Mas Uung
Mas Uung Pekerja Seni

Orang biasa yang setia pada proses. Tinggal di www.istimewacreative.com

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Artikel Utama

Menjadi Pegawai Negeri Sipil adalah Cita-cita Terendah?

12 Oktober 2017   10:18 Diperbarui: 13 Oktober 2017   03:59 9698 7 4
Menjadi Pegawai Negeri Sipil adalah Cita-cita Terendah?
Kompas.com/Kurnia Sari Aziza

Waktu saya masih kecil (SD-SMP-SMA), rata-rata pola pikir orang tua kita, apalagi di desa, menjadi pegawai negeri sipil adalah sebuah cita-cita yang paling menjanjikan, paling enak, dan menjadi dambaan setiap orang. Mengapa? Karena disamping pekerjaan tetap, gaji tetap, tidak perlu berlumuran tanah di sawah, atau angkat barang dagangan dan mendapatkan gaji pensiun. 

Menjelang lulus SMA, orang tua selalu mendorong saya untuk menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil). Tapi mungkin karena pergaulan, bacaan atau mungkin lingkungan pendidikan saya yang jauh dari orang tua, menjadikan pola pikir saya agak berbeda. Bercita-cita menjadi PNS sama sekali tidak menarik bagi saya. Mengapa? Karena menurut saya, menjadi PNS atau Pegawai secara umum bekerja dengan pola 'mesin'. Berangkat pagi, pulang sore, dan tiap hari seperti itu. Menjemukan. Seakan-akan tak ada wilayah kreativitas yang bisa kita tuangkan dalam pekerjaan. Saya lebih senang dengan pekerjaan yang penuh dengan tantangan. Bebas berkreatifitas, bisa menggaji diri sendiri, juga memberi rejeki (gaji) pada orang lain. Meskipun tantangannya berat. Karena ini menurut saya lebih membahagiakan. Memang semua itu membutuhkan proses yang panjang. 

foto: www.bolehkah.com
foto: www.bolehkah.com

Menjadi entrepreneur adalah menjadi pemimpin. Dan --kata Bapak saya--, seorang pemimpin itu harus bisa dipimpin. Otomatis ini membutuhkan proses menjadi bawahan dulu untuk menjadi seorang leader(pemimpin). Karena di situ kita belajar bagaimana mengelola orang lain dengan berbagai watak dan perilakunya. 

Kegigihan untuk menjadi seorang entrepreneur saya buktikan dengan magang kerja di sana-sini, dengan niat untuk menambah wawasan dan dunia wirausaha. Dan pada titik tertentu, ketika bekal ilmu dan pengalaman kerja cukup, saya berupaya untuk mandiri. Karena dengan kemandirian, kita tidak bergantung pada siapapun. 

Keberhasilan kita bergantung kerja kita sendiri, dan do'a tentunya. Tak ada kata menyerah dalam dunia enterpreneur. Bahkan penderitaan dan tantangan kita ubah menjadi 'nikmat' sebuah proses. Karena pola fikir seperti inilah yang menjadikan kekuatan yang dahsyat dalam mengarungi dunia kewirausahaan. Berbagai deraan dan tantangan selalu menghadang. Jika kita hadapi dengan tenang dan berfikir positif, InsyaAllahkita mampu menghadapinya.

Banyak sekali pelaku wirausaha mengalami tekanan yang luar biasa ketika terjadi hambatan usaha. Sedih dan kadang mengalami depresi. Terbukti ketika pasca gempa Yogyakarta, ribuan pengusaha, mulai mikro, kecil, menengah bahkan besar, mengalami tekanan yang begitu dahsyat. Rumah, toko, pabrik, workshop, hancur, dan aktifitas usaha berhenti. Tak ada pemasukan, kredit bank mandeg tak terbayar. Menyedihkan, memang. Dalam kondisi hambatan massal bencana semacam ini memang harus kita hadapi secara bersama. Namun menurut saya, mentalitas pribadi harus terbentuk dulu untuk menghadapi tantangan besar. 

Masih segar dalam ingatan saya, ketika banyak para pelaku wirausaha mengadu dan curhat di kantor Komite Percepatan Pemulihan Ekonomi pasca gempa Jogja, tidak jarang mereka tertekan dan bahkan melakukan hal-hal di luar logika; pergi ke dukun atau makam untuk meminta 'restu' dan rejeki. Menyedihkan. Seperti tidak punya pegangan saja. 

Dengan kondisi tersebut, mereka menginginkan anak-anaknya kelak menjadi pegawai negeri agar hidup terjamin, katanya. Tak terpengaruh oleh bencana alam. Karena menjadi wirausahawan sangat besar hambatannya. Itu pendapat mereka. Mereka yang sedang terpuruk oleh kondisi pasca bencana alam. 

Nah, untuk melawan pola pikir semacam itu, waktu itu saya katakan bahwa menjadi pegawai negeri adalah cita-cita terendah di antara berderet cita-cita yang lain. Ini dari perspektif entrepreneurship. Mengapa saya katakan begitu? Semata-mata untuk membangkitkan mental mereka untuk lebih tangguh menghadapi tantangan seberat apapun. Agar mereka yang terpuruk bisa bangkit dan memulai pekerjaannya dengan hati yang teguh dan sabar. 

Di sisi lain, etos kerja pegawai negeri sipil kadang kita jumpai masih jauh dari harapan. Mereka datang agak siang. Sampai di kantor baca koran, kemudian kerja sebentar, lalu keluar makan siang dan balik ke kantor ngobrol dengan temannya sebentar, lalu pulang. Itu dulu. Semoga sekarang berbeda. 

Menjadi pegawai negeri sipil sah-sah saja dan baik, jika diniati sebuah pengabdian pada masyarakat. Karena pada hakekatnya pegawai negeri sipil merupakan pelayan masyarakat. Jika semua PNS tertanam niat seperti ini, tentu pekerjaannya menjadi mulia dan membanggakan bagi masyarakat. Masyarakat yang berpegang pada niat entrepreneurpun akan senang. ***