indonesia (2015).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2